Bismillah.

Alhamdulillah yang hanya dengan nikmat dan pertolongan-Nya kita bisa kembali dipertemukan untuk melanjutkan seri pembahasan tafsir dari ayat-ayat seputar tauhid yang dibawakan oleh Syaikh Muhammad at-Tamimi rahimahullah dalam sebuah kitabnya yang sangat bermanfaat; Kitab Tauhid…

Pada pertemuan sebelumnya kita telah membahas bab beristi’adzah kepada selain Allah. Pada kesempatan ini kita lanjutkan pada bab yang baru tentang berdoa kepada selain Allah dan beristighotsah kepada selain Allah.

Penulis rahimahullah membawakan firman Allah :

وَلا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لا يَنْفَعُكَ وَلا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذاً مِنَ الظَّالِمِينَ وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلا كَاشِفَ لَهُ إِلاَّ هُوَ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلا رَادَّ لِفَضْلِهِ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Dan janganlah kamu menyeru kepada selain Allah; sesuatu yang jelas tidak mendatangkan manfaat dan madharat kepadamu. Apabila kamu tetap melakukannya maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang zalim. Dan apabila menimpa suatu bahaya kepadamu maka tidak ada yang bisa menyingkapnya kecuali Dia, dan jika Allah menghendaki kebaikan bagimu maka tiada yang sanggup untuk menolak keutamaan dari-Nya. Allah berikan hal itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dari para hamba, dan Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Yunus : 106-107)

Kaum muslimin yang dirahmati Allah, para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud istighotsah adalah meminta keselamatan; yaitu untuk dihilangkan kesulitan dan kesempitan yang dialami. Sehingga istighotsah adalah doa yang dipanjatkan oleh orang yang sedang dalam kesusahan atau terkena musibah berat. Adapun doa memiliki cakupan yang lebih luas; bisa dilakukan pada saat susah maupun tidak. Meminta suatu hal yang memberikan manfaat atau menolak suatu bahaya bagi orang yang berdoa dinamakan dengan istilah ‘doa mas’alah’ atau doa permohonan. Ada juga istilah doa ibadah; yaitu beribadah kepada Allah dengan berbagai jenis ibadat/ritual semacam sholat, zakat, sembelihan yang disertai perasaan takut dan harap meskipun dalam perbuatan itu tidak terkandung ungkapan permintaan dan permohonan (lihat Ibthal at-Tandid, hal. 84)

Kaitan ayat ini dengan tauhid adalah bahwa di dalamnya terkandung larangan berdoa kepada selain Allah, dan bahwasanya hal itu termasuk perbuatan syirik yang merusak tauhid (lihat al-Mulakhkhash fi Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 113 karya Syaikh Shalih al-Fauzan)

Adapun berdoa dalam artian meminta bantuan kepada orang lain yang hidup dan mampu memberikan bantuan -yaitu dalam urusan yang bukan kekhususan Allah- maka hal itu diperbolehkan. Hal itu bukan termasuk dalam bab larangan berdoa atau istighotsah kepada selain Allah (lihat keterangan Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah dalam Syarh Kitab Tauhid di website rersmi beliau [buka])

Ayat di atas juga memberikan pelajaran bahwa orang yang berbuat syirik dengan berdoa kepada selain Allah itu pada hakikatnya membahayakan dan menganiaya dirinya sendiri; karena dia telah meletakkan ibadah kepada sesuatu yang tidak berhak menerimanya (lihat keterangan Imam al-Baghawi dalam tafsirnya [buka])

Ayat ini juga menunjukkan bahwa hanya Allah yang bisa menyingkap dan menghilangkan terpaan musibah dan marabahaya secara hakiki. Tidak ada yang bisa mengangkat bencana dan malapetaka kecuali Dia. Adapun seandainya makhluk atau manusia bisa menyingkap/mengangkat suatu marabahaya maka hal itu hanya sebagai sebab perantara saja, karena yang memberikan kemampuan itu padanya adalah Allah (lihat keterangan Syaikh Shalih alu Syaikh dalam at-Tamhid li Syarh Kitab at-Tauhid [buka])

Ayat ini juga mengandung pelajaran penting bahwa ibadah tidak boleh ditujukan kepada sesuatu yang tidak menguasai manfaat dan madharat. Sementara tidak ada yang menguasai manfaat dan madharat selain Allah. Oleh sebab itu pula perbuatan berdoa kepada selain Allah termasuk dalam bentuk kesyirikan yang akan menghapuskan segala amal kebaikan yang pernah dilakukan (lihat Ibthal at-Tandid, hal. 85)

Ayat ini juga memberikan faidah bahwa berdoa kepada selain Allah termasuk syirik akbar walaupun hal itu dilakukan oleh orang yang paling soleh sekalipun. Selain itu ia juga menunjukkan batilnya ibadah kepada selain Allah dan begitu lemahnya sesembahan kaum musyrikin (lihat al-Mulakhkhash fi Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 114)

Demikian sedikit faidah yang bisa kami sajikan dalam kesempatan ini, semoga bermanfaat bagi kita semuanya.

Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com

Silakan baca seri tulisan sebelumnya dari sini [buka]


Redaksi

Redaksi al-mubarok.com dikelola oleh relawan dan pegiat dakwah Masjid Jami' al-Mubarok (MJM) YAPADI Yogyakarta

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *