Bismillah.
Salah satu kemudahan yang diberikan oleh Allah kepada kita dalam belajar Islam adalah bahwa Allah telah menciptakan manusia dalam keadaan membawa fitrahnya untuk mengakui Allah sebagai pencipta dan pengatur alam semesta ini. Inilah yang disebut oleh para ulama dengan istilah tauhid rububiyah.
Secara ringkas, tauhid rububiyah bisa didefinisikan dengan mengesakan Allah dalam hal penciptaan, kekuasaan, dan pengaturan. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Apakah ada pencipta selain Allah yang memberikan rizki kepada kalian dari langit dan bumi?” (Fathir: 3). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan milik Allah lah kekuasaan atas langit dan bumi.” (Ali ‘Imran: 189).
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah: Siapakah yang memberikan rizki kepada kalian dari langit dan bumi, atau siapakah yang menguasai pendengaran dan penglihatan, siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati, siapakah yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan. Niscaya mereka akan menjawab, Allah. Maka katakanlah, Lalu mengapa kalian tidak bertakwa.”(Yunus: 31) (lihat al-Qaul al-Mufid ‘ala Kitab at-Tauhid [1/5-6], Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah hal. 34 keduanya karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah)
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan sungguh, jika engkau (Muhammad) tanyakan kepada mereka siapakah yang menciptakan langit dan bumi? Tentu mereka akan menjawab, ‘Yang menciptakannya adalah Dzat Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui’.”(az-Zukhruf: 9)
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka siapakah yang menciptakan diri mereka, niscaya mereka menjawab: Allah. Lalu dari mana mereka bisa dipalingkan (dari menyembah Allah).” (az-Zukhruf: 87).
Imam Ibnu Abil ‘Izz al-Hanafi rahimahullah berkata, “Sesungguhnya orang-orang musyrik arab dahulu telah mengakui tauhid rububiyah. Mereka pun mengakui bahwa pencipta langit dan bumi ini hanya satu.” (lihat Syarh al-‘Aqidah ath-Thahawiyah, hal. 81, lihat juga Fath al-Majid, hal. 16, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim [6/201] [7/167])
Mentauhidkan Allah dalam hal rububiyah maksudnya adalah meyakini bahwa Allah itu esa dalam hal perbuatan-perbuatan-Nya seperti mencipta, memberikan rizki, menghidupkan, mematikan, dan mengatur segala urusan di alam semesta ini. Tidak ada sekutu bagi Allah dalam perkara-perkara ini (lihat Kutub wa Rasa’il Abdil Muhsin, 3/28)
Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah mengatakan, “Jenis tauhid ini (tauhid rububiyah), orang yang mengakui/meyakini hal ini semata maka belum bisa memasukkan dirinya ke dalam Islam. Karena perkara ini pun telah diakui oleh orang-orang kafir. Hal ini sebagaimana telah disebutkan Allah jalla wa ‘ala dalam al-Qur’an pada banyak ayat.” (lihat I’anatul Mustafid Bi Syarhi Kitabit Tauhid, 1/25)
Iman terhadap rububiyah Allah belumlah cukup untuk memasukkan seorang hamba ke dalam Islam. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah kebanyakan mereka beriman kepada Allah, melainkan mereka juga terjerumus dalam kemusyrikan.” (Yusuf: 107). Ikrimah berkata, “Tidaklah kebanyakan mereka -orang-orang musyrik- beriman kepada Allah kecuali dalam keadaan berbuat syirik. Apabila kamu tanyakan kepada mereka siapakah yang menciptakan langit dan bumi? Maka mereka akan menjawab, ‘Allah’. Itulah keimanan mereka, namun di saat yang sama mereka juga beribadah kepada selain-Nya.” (lihat Fath al-Bari [13/556])
Secara logika, ada tiga kemungkinan teori terjadinya alam semesta:
- Ia terjadi begitu saja secara tiba-tiba, tanpa ada pencipta
- Ia menciptakan dirinya sendiri
- Ia ada karena diciptakan
Kemungkinan pertama dan kedua jelas tertolak. Karena sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba tidak bisa tertata rapi dan teratur pada asal pembentukannya, maka lebih tidak mungkin lagi ia tertata dengan baik dalam perkembangannya. Dan mustahil ia menciptakan dirinya sendiri. Karena sebelum ada, alam semesta ini tidak ada. Bagaimana mungkin sesuatu yang tidak ada bisa mencipta? Ada saja tidak! Oleh sebab itu hanya kemungkinan ketiga yang tersisa, yaitu alam ini ada karena diciptakan. Adapun penciptanya tidak lain adalah Allah ta’ala. Allah ta’ala telah mengisyaratkan tiga kemungkinan ini dalam firman-Nya (yang artinya), “Apakah mereka itu tercipta tanpa ada sesuatu apapun sebelumnya, ataukah mereka sendiri yang menciptakan?” (ath-Thur: 35). Maka sangatlah wajar jika seorang arab yang mau menggunakan akalnya seperti Jubair bin Muth’im pun seketika tertarik kepada Islam setelah mendengar dibacakannya ayat ini (lihat Syarh Tsalatsah al-Ushul karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, hal. 17-18 cet. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, lihat juga Fath al-Bari karya al-Hafizh Ibnu Hajar [8/708] cet. Dar al-Hadits)
Seandainya tauhid rububiyah itu sudah cukup niscaya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak perlu memerangi orang-orang kafir di masa itu. Bahkan itu juga berarti tidak ada kebutuhan untuk diutusnya para rasul. Maka ini menunjukkan bahwa sesungguhnya yang paling dituntut dan paling pokok adalah tauhid uluhiyah. Adapun tauhid rububiyah maka itu adalah dalil atau landasan untuknya (lihat at-Ta’liqat al-Mukhtasharah ‘alal ‘Aqidah ath-Thahawiyah, hal. 30)
Tauhid uluhiyah -disebut juga tauhid dalam hal keinginan dan tuntutan- adalah mengesakan Allah dalam segala bentuk ibadah. Memurnikan ibadah-ibadah itu untuk Allah semata secara lahir dan batin (lihat It-hafu Dzawil ‘Uqul ar-Rasyidah, hal. 53)
Tauhid uluhiyah ini juga disebut dengan istilah tauhid fi’li (tauhid dalam hal perbuatan) disebabkan ia mencakup perbuatan hati dan anggota badan. Maka, tauhid uluhiyah itu adalah mengesakan Allah dalam hal perbuatan-perbuatan hamba (lihat It-hafu Dzawil ‘Uqul ar-Rasyidah, hal. 54)
Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah menerangkan, bahwa uluhiyah maknanya adalah beribadah kepada Allah dengan mencintai-Nya, takut dan berharap kepada-Nya, menaati perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Oleh sebab itu tauhid uluhiyah artinya mengesakan Allah dengan perbuatan-perbuatan hamba yang telah disyari’atkan oleh-Nya bagi mereka (lihat at-Ta’liqat al-Mukhtasharah ‘alal ‘Aqidah ath-Thahawiyah, hal. 28-29)
Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com
0 Komentar