Nikmat Waktu
Bismillah.
Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan kematian dan kehidupan untuk menguji manusia siapakah diantara mereka yang terbaik amalnya.
Bismillah.
Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan kematian dan kehidupan untuk menguji manusia siapakah diantara mereka yang terbaik amalnya.
Manusia hidup di alam dunia berada diantara tiga keadaan; mendapatkan nikmat dari Allah, tertimpa musibah, atau terjerumus di dalam dosa.
Bagian 5.
Sabar, Syukur, dan Istighfar
Musibah dan Kenikmatan
Syaikh Abdurrazzaq al-Badr hafizhahullah berkata, “Seorang mukmin ketika tertimpa musibah bersabar. Ketika mendapat nikmat dia menjadi orang yang bersyukur. Pada saat tertimpa musibah-musibah dia berhasil meraih pahala orang-orang yang sabar, dan pada saat mendapat kenikmatan dia menuai pahala orang-orang yang bersyukur. Oleh sebab itu dia beruntung dalam kedua keadaan ini.” (lihat Syarh Qawa’id Arba’ Syaikh Abdurrazzaq al-Badr, hal. 12)
Bismillah
Segala puji bagi Allah atas segala nikmat yang dicurahkan oleh-Nya kepada kita. Kenikmatan yang sedemikian banyak sampai kita pun tidak mungkin bisa menghingganya. Nikmat dari Allah yang menuntut ketulusan dan kejujuran hati seorang hamba akan anugerah dan pemberian Rabbnya kepada dirinya.
Alhamdulillah atas nikmat Islam dan Sunnah. Salawat dan salam semoga tercurah kepada nabi kita Muhammad, para sahabatnya, dan segenap pengikut setia mereka. Amma ba’du.
Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Orang yang diberikan kenikmatan kepada mereka -alladzina an’amta ‘alaihim- adalah orang yang mengambil ilmu dan amal. Adapun orang yang dimurkai adalah orang-orang yang mengambil ilmu dan meninggalkan amal. Dan orang-orang yang sesat adalah orang-orang yang mengambil amal namun meninggalkan ilmu.” (lihat Syarh Ba’dhu Fawa’id Surah al-Fatihah, hal. 25)
Hidup ini adalah ujian dan cobaan. Allah berfirman (yang artinya), “Allah yang telah menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian; siapakah diantara kalian yang terbaik amalnya.” (Al-Mulk : 2)
Syaikh Shalih Al-Fauzan berkata :
Kita membaca di akhir-akhir surat Al-Fatihah (yang artinya), “Tunjukilah kami jalan yang lurus. Yaitu jalannya orang-orang yang Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan jalannya orang-orang yang dimurkai, dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat.”
—
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Apa pun kenikmatan yang ada pada kalian, maka itu adalah berasal dari Allah.” (An-Nahl : 53)
Surat al-Fatihah adalah surat yang paling agung di dalam al-Qur’an. Hal ini mengisyaratkan bahwa kandungan ilmu dan hikmah dari surat ini telah mencakup pokok-pokok ilmu al-Qur’an.