Bismillah.

Alhamdulillah dalam kesempatan ini kita diberikan kemudahan untuk melanjutkan kembali seri tafsir ayat-ayat tauhid dari Kitab Tauhid yang ditulis oleh Syaikh Muhammad at-Tamimi rahimahullah.

Kita masuk pada bab yang baru yaitu tafsir tauhid dan syahadat laa ilaha illallah.

Penulis rahimahullah membawakan firman Allah :

أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُوراً

“Orang-orang yang diseru selain Allah itu justru mencari wasilah/jalan kepada Rabb mereka; siapakah diantara mereka yang lebih dekat dengan Allah dan mereka pun mengharap akan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya. Sesungguhnya azab Rabbmu benar-benar sesuatu yang harus diwaspadai.” (al-Israa’ : 57)

Diantara tafsiran ayat ini adalah bahwa dahulu ada sekelompok manusia beribadah kepada sekelompok jin, kemudian jin-jin itu masuk Islam, sementara orang-orang yang beribadah kepada mereka tidak menyadari bahwa jin yang mereka sembah telah masuk Islam maka diturunkanlah ayat ini, demikian tafsiran Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu, sebagaimana dinukil oleh Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah dalam tafsirnya [klik].

Qatadah rahimahullah mengatakan :

كان أناس من أهل الجاهلية يعبدون نفرا من الجنّ؛ فلما بعث النبيّ صلى الله عليه وسلم أسلموا جميعا، فكانوا يبتغون أيهم أقرب.

“Dahulu ada orang-orang dari kaum jahiliyah yang menyembah kepada sekelompok jin. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah diutus menjadi rasul mereka pun masuk Islam semua. Mereka mencari jalan agar bisa lebih mendekatkan dirinya kepada Allah; siapa diantara mereka yang lebih dekat dengan-Nya.” (lihat Tafsir ath-Thabari)

Sementara Abdullah bin Abbas radhiyallahu’anhuma menafsirkan bahwa yang dimaksud sebagai sesembahan yang diseru oleh orang-orang musyrik itu adalah Nabi Isa, ibunya yaitu Maryam dan ‘Uzair. Ini semuanya menjadi penjelasan tentang hakikat tauhid; bahwa tauhid adalah meninggalkan praktek yang biasa dilakukan oleh kaum musyrik berupa penyembahan kepada malaikat, nabi, wali atau pun orang salih (lihat Ibthal at-Tandid, hal. 48)

Hal ini sekaligus menjadi bantahan bagi sebagian orang yang beranggapan bahwa tauhid itu cukup dengan mengakui keesaan Allah dalam hal rububiyah-Nya; seperti keyakinan bahwa Allah sebagai satu-satunya pencipta dan penguasa alam semesta. Padahal, sesungguhnya hakikat tauhid adalah mengesakan Allah dalam hal ibadah dan membersihkan diri dari syirik (lihat al-Mulakhash fi Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 61)

Adapun istilah wasilah/perantara yang dimaksud dalam ayat ini adalah sesuatu yang dilakukan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sehingga makna mereka bertawassul atau mengambil perantara/wasilah menuju Allah adalah melakukan amal salih yang mendekatkan diri kepada-Nya (lihat al-Mulakhash, hal. 62)

Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com

Silakan baca seri sebelumnya di sini [klik]


Redaksi

Redaksi al-mubarok.com dikelola oleh relawan dan pegiat dakwah Masjid Jami' al-Mubarok (MJM) YAPADI Yogyakarta

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *