Bismillah.

Alhamdulillah dengan taufik dari Allah semata kita bisa melanjutkan kembali seri pembahasan tafsir ayat-ayat seputar tauhid dan aqidah yang dibawakan oleh Syaikh Muhammad at-Tamimi rahimahullah dalam Kitab Tauhid.

Kini kita masuk pada bab yang baru yaitu bab ‘Takut terhadap syirik’.

Penulis rahimahullah membawakan firman Allah dalam surat an-Nisaa’ :

{إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ}

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik kepada-Nya dan masih mengampuni dosa-dosa di bawah tingkatan itu bagi siapa yang dikehendaki oleh-Nya.” (an-Nisaa’ : 48)

Ayat ini menunjukkan bahwa syirik merupakan dosa besar yang paling besar karena orang yang meninggal dalam keadaan berbuat syirik tidak akan diampuni dosanya. Dan hal itu tentu akan membuahkan rasa takut yang besar pada diri seorang hamba terhadap dosa yang begitu mengerikan ini (lihat keterangan Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah dalam al-Mulakhosh fi Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 43 cet. 1422 Darul ‘Ashimah)

Makna dan Bahaya Syirik

Syirik adalah memalingkan salah satu bentuk ibadah kepada selain Allah. Misalnya adalah dengan menyembelih untuk selain Allah, bernadzar untuk selain Allah, berdoa kepada selain Allah, beristighotsah (meminta keselamatan) dari selain Allah.

Hal itu sebagaimana yang dikerjakan oleh sebagian pemuja kubur pada masa kini di sisi kubur yang dikeramatkan. Dimana mereka memohon agar dipenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka kepada orang-orang yang sudah mati. Mereka memohon supaya bisa dilepaskan dari segala kesempitan dan kesusahan. Tawaf mengelilingi kuburan dan menyembelih berbagai bentuk sembelihan untuk dipersembahkan untuk mereka. Termasuk syirik juga adalah bernadzar kepada mereka.

Perbuatan semacam itu termasuk syirik akbar. Karena ia merupakan suatu bentuk pemalingan ibadah kepada selain Allah. Padahal Allah melarang menujukan ibadah kepada selain-Nya. Sebagaimana firman-Nya (yang artinya), “Dan janganlah mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apapun.” (al-Kahfi : 110)

Allah juga berfirman (yang artinya), “Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan dengan-Nya sesuatu apapun.” (an-Nisaa’ : 36). Allah juga menegaskan (yang artinya), “Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan untuk-Nya agama/amalan dengan hanif…” (al-Bayyinah : 5)

Ayat-ayat yang menjelaskan hal ini banyak. Syirik akbar semacam ini menyebabkan pelakunya keluar dari Islam dan pelakunya akan berada kekal di dalam neraka Jahannam apabila dia mati dalam keadaan tidak bertaubat darinya. Sebagaimana telah ditegaskan dalam ayat (yang artinya), “Sesungguhnya barangsiapa mempersekutukan Allah maka benar-benar Allah haramkan atasnya surga dan tempat tinggalnya adalah neraka.” (al-Ma’idah : 72)

Dosa syirik akbar ini tidak diampuni oleh Allah. Sebagaimana Allah tegaskan dalam ayat (yang artinya), “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik kepada-Nya, dan masih mengampuni dosa-dosa di bawahnya bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (an-Nisaa’ : 116)

Referensi : Majmu’ Fatawa Fadhilati Syaikh Shalih ibn Fauzan al-Fauzan, 1/15-16

Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com

Silakan baca seri sebelumnya di sini [klik]


Redaksi

Redaksi al-mubarok.com dikelola oleh relawan dan pegiat dakwah Masjid Jami' al-Mubarok (MJM) YAPADI Yogyakarta

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *