Bismillah.
Diantara pelajaran yang sangat berharga yang disampaikan oleh Syaikh Abdul Muhsin al-Qasim hafizhahullah di dalam kitabnya Taisirul Wushul Syarh Tsalatsah al-Ushul adalah bahwa agama ini berporos pada ibadah dan isti’anah. Menegakkan ibadah dan isti’anah merupakan sarana untuk mencapai kebahagiaan yang abadi dan jalan untuk selamat dari segala keburukan. Tidak ada jalan menuju keselamatan kecuali dengan menegakkan dua hal ini.
Beliau pun menukil ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, “Agama ini hakikatnya adalah tidak boleh disembah kecuali Allah dan tidaklah memohon pertolongan -dalam segala hal- kecuali kepada-Nya.” Ibadah itu sendiri merupakan konsekuensi dari sifat uluhiyah Allah, sedangkan isti’anah merupakan konsekuensi dari sifat rububiyah-Nya. Dalam ibadah kepada Allah terkandung kecintaan, takut dan harapan serta melaksanakan perintah dan larangan Allah. Sementara dalam isti’anah terkandung tawakal, penyerahan diri kepada Allah dan kepasrahan kepada-Nya (disarikan dari Taisirul Wushul, hal. 137 – 138 cet. 1441 H)
Perintah untuk memurnikan ibadah kepada Allah itulah yang terkandung dalam kalimat ‘iyyaka na’budu’ yang artinya, “Hanya kepada-Mu Ya Allah kami beribadah.” Adapun perintah untuk beristi’anah atau memohon petolongan kepada-Nya terkandung dalam kalimat ‘wa iyyaka nasta’iin’ yang artinya, “Hanya kepada-Mu Ya Allah kami memohon pertolongan.”
Di dalam kalimat ‘iyyaka na’budu’ terkandung pelajaran untuk membersihkan diri dari syirik dan riya’, sedangkan dalam kalimat ‘wa iyyaka nasta’iin’ terkandung faidah untuk selalu membersihkan diri dari sifat ujub dan kesombongan (lihat keterangan Syaikh Abdurrazzaq al-Badr hafizhahullah dalam Syarh ad-Durus al-Muhimmah, hal. 15)
Ibadah dalam pengertian umum adalah perendahan diri kepada Allah dengan penuh kecintaan dan pengagungan dengan cara melakukan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya sebagaimana yang telah diajarkan di dalam syari’at-Nya (lihat keterangan Syaikh al-‘Utsaimin rahimahullah dalam Syarh Tsalatsah al-Ushul, hal. 37 cet. 1426 H penerbit Dar ats-Tsurayya)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam risalah al-‘Ubudiyah telah menjelaskan makna atau cakupan ibadah dalam artian al-muta’abbad bihi (sesuatu yang digunakan untuk beribadah). Bahwasanya ibadah itu adalah suatu istilah yang mencakup segala hal yang dicintai dan diridhai Allah berupa ucapan dan perbuatan yang batin dan yang lahir.
Dari sini, kita bisa mengetahui bahwa isti’anah itu sendiri pada hakikatnya adalah bagian dari ibadah. Karena Allah memerintahkan kita untuk memohon pertolongan kepada-Nya. Dengan demikian di dalam al-Fatihah disebutkan ibadah sebelum isti’anah; karena ibadah itu lebih luas dan isti’anah itu sesuatu yang khusus. Selain itu untuk mengutamakan hak Allah di atas hak hamba. Disebutkannya isti’anah setelah ibadah padahal ia menjadi bagian darinya disebabkan oleh besarnya kebutuhan hamba untuk selalu memohon pertolongan Allah dalam segala bentuk ibadahnya. Jika Allah tidak menolongnya niscaya apa yang ingin dia capai tidak terwujud; apakah itu dalam bentuk melaksanakan perintah Allah ataupun dalam rangka menjauhi larangan-Nya (lihat keterangan Syaikh as-Sa’di rahimahullah yang disampaikan oleh Syaikh Abdul Aziz ar-Rajihi hafizhahullah dalam Syarh Ushul Tsalatsah, hal. 69)
Hal ini mengisyaratkan kepada kita bahwa berdoa secara umum adalah bentuk ibadah yang sangat utama atau paling besar manfaatnya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada suatu perkara yang lebih mulia bagi Allah ta’ala daripada doa.” (HR. Tirmidzi, dinyatakan hasan oleh al-Albani dalam Sahih Sunan Tirmidzi no. 3370). Dari an-Nu’man bin Basyir radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Doa adalah hakikat dari ibadah.” (HR. Tirmidzi, dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Sahih Sunan Tirmidzi no. 3372)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah berkata : Aku mengikuti persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Aku akan senantiasa bersama-Nya selama dia berdoa kepada-Ku.” (HR. Muslim no. 2675)
Allah berfirman (yang artinya), “Dan Robbmu berfirman : Berdoalah kepada-Ku niscaya Aku akan kabulkan permintaan kalian. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku pasti akan masuk ke dalam neraka Jahannam dalam keadaan hina.” (Ghafir : 60)
Allah berfirman (yang artinya), “Apabila hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku Mahadekat; Aku akan mengabulkan doa orang yang meminta ketika dia menyeru/berdoa kepada-Ku, oleh sebab itu hendaklah mereka memenuhi seruan-Ku dan beriman kepada-ku mudah-mudahan mereka mendapat petunjuk.” (al-Baqarah : 186)
Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com
0 Komentar