Bismillah.

Diantara asma’ul husna yang disebutkan di dalam al-Qur’an adalah nama Allah al-Ghofuur/yang maha pengampun dan asy-Syakur/yang maha berterima kasih dan membalas kebaikan.

Allah berfirman :

اِنَّ رَبَّنَا لَغَفُوْرٌ شَكُوْرٌۙ

“Sesungguhnya Rabb kami benar-benar Maha pengampun lagi Maha berterima kasih.” (Fathir : 34)

Qatadah rahimahullah menafsirkan ayat ini, “Allah berkenan mengampuni bagi mereka/hamba-Nya dosa yang besar dan membalas/mensyukuri amal yang sedikit/ringan…” (lihat Kitab Fadhilatu asy-Syukri, hal. 34 karya al-Khara’ithi)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah di dalam tafsirnya juga menukil tafsiran serupa dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma dan ahli tafsir yang lainnya :

غفر لهم الكثير من السيئات ، وشكر لهم اليسير من الحسنات

“Artinya Allah mengampuni untuk mereka terhadap kesalahan yang banyak dan bersyukur/membalas mereka atas kebaikan yang ringan/sedikit.” (lihat Tafsir Ibnu Katsir Surat Fathir [klik])

Ayat di atas menunjukkan kepada kita bahwa Allah Maha mengampuni dosa sebesar apa pun itu; selama pelakunya mau bertaubat kepada Allah, dan Allah akan menghargai serta membalas amalan kebaikan walaupun sekecil anak semut. Oleh sebab itu seorang muslim tidak boleh berputus asa dari ampunan Allah dan dia juga tidak boleh meremehkan kebaikan walaupun tampak kecil atau sepele (lihat Mukhtashar Fiqh Asma’il Husna, hal. 46)

Dari sini kita bisa mengambil pelajaran wajibnya bertaubat dari dosa agar bisa meraih ampunan Allah dengan sempurna. Selain itu ayat ini juga berisi motivasi bagi kita untuk bersemangat dalam melakukan amal kebaikan walaupun tampak kecil atau sepele di hadapan manusia.

Terkadang orang yang telah terjebak dalam berbagai bentuk maksiat ditipu oleh setan; dia membuat orang itu putus asa dari ampunan Allah sehingga dia meninggalkan taubat. Tidakkah kita ingat kisah tentang pembunuh 100 nyawa yang masih diterima taubatnya. Di sisi lain ada sebagian orang yang malas mengerjakan kebaikan-kebaikan yang terlihat sepele atau dianggap kecil. Padahal bisa jadi amalan yang kecil itu menjadi besar pahalanya di sisi Allah ketika disertai dengan ketulusan niat dan keikhlasan.

Dengan demikian penting kiranya kita untuk terus belajar dan mendalami kandungan nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya yang maha mulia agar semakin kuat keimanan dan ma’rifat kita kepada Allah. Ilmu tentang tauhid ini termasuk dalam kategori ilmu fikih yang paling agung di sisi Allah. Sebagaimana yang dikatakan oleh para ulama bahwa kemuliaan suatu ilmu itu bergantung pada kemuliaan sesuatu/objek yang diilmui; sementara Allah adalah yang paling mulia untuk dikenali dan dipahami. Inilah kelezatan tertinggi di dunia yang banyak tidak dirasakan oleh manusia…

Malik bin Dinar rahimahullah berkata, “Para pemuja dunia telah keluar meninggalkan dunia dalam keadaan belum menikmati sesuatu yang paling baik/nikmat di dalamnya.” Orang-orang pun bertanya kepadanya, “Wahai Abu Yahya, apakah itu sesuatu yang terbaik di dunia?” beliau menjawab, “Yaitu mengenal Allah dan mencintai-Nya serta merasa tenteram dengan dzikir dan ibadah kepada-Nya.”

Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com


Redaksi

Redaksi al-mubarok.com dikelola oleh relawan dan pegiat dakwah Masjid Jami' al-Mubarok (MJM) YAPADI Yogyakarta

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *