Bismillah.
Dalam sebuah hadits dari Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu’anhu diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إنَّ اللَّهَ وملائِكتَهُ وأَهلَ السَّماواتِ والأرضِ حتَّى النَّملةَ في جُحرِها وحتَّى الحوتَ ليصلُّونَ على معلِّمِ النَّاسِ الخيرَ
“Sesungguhnya Allah, para malaikat-Nya dan segenap penduduk langit dan bumi bahkan sampai semut di dalam lubangnya bahkan ikan pun ikut bersolawat/mendoakan kebaikan bagi orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” (HR. Tirmidzi dan lain-lain, dinyatakan sahih oleh al-Albani)
Hadits yang agung ini mengandung banyak pelajaran berharga bagi kita.
Diantaranya adalah bahwa mengajarkan kebaikan kepada manusia termasuk amal salih yang sangat besar pahalanya. Tercakup di dalamnya adalah mengajarkan ilmu tauhid; sebab inilah pondasi dalam agama yang menentukan diterima atau tidaknya amalan hamba. Sebab tanpa tauhid amalan sebesar apapun akan dtertolak di hadapan Allah. Allah berfirman (yang artinya), “Dan seandainya mereka itu berbuat syirik pasti lenyaplah semua amal yang dahulu pernah mereka kerjakan.” (al-An’am : 88)
Hadits di atas juga menunjukkan kepada kita bahwa kebaikan yang ditumbuhkan oleh ilmu agama akan memberikan dampak positif bagi alam semesta. Oleh sebab itu Allah memuji orang yang mengajarkannya, para malaikat pun mendoakan rahmat bagi mereka begitu pula para penduduk langit dan bumi. Dari sinilah semestinya kita semakin bersemangat dalam belajar agama di tengah berbagai kesibukan dan aktifitas kita masing-masing. Sebab ilmu agama inilah yang akan memandu perjalanan hidup kita menuju akhirat.
Keutamaan mengajarkan ilmu di atas bersifat umum tidak terbatas pada suatu tempat atau waktu dan keadaan. Seorang bisa mengajarkan ilmu agama dan kebaikan di mana pun dan kapan pun; dalam keadaan senang maupun susah. Bahkan para ulama menyebut bahwa mengajarkan ilmu agama termasuk bentuk sedekah yang paling utama. Sementara diantara ciri orang yang bertakwa itu adalah berinfak baik dalam keadaan senang maupun susah/sempit. Apalagi dengan adanya kemajuan teknologi dan media sosial di masa kini, sesungguhnya mendakwahkan kebaikan dan mengajarkan ilmu agama dapat dilakukan dengan berbagai sarana yang tersedia.
Hadits yang mulia ini juga senada dengan hadits sahih yang lain dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu’anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya niscaya Allah pahamkan dia dalam ilmu agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kebaikan di dunia dan di akhirat dibangun dengan landasan ilmu dan pemahaman. Oleh sebab itulah Allah mengangkat kedudukan orang-orang beriman yang berilmu berderajat-derajat; sehingga kedudukan ilmu lebih utama daripada sekedar ibadah. Tanpa ilmu yang benar maka ibadah tidak akan lurus. Sebagian salaf berkata, “Barangsiapa beribadah kepada Allah tanpa ilmu maka apa-apa yang dia rusak jauh lebih banyak daripada apa-apa yang dia perbaiki.” Ulama salaf juga menegaskan bahwa ilmu lebih diutamakan di atas amalan yang lain karena dengan ilmu itulah akan bisa diwujudkan ketakwaan kepada Allah dengan benar. Oleh sebab itu di dalam al-Qur’an disebutkan bahwa Allah hanya akan menerima amalan dari orang yang bertakwa.
Dalam hadits yang lain dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
فضل العلم أحبُّ إليَّ من فضل العبادة، وخير دينكم الورع
“Keutamaan ilmu lebih aku cintai daripada keutamaan ibadah, dan sebaik-baik agama/amalan kalian adalah wara’/kehati-hatian.” (HR. al-Hakim dalam al-Mustadrak, dinyatakan sahih oleh al-Albani)
Dari sini lah kita bisa memahami bahwa di dalam Islam semangat beramal harus disertai semangat belajar dan menimba ilmu. Amal adalah buah dari ilmu, bagaimana mungkin seorang berharap tumbuhnya buah jika tidak menanam benih pohonnya? Sehingga tidak benar pendapat sebagian kalangan yang menganggap bahwa menimba ilmu itu kurang penting dan yang terpenting adalah amalnya. Beramal itu penting, dan menimba ilmu juga penting; sebab ilmu itulah yang melandasi amalan. Bagaimana mungkin anda menegakkan bangunan tanpa pondasinya?
Saudaraku yang dirahmati Allah, membangun kejayaan Islam adalah sebuah proyek besar yang tidak bisa dibangun di atas semangat dan perasaan belaka. Lihatlah para ulama terdahulu yang membangun peradaban dengan ilmu dan dakwah, sebelum mereka mengayunkan pedang di medan jihad fi sabilillah…
Sungguh menakjubkan perkataan salah seorang salaf, “Barangsiapa yang berpandangan bahwa berangkat menimba ilmu agama di awal siang atau di akhir siang bukan termasuk jihad maka sungguh akal dan pikirannya sudah berkurang/tidak beres.” (lihat nukilan ini dalam kitab al-‘Ilmu, Fadhluhu wa Syarafuhu yang disarikan dari karya Ibnul Qayyim Miftah Daris Sa’adah)
Semoga Allah berikan taufik kepada kita untuk istiqomah dalam menimba ilmu dan mengamalkannya.
Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com
0 Komentar