Bismillah.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang pembimbing yang sangat mengkhawatirkan keadaan umatnya. Diantara perkara yang dikhawatrikan oleh beliau adalah ketika umat Islam ini dibukakan atau dibentangkan untuk mereka urusan-urusan duniawi beserta fitnah dan kerusakannya.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
فَوَاللَّهِ لا الفَقْرَ أَخْشَى علَيْكُم، ولَكِنْ أَخَشَى علَيْكُم أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا كما بُسِطَتْ علَى مَن كانَ قَبْلَكُمْ، فَتَنَافَسُوهَا كما تَنَافَسُوهَا وتُهْلِكَكُمْ كما أَهْلَكَتْهُمْ
“Demi Allah, bukanlah kemiskinan yang paling aku khawatirkan menimpa kalian. Akan tetapi aku takut apabila dibentangkan untuk kalian dunia ini sebagaimana telah dibukakan untuk orang-orang sebelum kalian lantas kalian pun saling bersaing untuk merebutnya sebagaimana mereka bersaing untuk meraupnya, sehingga dunia itu menghancurkan kalian sebagaimana dahulu ia telah menghancurkan mereka.” (HR. Bukhari)
Syaikh Abdul Karim al-Khudhair hafizhahullah berkata :
لو نظرنا إلى واقع عموم المسلمين -عامة الناس- وجدناهم لما فتحت عليهم الدنيا فرطوا في أمر الله -عز وجل-، وتنكبوا عن الجادة
“Seandainya kita memperhatikan kenyataan yang ada pada umumnya kaum muslimin -yaitu kebanyakan orang- niscaya kita dapati ketika dibukakan untuk mereka dunia maka mereka pun menyepelekan perintah/ajaran Allah dan melenceng dari jalan yang benar…” (lihat Syarh Kitab al-Fitan min Shahih al-Bukhari [klik])
Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan :
فهذا يُبيّن لنا أن الخطر في الغنى أعظم من الخطر في الفقر، وأن الناس إذا أُصيبوا بفتح الدنيا وانبساطها وكثرتها فخطرهم أكثر من حالهم مع الفقر؛ لأنه مع الفقر قد يمتنع الإنسانُ من الشيء لعجزه
“Hal ini menjelaskan kepada kita bahwa bahaya yang timbul dalam keadaan kaya/berkecukupan bisa jadi lebih berat daripada bahaya yang muncul dalam keadaan miskin. Dan bahwa manusia apabila diberikan kelapangan dalam urusan dunia atau kelancaran/kemudahan untuk meraihnya secara melimpah maka bahaya yang terjadi justru lebih besar daripada ketika mereka miskin; sebab ketika miskin bisa jadi ia terhalang dari suatu (keburukan/maksiat) karena ketidakmampuannya…” (lihat Syarh Shahih al-Bukhari oleh Syaikh Bin Baz [klik])
Inilah realita yang sering terjadi, ketika Allah berikan kekayaan kepada sebagian orang hal itu justru membuat dia merasa tidak butuh kepada Allah dan melakukan pelanggaran. Sampai-sampai Syaikh al-‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Dunia dan agama pada umumnya tidak bisa berkumpul…” Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa banyak orang gagal ketika menghadapi ujian berupa kekayaan dan kelapangan, sementara banyak orang justru lebih selamat ketika diuji dengan kemiskinan (lihat Tafsir Surat az-Zukhruf oleh Syaikh al-Utsaimin [klik])
Oleh sebab itulah wajar jika Imam an-Nawawi rahimahullah mencantumkan hadits di atas dalam kitab Riyadhush Shalihin dalam bab ‘Keutamaan zuhud di dunia dan dorongan untuk mempersedikit darinya/tidak rakus, serta keutamaan kefakiran.
al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menerangkan bahwa diantara kemungkinan/alasan mengapa fitnah berupa kekayaan itu lebih dikhawatirkan oleh Nabi adalah karena bahaya yang timbul akibat kefakiran biasanya lebih ringan karena lebih dominan pada urusan dunia saja, sedangkan bahaya dari kekayaan lebih dominan menimbulkan dampak buruk dalam hal agama (bukan dunia, pent) (lihat Fat-hul Bari Syarh Shahih al-Bukhari [klik])
Syaikh al-Utsaimin rahimahullah memberikan nasihat :
فاحذر يا أخي لا تغرنك الحياة الدنيا ، ولا يغرنك بالله الغرور ، أنت إن وسع الله عليك الرزق وشكرت فهو خير لك ، وإن ضُيق عليك الرزق وصبرت فهو خير لك ، أما أن تجعل الدنيا أكبر همك ومبلغ علمك ، فهذا خسارة في الدنيا والآخرة ، أعاذنا الله وإياكم من الفتن ما ظهر منها وما بطن .
“Maka waspadalah wahai saudaraku, jangan sampai anda tertipu oleh kehidupan dunia dan jangan sampai memperdaya dirimu setan sang penipu itu. Apabila engkau diberikan kelapangan rezeki oleh Allah dan bersyukur maka itu adalah baik bagimu. Dan apabila rezekimu disempitkan dan engkau bersabar maka itu baik bagimu. Adapun engkau menjadikan dunia ini sebagai sebesar-besar cita-cita dan puncak ilmumu, maka ini merupakan kerugian di dunia dan di akhirat. Semoga Allah melindungi kami dan kalian dari fitnah-tinah yang tampak maupun yang tersembunyi.” (lihat transkrip pelajaran Syarh Riyadhus Shalihin oleh Syaikh al-Utsaimin [klik])
Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com
0 Komentar