Bismillah.
Alhamdulillah dengan taufik dari Allah semata, kita dapat melanjutkan seri pembahasan tafsir ayat-ayat seputar tauhid yang dibawakan oleh Syaikh Muhammad at-Tamimi rahimahullah dalam Kitab Tauhid.
Selanjutnya, kita memasuki bab ‘seruan kepada syahadat laa ilaaha illallah’. Bab ini berisi keutamaan dan kewajiban untuk mendakwahkan tauhid kepada segenap manusia…
Penulis rahimahullah membawakan firman Allah :
قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
“Katakanlah; Inilah jalanku, aku menyeru menuju Allah di atas bashirah/ilmu; inilah jalanku dan jalan orang-orang yang mengikutiku, dan Maha suci Allah, aku bukan termasuk golongan orang-orang musyrik.” (Yusuf : 108)
Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa yang dimaksud ‘dakwah menuju Allah’ di dalam ayat ini adalah mengajak menuju syahadat laa ilaha illallah; yaitu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta pengikutnya berdakwah mengajak kepada hal itu dengan berlandasakan ilmu, bukti dan keyakinan yang terbukti dengan syar’i dan ‘aqli/berdasarkan akal sehat (lihat Tafsir Ibnu Katsir [klik])
Imam al-Baghawi rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan ‘bashirah/ilmu’ yang disebut dalam ayat di atas adalah pengetahuan yang dapat membedakan antara kebenaran dengan kebatilan (lihat Tafsir al-Baghawi [klik])
Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan, bahwa yang dimaksud dakwah menuju Allah adalah berdakwah menuju tauhid dan ketaatan kepada Allah serta ittiba’/mengikuti ajaran syari’at-Nya sebagaimana yang diserukan oleh para rasul. Karena semua rasul diutus untuk mendakwahkan tauhid ini; yaitu beribadah kepada Allah dan menjauhi thaghut/sesembahan selain Allah (lihat Syarh Kitab Tauhid karya beliau [klik])
Diantara pelajaran berharga dari ayat ini adalah; wajibnya ikhlas dalam berdakwah menuju Allah, dakwah ini juga harus tegak di atas hujjah dan bukti yang jelas, serta wajibnya berlepas diri dari syirik dan pelakunya (lihat kitab al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid karya Syaikh Muhammad al-Qar’awi [klik])
Syaikh Muhammad at-Tamimi rahimahullah penulis Kitab Tauhid ini juga menjelaskan bahwa diantara faidah ayat ini adalah peringatan untuk menjaga keikhlasan; karena banyak orang yang mengajak kepada kebenaran tetapi sesungguhnya dia sedang mengajak orang menuju kepentingan pribadi/hawa nafsunya sendiri (lihat dalam kitab Fathul Majid Syarh Kitab Tauhid karya Syaikh Abdurrahman bin Hasan cucu beliau [klik])
Syaikh al-‘Utsaimin rahimahullah berkata :
تضمنت هذه الدعوة الإخلاص والعلم; لأن أكثر ما يفسد الدعوة عدم الإخلاص، أو عدم العلم
“Maka dari ayat ini terkandung pelajaran bahwa dakwah ini harus ikhlas dan disertai dengan ilmu. Sebab sesuatu yang paling banyak merusak dakwah adalah tidak adanya keikhlasan atau tidak adanya ilmu…” (lihat al-Qaul al-Mufid ‘ala Kitab at-Tauhid karya beliau [klik])
Para ulama juga menjelaskan bahwa setiap muslim memiliki kewajiban untuk berdakwah menuju agama ini berdasarkan ilmu, tidak boleh berdasarkan kebodohan. Dan setiap muslim bisa berdakwah sesuai dengan kemampuan dan kapasitasnya masing-masing, inilah jalan Nabi dan para pengikutnya. Tidak boleh seorang muslim cuek alias tidak punya kepedulian sama sekali dalam hal dakwah ini; apalagi ini adalah dakwah tauhid… Dakwah menuju perintah Allah yang paling agung dan memberantas larangan Allah yang terbesar yaitu syirik…
Wallahu a’lam.
Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com
Silakan baca seri sebelumnya di sini [klik]
0 Komentar