Bismillah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan panduan kepada kita bagaimana cara dalam menggerakkan dakwah di tengah masyarakat.

Sebagaimana telah dijelaskan dalam hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma :

 قالَ رَسولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ لِمُعَاذِ بنِ جَبَلٍ حِينَ بَعَثَهُ إلى اليَمَنِ: إنَّكَ سَتَأْتي قَوْمًا أهْلَ كِتَابٍ، فَإِذَا جِئْتَهُمْ، فَادْعُهُمْ إلى أنْ يَشْهَدُوا أنْ لا إلَهَ إلَّا اللَّهُ، وأنَّ مُحَمَّدًا رَسولُ اللَّهِ، فإنْ هُمْ أطَاعُوا لكَ بذلكَ، فأخْبِرْهُمْ أنَّ اللَّهَ قدْ فَرَضَ عليهم خَمْسَ صَلَوَاتٍ في كُلِّ يَومٍ ولَيْلَةٍ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu ketika mengutus dia ke Yaman, “Sesungguhnya kamu akan mendatangi suatu kaum ahli kitab. Apabila kamu telah mendatangi mereka maka ajaklah mereka supaya bersyahadat laa ilaha illallah wa anna Muhammadar rasulullah. Apabila mereka menaatimu dalam hal itu maka kabarkan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan kepada mereka sholat lima waktu dalam sehari semalam…” (HR. Bukhari dan Muslim)

Imam Bukhari rahimahullah juga membawakan hadits ini dengan redaksi yang sedikit berbeda di dalam Kitab Tauhid dari Sahihnya dengan ungkapan, “Hendaklah yang pertama kalian kamu serukan kepada mereka agar mereka mentauhidkan Allah…” Sehingga dari sini dapat diambil faidah bahwa hakikat dari syahadat laa ilaha illallah itu adalah mengesakan Allah dalam beribadah dan menolak ibadah kepada selain-Nya (lihat keterangan Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah dalam Fat-hul Majid Syarh Kitab at-Tauhid [klik])

Hadits ini menunjukkan bahwa dakwah tauhid merupakan dakwah yang paling pertama karena ia merupakan kandungan dari syahadat laa ilaha illallah yang itu merupakan kewajiban yang paling pertama bagi umat manusia, selain itu aqidah tauhid juga menjadi pondasi agama (lihat keterangan Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah dalam al-Mulakhash fi Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 55 dan 56 cet. Dar al-‘Ashimah 1422 H)

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata :

فأول شيء يدعى إليه توحيد الله والإخلاص له والإيمان به وبرسوله عليه الصلاة والسلام وبالإيمان بكل ما أخبر الله به ورسوله، فالتوحيد أول شيء ثم الدعوة إلى الصلاة والزكاة

“Sesuatu yang paling awal untuk diserukan adalah tauhid kepada Allah dan ikhlas beribadah kepada-Nya, beriman kepada-Nya dan kepada rasul-Nya ‘alaihish sholatu was salam, beriman kepada segala berita yang dikabarkan oleh Allah dan rasul-Nya. Maka tauhid adalah perkara paling pertama untuk didakwahkan kemudian baru mendakwahkan kepada sholat, zakat…. ” (lihat transkrip pelajaran Syarh Kitab Tauhid [klik])

Hadits di atas juga menunjukkan bahwa seorang yang berdakwah selain harus memahami ilmu agama maka ia juga perlu memahami kondisi orang yang dia dakwahi. Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu adalah termasuk ulama yang dalam ilmunya di kalangan para sahabat Nabi. Sebab dakwah harus dilandasi dengan bashirah/ilmu dan hujjah yang kuat. Tidak boleh berdakwah bermodal kebodohan.

Orang yang bodoh akan lebih banyak merusak daripada memperbaiki keadaan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan kepada Mu’adz bahwa dia akan mendatangi suatu kaum ahli kitab; agar beliau bisa bersiap-siap untuk menghadapi mereka. Ahli kitab adalah orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan dan wawasan, mereka bukan sembarang orang. Oleh sebab itu dibutuhkan bekal ilmu yang kuat untuk mendakwahi mereka.

Dengan memahami kondisi orang yang didakwahi maka kita akan bisa memilih cara atau metode yang paling tepat agar dakwah itu bisa lebih dimengerti dan bisa dipahami dengan mudah. Karena itulah diantara fikih dalam dakwah adalah memilih orang yang berdakwah dari kalangan orang yang memahami bahasa suatu kaum/masyarakat, sebagaimana para rasul diutus dengan bahasa kaumnya.

Hadits di atas juga menunjukkan bahwa dalam dakwah juga diperlukan pembekalan para calon dai yang akan dikirim atau ditugaskan. Oleh sebab itu tanggung jawab para ulama dan ahli agama untuk membuka majelis-majelis ilmu dan membuka program pendidikan yang mempersiapkan calon-calon pejuang dakwah di masyarakat. Dan diantara ilmu paling pokok untuk diajarkan kepada para pejuang dakwah adalah ilmu tauhid.

Hadits di atas juga menunjukkan bahwa dakwah itu harus melalui tahapan-tahapan, tidak bisa sekaligus semuanya. Harus dimulai dari yang paling penting kemudian disusul materi penting yang di bawahnya. Dengan demikian dakwah itu butuh proses, bukan suatu yang bersifat instan atau langsung jadi. Sebagaimana halnya ilmu diperoleh secara bertahap, sedikit demi sedikit, maka begitu pula dakwah ini.

Dakwah itu dilakukan secara bertahap dan konsisten. Butuh kesabaran yang besar dalam mengemban tugas dakwah yang mulia ini. Para rasul saja diganggu dan dihalangi dalam dakwahnya, maka bagaimana lagi dengan kita. Dakwah juga membutuhkan keikhlasan, sebagaimana dakwah yang dicontohkan oleh para rasul. Bukan dalam rangka mencari kedudukan, pujian, kepentingan dunia atau popularitas belaka…

Selain itu, hadits di atas juga menunjukkan bahwa dakwah tauhid itu tidak cukup dengan ajakan kepada ucapan dua kalimat syahadat tanpa memahami isinya dan tanpa tunduk kepada kandungannya. Sebab kalimat syahadat itu mengandung perintah untuk beribadah kepada Allah semata dan menjauhi syirik. Serta ia juga mengandung perintah untuk mengikuti tuntunan Nabi dan menjauhi bid’ah.

Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com


Redaksi

Redaksi al-mubarok.com dikelola oleh relawan dan pegiat dakwah Masjid Jami' al-Mubarok (MJM) YAPADI Yogyakarta

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *