Bismillah.
Kehidupan di alam dunia ini adalah cobaan. Sebagaimana firman Allah (yang artinya), “[Allah] Yang menciptakan kematian dan kehidupan dalam rangka menguji kalian; siapakah diantara kalian yang terbaik amalnya.” (al-Mulk : 2). Para ulama menjelaskan bahwa yang terbaik amalnya adalah yang paling ikhlas dan paling benar. Ikhlas apabila amal itu dilakukan karena Allah dan bersih dari syirik, sedangkan benar yaitu apabila amal itu sesuai dengan sunnah/tuntunan Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Cobaan akan membuktikan siapakah diantara hamba yang benar imannya dan siapa yang dusta. Allah berfirman (yang artinya), “Alif lam miim. Apakah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan mengatakan ‘Kami telah beriman’ kemudian mereka tidak diberi ujian. Sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, supaya Allah benar-benar mengetahui/menunjukkan siapa orang-orang yang jujur dan siapa yang dusta.” (al-‘Ankabut). Cobaan dan ujian yang Allah berikan itu bisa berupa nikmat dan kelapangan, dan bisa juga berupa musibah dan kesulitan.
Sementara nikmat yang Allah berikan kepada kita begitu banyak bahkan tak terhingga. Sebagaimana Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), “Dan jika kalian berusaha untuk menghitung-hitung nikmat Allah niscaya kalian tidak akan sanggup menghingganya.” Nikmat yang kita rasakan berupa kesehatan, keamanan, kemudahan, berbagai fasilitas hidup dan rezeki yang Allah limpahkan siang dan malam. Maka nikmat-nikmat itu wajib untuk kita syukuri. Sebab nikmat yang tidak disertai dengan syukur akan membuahkan malapetaka dan kehinaan.
Salah seorang ulama terdahulu mengatakan, “Setiap nikmat yang tidak semakin mendekatkan diri kepada Allah maka pada hakikatnya itu adalah malapetaka/bencana.” Syukur kepada Allah terdiri dari keyakinan di dalam hati bahwa nikmat berasal dari Allah, kita juga memuji Allah dengan lisan atas nikmat itu, dan kita gunakan nikmat yang Allah berikan dalam hal ketaatan dan kebaikan. Hakikat syukur itu adalah taat dan patuh kepada al-Mun’im/Sang pemberi nikmat dan karunia. Allah pun telah berjanji bahwa jika seorang hamba bersyukur niscaya Allah akan tambahkan nikmat untuknya, sebaliknya jika ia justru kufur maka azab Allah sangatlah pedih.
Di sisi lain, Allah juga memberikan ujian kepada kita dalam bentuk musibah. Kewajiban kita saat tertimpa musibah adalah bersabar. Allah berfirman (yang artinya), “Tidaklah menimpa satu pun musibah kecuali dengan izin Allah. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Allah berikan petunjuk ke dalam hatinya.” Salah seorang ulama tafsir bernama Alqomah mengatakan bahwa maksud ayat ini adalah mengenai seorang yang terkena musibah sementara dia mengetahui bahwa musibah itu datang dari Allah maka dia pun ridha dan pasrah. Musibah yang menimpa telah tertulis dalam lauhul mahfuzh 50 ribu tahun sebelum diciptakannya langit dan bumi.
Allah berfirman (yang artinya), “Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar; yaitu orang-orang yang ketika tertimpa musibah mereka mengatakan ‘Sesungguhnya kami ini adalah milik Allah dan sesungguhnya kami pasti akan kembali kepada-Nya…” (al-Baqarah). Maka beruntunglah orang yang bersabar ketika menghadapi musibah. Sebalinya betapa merugi orang yang ketika tertimpa musibah justru semakin jauh dari ibadah. Padahal musibah ini adalah sarana untuk memperingatkan kita dan kembali kepada Allah dengan taubat dan amal salih.
Semoga Allah berikan taufik kepada kita untuk menjadi hamba yang pandai bersyukur dan bersabar tatkala tertimpa musibah. Wallahu a’lam. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.
Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com
Keterangan : Tulisan ini dikembangkan dari isi khutbah Jumat yang disampaikan di Masjid Cahyaning Ati Perumahan Villa Gardenia Gunung Sempu Yogyakarta hari jum’at pekan lalu. Semoga Allah beri balasan terbaik kepada segenap takmir masjid dan pihak-pihak yang memudahkan kegiatan dakwah dan ibadah tersebut.
0 Komentar