Bismillah.

Salah satu nikmat agung yang sering dilupakan adalah nikmat hidayah. Hidayah mengenal Islam, hidayah memahami iman dan hidayah mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Jika kita katakan hidayah itu berharga mungkin itu lebih indah daripada kita katakan hidayah itu mahal. Terlalu berharganya hidayah itu sampai-sampai banyak orang yang menganggap bahwa hidayah itu berada di tangannya. Padahal sejatinya hidayah taufik itu milik Allah semata.

Kisah Abu Thalib yang meninggal di atas agama nenek-moyangnya sudah sering kta dengar. Bisa jadi kita beranggapan bahwa hal semacam itu tidak akan menimpa diri kita. Seolah kita merasa aman dan berani menjamin bahwa hidayah sudah pasti kita rengkuh hingga ajal tiba.

Kisah Abdullah putra gembong munafikin di Madinah kala itu juga mungkin pernah kita dengar. Seorang anak yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, sementara bapaknya adalah orang yang sangat membenci Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hidayah itu milik Allah. Ia bukan milik anda atau orang tua anda. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tidak bisa memberikan hidayah taufik itu kepada pamannya sendiri.

Sebagian orang mungkin merasa bahwa selama ini dia sudah berjuang untuk agama, sudah melakukan banyak hal demi membela agama dan mempelajarinya. Dia anggap bahwa itu merupakan bentuk jasanya kepada Allah dan Islam. Padahal sama-sekali mereka tidak memberikan jasa apa pun kepada Allah dan agama-Nya, justru Allah lah yang berjasa kepada mereka karena memberikan hidayah dan pertolongan-Nya.

Banyak orang yang beranggapan bahwa ukuran kecintaan Allah kepada manusia adalah seberapa besar dunia dan kemewahan yang dia miliki. Dia menyangka bahwa jika Allah takdirkan rezekinya sempit lantas itu menjadi bukti bahwa Allah merendahkan dan menghinakannya. Tidak terasa dunia dan hawa nafsu telah menjajah hati dan pikirannya selama ini. Sesungguhnya bukan mata fisik yang buta, akan tetapi yang buta adalah sesuatu yang ada di dalam dadanya.

Kita orang menganggap bahwa rezeki dan harta adalah standar kemuliaan maka dia pun rela menaklukkan segala bentuk amal dan ibadah untuk meraihnya. Dia lupa bahwa hidayah taufik dan iman merupakan bentuk rezeki paling indah yang dibutuhkan oleh manusia di hari akhirat. Sebab di akhirat kekayaan duniawi sebesar apapun tidak bisa menebus azab neraka bagi orang kafir dan musyrik.

Berbicara tentang hidayah adalah membahas sesuatu yang jelas akan menyinggung dan meresahkan banyak pihak yang merasa bahwa ambisi dan kepentingan dunia mereka akan terganggu dan tersingkir. Lihatlah Abu Jahal dan Abu Lahab yang dengan garang memusuhi dai pembawa hidayah bagi manusia; yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Bagi mereka kedudukan dan harta adalah tujuan utama hidup sementara hidayah yang ditawarkan oleh nabi adalah malapetaka bagi masa depan dunia mereka.

Masing-masing akan melihat dan menilai dengan sudut pandang dan keyakinan hidupnya. Orang kafir mengira bahwa kelak mereka tidak akan dibangkitkan, maka mereka pun berfoya-foya menumpuk harta dan kemewahan tanpa kenal aturan agama. Orang munafik pun mengira bahwa apa yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya hanyalah tipuan dan fatamorgana. Adapun kaum mukmin akan terus membenarkan Allah dan Rasul-Nya. Mereka yakin bahwa apa yang dijanjikan Allah adalah benar adanya.

Sebenarnya hidayah itu tidak bisa kita sepelekan. Jangan kita kira bahwa dengan sekian lama membaca buku, sekian tahun mondok di pesantren atau sekian banyak guru yang didatangi kemudian menjadi jaminan seratus persen bahwa hidayah itu pasti bisa kita pertahankan di saat nyawa sudah berada di tenggorokan. Sehingga kita selalu memandang orang lain rendah dan hina hanya karena mereka tampak belum mengikuti hidayah; sekedar dengan melihat tampilan luar dan atributnya.

Hidayah itu adalah kebutuhan hidup kita. Kita minta hidayah kepada Allah setiap hari tidak kurang dari 17 kali. Persoalan hidup dan kendala iman akan terus datang dan silih-berganti. Tidak ada yang bisa menjamin bahwa sore nanti iman anda masih tertancap kuat, atau malah justru iman itu tergadai oleh serpihan nikmat dunia yang kita anggap sebagai standar kemuliaan dan kesuksesan. Anda mengira sudah berada di pihak yang benar dengan memuja hawa nafsu dan menjauhi para pembela tauhid dan keimanan.

Ketika anda menganggap bahwa doa kepada Allah adalah simbol kemuliaan hamba, maka anda akan mengerti bahwa doa memohon hidayah kepada Allah adalah doa yang paling indah dalam hidup ini. Anda bukan yang paling tahu dan paling paham tentang masalah dan solusinya. Anda adalah hamba yang fakir dan tidak tahu apa-apa. Allah Yang Maha Kaya lagi Maha Mengetahui segalanya. Berhentilah mengira bahwa semua masalah akan hilang dengan berjalannya waktu. Karena akar masalah itu ternyata ada di dalam dada kita. Kita malas untuk mencabutnya. Kita enggan untuk mendengar nasihat dan bimbingan. Kita pongah dengan kehebatan palsu yang kita ciptakan.

Hidayah ini terlalu indah dan terlalu berharga untuk kita campakkan. Lihatlah bagaimana perjuangan Bilal ketika dipaksa untuk kembali kepada kekafiran tetapi dia istiqomah membela aqidah tauhid. Lihatlah ketegaran Yasir dan Sumayyah membela iman hingga akhir hayatnya. Lihatlah kebesaran jiwa Abu Bakar ketika memaafkan kerabatnya yang telah menebarkan fitnah keji terhadap putrinya; tidak lain karena beliau lebih memilih keutamaan di sisi Allah dan ampunan-Nya. Hidayah jauh lebih mulia untuk kita bela daripada ego dan pangkat jendral di dunia.

Mengenal Allah bukanlah berarti anda hanya bersyukur ketika mendapatkan luasnya rezeki. tetapi mengenal Allah itu juga menuntut kesabaran ketika musibah dan sempitnya rezeki meghampiri. Mengenal Allah bukan bermakna bahwa andalah yang harus menjadi juru bicara dan tokoh yang dieluk-elukkan oleh manusia. Sebab bisa jadi mengenal Allah itu adalah ketika anda bisa menyadari kesalahan dan bertaubat darinya.

Hidayah dari Allah memang sesuatu yang tidak bisa kita simpan di dalam mesin ATM atau brangkas dengan kode rahasia. Hidayah dari Allah juga bukan seperti pulsa listrik yang bisa kita beli sebanyak apa pun yang kita suka. Hidayah dari Allah bukan seperti es teh jumbo yang akan menyegarkan dahaga peminumnya. Sebab bisa jadi hidayah Allah itu seperti jamu pahit yang akan mengobati penyakit dan racun yang sudah bersarang dalam raga kita sekian lama. Apakah kita akan tetap bertahan dengan penyakit atau ingin mengobatinya?

Ya, boleh jadi anda harus bersimpuh dan merengek di hadapan Allah. Sebab memang hanya Allah yang menguasai hidayah dan kebaikan untuk kita. Allah beri petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Allah akan menetapkan sesat bagi siapa pun yang dikehendaki-Nya. Dan Allah sama sekali tidak berbuat zalim kepada hamba.

Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com


Redaksi

Redaksi al-mubarok.com dikelola oleh relawan dan pegiat dakwah Masjid Jami' al-Mubarok (MJM) YAPADI Yogyakarta

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *