Ikhlas Dalam Beramal

Ikhlas adalah suatu hal yang tidak boleh disepelekan. Sebab tanpa keikhlasan amal ibadah tidak ada harganya di sisi Allah. Menundukkan hawa nafsu guna meraih keikhlasan adalah sebuah perjuangan besar yang perlu diperhatikan. Para pendahulu yang salih pun menilai bahwa perjuangan mencapai keikhlasan sebagai perjuangan yang amat berat dan sarat akan pengorbanan.

Terdapat banyak ayat dan hadits yang berisi perintah untuk ikhlas, memberikan dorongan terhadapnya, dan memberikan peringatan keras bagi orang yang tidak mewujudkan keikhlasan dalam amal ibadahnya. Menunaikan amal dengan penuh keikhlasan telah menjadi kewajiban dalam syari’at yang diajarkan oleh setiap rasul kepada umatnya. Ini artinya keislaman tidak akan tegak tanpa pondasi keikhlasan, demikian pula iman dan tauhid tidak terwujud tanpanya.

Diantara ayat yang berisi perintah untuk ikhlas itu adalah firman Allah (yang artinya), “Dan tidaklah mereka diperintahkan kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan ikhlas/memurnikan agama/ibadah kepada-Nya dengan hanif…” (Al-Bayyinah : 5).

Demikian pula firman-Nya (yang artinya), “Beribadahlah kepada Allah dan janganlah kalian mempersekutukan dengan-Nya sesuatu apapun.” (An-Nisaa’ : 36)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak Allah atas hamba adalah supaya mereka beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan dengan-Nya sesuatu apapun.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits lain, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan, “Sesungguhnya setiap amal itu dinilai dengan niatnya, dan setiap orang akan dibalas sesuai dengan apa yang dia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Para ulama menyatakan bahwa ikhlas adalah syarat diterimanya ibadah. Segala bentuk ibadah butuh kepada ikhlas. Ikhlas adalah pondasi bagi amal dan ketaatan. Lihatlah bagaimana amal yang besar -seperti membangun masjid- menjadi tidak bernilai di sisi Allah gara-gara tidak dilandasi dengan keikhlasan, sebagaimana yang menimpa kaum munafikin yang mendirikan masjid Dhirar.

Lihat pula keadaan tiga orang yang pertama kali diadili pada hari kiamat nanti, yaitu mujahid, orang yang menimba ilmu dan mengajarkannya, serta dermawan yang menginfakkan hartanya dalam berbagai jalan kebaikan. Mereka dilemparkan ke dalam neraka disebabkan ‘kehilangan’ ikhlas dalam amalan yang dilakukan.

Dengan demikian, kehidupan ini sarat dengan ujian dan cobaan yang menuntut ketulusan niat dan keikhlasan hati dalam menunaikan ketaatan. Sebagaimana firman-Nya (yang artinya), “[Allah] Yang telah menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian; siapakah diantara kalian yang paling baik amalnya.” (Al-Mulk : 2)

Amal yang paling baik -sebagaimana ditafsirkan oleh ulama salaf- adalah yang paling ikhlas dan paling benar. Ikhlas adalah apabila amal itu dikerjakan karena Allah, sedangkan benar jika amal itu dilakukan sesuai dengan tuntunan/sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ujian demi ujian akan dihadapkan kepada kita, suka atau tidak suka. Allah berfirman (yang artinya), “Apakah manusia itu mengira mereka dibiarkan untuk mengatakan ‘Kami beriman’ kemudian mereka tidak diberikan ujian? Sungguh Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, agar Allah mengetahui siapakah orang-orang yang jujur dan untuk mengetahui siapakah orang-orang yang pendusta.” (Al-‘Ankabut : 2-3)

Beramal dengan ikhlas bukan perkara yang ringan. Karena untuk ikhlas seorang harus berjuang menundukkan hawa nafsunya. Dimana manusia memiliki tabiat gandrung akan pujian dan haus akan sanjungan dan penghormatan. Tamak kepada perhiasan dunia serta menaruh ambisi kepada materi dan kedudukan. Orang yang ikhlas harus menyingkirkan tujuan-tujuan yang rendah itu dari dalam hatinya, karena Allah tidak menerima amal yang tercampuri olehnya.

Dalam hadits qudsi Allah berfirman, “Aku adalah dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa yang melakukan suatu amalan seraya mempersekutukan di dalamnya bersana-Ku suatu pujaan/sesembahan selain Aku, maka Aku tinggalkan dia dan syiriknya itu.” (HR. Muslim)

Amal-amal yang tercampuri syirik adalah amal yang tidak ikhlas. Amal-amal yang akan ditolak oleh Allah dan membuahkan petaka di akhirat kelak. Amal yang sia-sia dan mengakibatkan penyesalan dan kesedihan. Allah berfirman (yang artinya), “Dan Kami hadapi segala amal yang dahulu mereka kerjakan, kemudian Kami jadikan ia bagaikan debu yang beterbangan.” (Al-Furqan : 23). Tidak lain itu terjadi disebabkan lenyapnya keikhlasan.

Sebaliknya, apabila amal-amal itu ditegakkan di atas keikhlasan dan bersih dari riya’ dan kemusyrikan, maka akan mengangkat kedudukan orang yang melakukannya menjadi golongan orang-orang yang dimuliakan Allah di hari kiamat. Sebagaimana dalam hadits yang menceritakan tujuh golongan yang diberi naungan Allah, diantara mereka itu adalah, “Seorang lelaki yang bersedekah seraya menyembunyikan sedekahnya sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.” dan “seorang lelaki yang mengingat Allah dalam kesendirian/sepi lantas berlinanglah air matanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Orang-orang yang ikhlas tidak mengejar ambisi-ambisi dunia di balik amalnya. Mereka hanya mengharap wajah Allah, bukan imbalan ataupun sekedar ucapan terima kasih. Sebagaimana Allah kisahkan tentang ucapan mereka (yang artinya), “Sesungguhnya kami memberikan makan kepada kalian demi mencari wajah Allah, kami tidak menghendaki dari kalian balasan ataupun ucapan terima kasih.” (Al-Insan : 9)

Dari sinilah maka perlu untuk senantiasa membersihkan hati dari niat-niat yang tercela dan ambis-ambisi dunia. Karena bersihnya hati akan sangat mempengaruhi kualitas amalan. Apabila hati terkotori oleh ambisi dunia dan dipenuhi dengan kecintaan kepada selain Allah maka tentu saja ucapan dan amal yang lahir darinya akan sarat dengan ketidakikhlasan.

Semoga Allah mengaruniakan kepada kita keikhlasan dalam beramal dan menjadikan amal-amal kita diterima di sisi-Nya. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.