Bismillah.
Alhamdulillah pada kesempatan ini kita kembali dipertemukan untuk melanjutkan seri pembahasan tafsir ayat-ayat tentang tauhid yang disebutkan oleh Syaikh Muhammad at-Tamimi rahimahullah dalam Kitab at-Tauhid.
Masih dalam bab berkenaan dengan penggunaan gelang atau kalung dan semacamnya untuk menolak bala atau menyingkirkannya. Penulis rahimahullah menyebutkan firman Allah :
وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلاَّ وَهُمْ مُشْرِكُونَ
“Dan tidaklah kebanyakan mereka itu beriman kepada Allah kecuali dalam keadaan mereka berbuat syirik.” (Yusuf : 106)
Para ulama menjelaskan bahwa kaum musyrikin telah mengakui bahwa Allah sebagai satu-satunya pencipta dan pemberi rezeki, meskipun demikian mereka juga menujukan ibadahnya kepada selain Allah. Mereka mengimani tauhid rububiyah tetapi berbuat syirik kepada Allah dalam hal uluhiyah atau ibadah. Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa semata-mata keimanan atau tauhid dalam hal rububiyah itu belum cukup.
Diantara bentuk syirik adalah dengan menggunakan gelang atau kalung dan semacamnya dengan tujuan untuk menolak bala atau menyingkirkan suatu musibah/penyakit. Ia termasuk dalam kategori syirik karena pelakunya telah menetapkan sebab yang tidak ditetapkan oleh syariat sebagai sebab. Selain itu di dalamnya juga terkandung ketergantungan hati kepada selain Allah; dan itu termasuk jenis syirik ashghar.
Walaupun ayat di atas turun berkenaan dengan kondisi kaum musyrik yang berbuat syirik akbar tetapi kandungannya bersifat umum yaitu bisa juga dipakai untuk membantah jenis-jenis perbuatan syirik ashghar. Hal itu menjadi sebuah metode pendalilan yang dimaklumi dan diakui oleh para ulama.
Dari Ashim bin Abin Najud, dari Urwah, dia berkata :
دخل حذيفة على مريض ، فرأى في عضده سيرا فقطعه – أو انتزعه – ثم قال : ( وما يؤمن أكثرهم بالله إلا وهم مشركون )
“Suatu ketika Hudzaifah masuk menemui seorang yang sakit. Dia melihat di lengannya ada sejenis gelang yang diikatkan (untuk menolak bala atau menyembuhkan penyakit, pent), maka dia pun memutuskan atau mencabutnya. Kemudian dia membaca firman Allah (yang artinya), “Dan tidaklah kebanyakan mereka itu beriman kepada Allah kecuali dalam keadaan mereka berbuat syirik.” (riwayat ini disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam Tafsirnya [klik])
Syaikh Sulaiman bin Abdullah rahimahullah berkata :
ففيه صحة الاستدلال بما نزل في الأكبر على الأصغر
“Maka di dalamnya -yaitu riwayat yang dibawakan oleh penulis berkenaan dengan ayat di atas- terdapat bukti kebenaran pendalilan dengan ayat-ayat yang turun berkenaan dengan syirik akbar untuk membantah syirik ashghar…” (lihat Taisir al-‘Aziz al-Hamid fi Syarh Kitab at-Tauhid [klik])
Termasuk dalam cakupan ayat di atas adalah keadaan orang-orang musyrik -di masa lalu- yang lupa kepada Allah dan berdoa kepada selain Allah pada saat lapang/tidak terkena musibah atau bencana. Baru ketika dilanda bencana atau kesulitan mereka pun berdoa kepada Allah semata. Demikian tafsiran dari ‘Atho sebagaimana dinukil oleh Imam al-Qurthubi rahimahullah dalam tafsirnya (lihat Tafsir al-Qurthubi [klik])
Dari sini kita juga bisa mengambil pelajaran bahwasanya syirik kepada Allah bisa terjadi dalam urusan rububiyah atau bisa juga dalam hal uluhiyah atau ibadah. Ada syirik yang besar sehingga mengeluarkan dari Islam dan ada pula syirik yang lebih kecil yang tidak sampai mengeluarkan dari agama. Di sisi lain, kita tidak boleh meremehkan syirik kecil karena tingkatan dosa syirik itu lebih tinggi daripada dosa-dosa besar.
Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com
Silakan baca seri sebelumnya di sini [klik]
0 Komentar