Bismillah.

Diantara perkara paling mendasar di dalam Islam adalah menjaga niat dan ikhlas dalam beramal. Perkara niat bukan perkara sepele. Karena niat yang salah akan bisa menyerat pemiliknya ke dalam azab neraka.

Sejak dahulu para ulama telah mewanti-wanti umat agar terus menjaga niat. Karena niat merupakan pondasi amal ibadah dan ketaatan di dalam Islam. Allah berfirman (yang artinya), “Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apapun.” (al-Kahfi : 110)

Amal yang diterima di sisi Allah adalah yang ikhlas dan sesuai dengan tuntunan. Jika amal itu ikhlas tetapi tidak sesuai tuntunan maka tidak diterima. Begitu pula sebaliknya, walaupun amalnya sesuai tuntunan tetapi jika tidak ikhlas maka ia juga tidak diterima. Dalam sebuah hadits qudsi, Allah berfirman (yang artinya), “Aku Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa yang melakukan suatu amalan seraya mempersekutukan di dalamnya selain-Ku bersama dengan Aku niscaya Aku tinggalkan dia dan syiriknya itu.” (HR. Muslim)

Ibadah kepada Allah tidak akan diterima tanpa tauhid dan keikhlasan. Oleh sebab itu Allah berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan agama untuk-Nya dengan hanif/bertauhid….” (al-Bayyinah : 5). Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud orang yang hanif itu adalah yang hatinya menghadap kepada Allah dan berpaling dari selain-Nya.

Dengan demikian urusan hati ini sangat fundamental dalam agama. Allah berfirman (yang artinya), “Pada hari itu (kiamat) tiada berguna harta dan anak-anak kecuali bagi orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.” (asy-Syu’araa’ : 88-89). Hati yang selamat adalah hati yang beriman, yang ikhlas menghamba kepada Allah, hati yang bersih dari kemunafikan, hati yang bebas dari syirik dan kekafiran.

Karena itulah para ulama mengatakan bahwa amal-amal itu memiliki tingkatan keutamaan yang berbeda-beda tergantung pada apa yang ada di dalam hati pelakunya berupa iman dan keikhlasan. Sebagian salaf mengatakan, “Betapa banyak amal yang kecil menjadi besar karena niatnya. Dan betapa banyak amal besar menjadi kecil juga karena niatnya.” Tempat niat itu adalah di dalam hati.

Para ulama seperti Imam Bukhari, Imam Nawawi dan Abdul Ghani al-Maqdisi rahimahumullah telah menunjukkan perhatian yang besar dalam hal niat ini dengan meletakkan hadits niat di awal kitab karya mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya amal-amal itu dinilai dengan niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan dibalas sesuai dengan apa yang dia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Diantara bukti agungnya ikhlas itu adalah hadits tentang 7 golongan manusia yang akan diberi naungan oleh Allah pada hari kiamat. Salah satunya adalah, “Seorang yang bersedekah dengan suatu bentuk sedekah maka dia pun menyembunyikannya (tidak menampakkannya, pent) sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Oleh sebab itu sebagian ulama terdahulu mengatakan, “Orang yang ikhlas itu adalah orang yang berusaha untuk menyembunyikan kebaikan-kebaikannya sebagaimana dia menutupi keburukan-keburukannya.” Mereka tidak mengharapkan dengan amalnya imbalan atau sanjungan. Dia beramal karena Allah, demi menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya, bukan untuk mencari popularitas atau kedudukan di mata manusia.

Imam Ibnul Qayyim pun telah mengingatkan kita, bahwa bukanlah yang menjadi persoalan terberat itu adalah dalam hal mewujudkan amal itu saja. Akan tetapi yang menjadi urusan yang paling susah adalah bagaimana menjaga amal itu dari hal-hal yang merusak dan menghancurkannya. Karena itu tidaklah mengherankan jika sebagian salaf mengatakan, “Sesuatu yang paling susah/mahal di dunia ini adalah ikhlas.” Mereka juga mengatakan, “Tidaklah aku berjuang menaklukkan diriku dengan perjuangan yang lebih berat daripada perjuangan untuk meraih ikhlas.”

Keikhlasan itulah yang mengangkat derajat Uwais al-Qarani rahimahullah menjadi seorang tabi’in yang terbaik. Keikhlasan itu pula yang menyelamatkan seorang wanita pelacur dari Bani Isra’il yang peduli kepada seekor anjing yang kehausan lalu menolongnya dengan mengambilkan air minum untuknya dari dalam sumur. Keikhlasan itulah yang menjadi kunci keselamatan Nabi Yusuf ‘alahis salam di tengah godaan dan fitnah yang begitu besar.

Ikhlas bukan sekedar ucapan lisan atau rekayasa penampilan. Akan tetapi ikhlas itu terletak di dalam hati orang yang beriman. Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Bukanlah iman itu hanya dengan angan-angan atau menghiasi penampilan. Akan tetapi iman adalah apa-apa yang bersemayam di dalam hati dan dibuktikan dengan amalan.” Ibnu Abi Mulaikah seorang tabi’in mengatakan, “Aku telah bertemu dengan 30 orang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan mereka semuanya takut dirinya tertimpa kemunafikan…”

Bahkan orang yang berdakwah atau berjihad pun sangat rentan dengan perusak keikhlasan. Tidakkah kita ingat hadits tentang 3 orang yang pertama kali diadili pada hari kiamat dan menjadi bahan bakar api neraka; mereka adalah mujahid, dermawan, dan ahli ilmu agama. Perkaranya adalah masalah hati, karena mereka tidak ikhlas dalam melakukan amal-amal yang besar nan agung itu.

Orang yang bertauhid maka dia khawatir jika dirinya tertimpa kesyirikan, Nabi Ibrahim ‘alaihis salam adalah teladan dalam hal itu. Beliau berdoa kepada Allah agar dirinya dan anak keturunannya dijauhkan dari pemujaan kepada berhala. Orang beriman maka ia takut dirinya tertimpa kemunafikan, para sahabat Nabi adalah contoh yang indah dalam hal itu. Mereka lah yang dijuluki sebagai generasi terbaik umat ini. Orang-orang yang paling bersih hatinya dan paling dalam ilmunya, sebagaimana persaksian dari Sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu...

Dari situlah kita bisa memahami bahwa hakikat ilmu yang memuliakan pemiliknya adalah ilmu yang membuahkan keikhlasan dan pengagungan kepada Allah. Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata, “Bukanlah ilmu itu dengan banyaknya riwayat. Akan tetapi ilmu itu adalah khosy-yah/rasa takut kepada Allah.” Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan, “Setiap orang yang takut kepada Allah maka dia lah orang yang berilmu.”

Adapun ilmu yang hanya berhenti di lisan dan tidak meresap ke dalam hati, maka itu bukanlah ilmu yang bermanfaat. Kita berlindung kepada Allah darinya. Dengan ilmu maka seorang akan terlepas dari kesesatan, dan dengan keikhlasan dan ketundukan hati maka orang akan terbebas dari kemurkaan Allah. Ketakwaan kepada Allah yang benar adalah ketakwaan yang berakar dari dalam hati, bukan sekedar penampilan dan ucapan.

Allah berfirman (yang artinya), “[Allah] Yang menciptakan kematian dan kehidupan dalam rangka menguji kalian; siapakah diantara kalian yang terbaik amalnya.” (al-Mulk : 2). Para ulama telah menjelaskan bahwa yang terbaik amalnya adalah yang paling ikhlas dan paling benar. Ikhlas itu adalah amal yang dikerjakan karena Allah, sedangkan ‘benar’ yaitu sesuai dengan tuntunan/Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Maka yang berhasil bukanlah yang paling banyak amalnya, bukan yang paling terkenal, bukan yang paling besar biayanya, tetapi yang paling ikhlas dan paling sesuai dengan tuntunan. Bisa jadi amal yang sedikit tetapi terus-menerus dan ikhlas itulah yang menjadi pemenang. Dan bisa jadi yang amalnya tampak besar dan keluar biaya banyak itu justru menjadi golongan yang merugi akibat tidak adanya keikhlasan di dalam hatinya. Maka waspadalah…

Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com


Redaksi

Redaksi al-mubarok.com dikelola oleh relawan dan pegiat dakwah Masjid Jami' al-Mubarok (MJM) YAPADI Yogyakarta

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *