Bismillah.

Diantara ibadah yang agung adalah tawakal kepada Allah. Tawakal yaitu bersandar dan bergantungnya hati kepada Allah dalam segala urusan. Karena Allah adalah Yang menguasai segala sesuatu. Tawakal termasuk tingkatan iman yang sangat tinggi dan utama.

Disebutkan dalam hadits bahwa tawakal kepada Allah semata merupakan sifat orang-orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab. Di dalam al-Qur’an, Allah menyebutkan bahwa tawakal merupakan ciri orang-orang beriman. Orang yang bertawakal kepada Allah tidak menggantungkan hatinya kepada sebab atau usaha yang dia tempuh.

Tawakal merupakan sarana untuk mewujudkan ibadah dengan baik. Oleh sebab itu Allah menyebutkan tawakal bergandengan dengan ibadah di dalam al-Qur’an. Seperti misalnya dalam al-Fatihah, “Hanya kepada-Mu kami beribadah, dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan.”

Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah maka Allah akan mencukupi segala kebutuhannya. Allah berfirman (yang artinya), “Barangsiapa bertawakal kepada Allah maka Dia pasti mencukupi baginya.” (ath-Thalaq : 3). Tawakal itu mencakup 2 bagian; percaya sepenuhnya kepada Allah dan bergantung hati kepada-Nya, dan menempuh sebab/usaha yang dibolehkan di dalam syariat.

Allah berfirman (yang artinya), “Dan kepada Allah semata hendaknya kalian bertawakal; jika kalian benar-benar orang yang beriman.” (al-Ma-idah : 23). Allah juga berfirman (yang artinya), “Jika kalian beriman kepada Allah maka kepada-Nya semata hendaknya kalian bertawakal; jika kalian benar-benar muslim.” (Yunus : 84)

Allah berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang apabila disebut nama Allah hati mereka merasa takut, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah imannya, dan kepada Rabb mereka semata mereka itu bertawakal.” (al-Anfal : 2)

Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa semakin kuat iman seorang hamba maka akan semakin kuat pula tawakalnya kepada Allah semata. Tawakal merupakan buah dari iman kepada rububiyah Allah dan takdir-Nya. Setiap hamba membutuhkan tawakal kepada Allah dalam setiap amal dan ibadahnya. Tanpa tawakal kepada Allah maka manusia akan disandarkan kepada kelemahan dan ketidakmampuan.

Ketika kita berangkat dari rumah maka kita pun disyariatkan untuk berdoa kepada Allah dengan membaca ‘bismillahi tawakkaltu ‘alallah…’ yang artinya, “Dengan menyebut nama Allah, aku bertawakal kepada Allah…”

Ketika mendengar panggilan adzan hayya ‘alash sholah dan hayya ‘alal falaah; mari menuju sholat, mari menuju kemenangan, maka kita juga dianjurkan untuk mengucapkan ‘laa haula wa laa quwwata illa billah’; tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah…

Hal ini mengisyaratkan pentingnya tawakal dalam segala aktifitas dan kehidupan manusia. Para ulama menjelaskan bahwa pokok segala kebaikan adalah ketika anda meyakini bahwa segala yang Allah kehendaki pasti terjadi dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak akan terjadi. Taufik adalah ketika Allah tidak menyandarkan anda pada diri atau kekuatan anda sendiri. Adapun khudzlan/terlantar adalah ketika seorang hamba disandarkan kepada dirinya sendiri.

Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com


Redaksi

Redaksi al-mubarok.com dikelola oleh relawan dan pegiat dakwah Masjid Jami' al-Mubarok (MJM) YAPADI Yogyakarta

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *