Bismillah.
Diantara pelajaran dan faidah yang sangat berharga dari risalah Ushul Tsalatsah (tiga landasan utama) adalah wajibnya menggantungkan hati kepada Allah semata, atau yang kita kenal dengan istilah tawakal.
Penulis rahimahullah berkata :
َودَلِيلُ التَّوَكُلِ قَوْلُهُ تَعَالَى: {وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ}
{وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ}
Dalil tawakal yaitu firman Allah (yang artinya), “Dan kepada Allah semata hendaknya kalian bertawakal jika kalian benar-benar beriman.” (al-Ma-idah : 23)
“Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupinya.” (ath-Thalaq : 3)
Tawakal adalah penyerahan diri seutuhnya, bergantung kepada Allah dalam segala urusan dan menampakkan ketidakmampuan -di hadapan Allah- dan kepasrahan diri kepada Allah. Tawakal termasuk jenis ibadah yang paling mulia dan kedudukan tauhid yang paling tinggi (lihat Taisirul Wushul Syarh Tsalatsah al-Ushul, cet. 1441 H, hal. 117)
Ibnul Qayyim rahimahullah memaparkan bahwa tawakal menempati porsi separuh dari agama, sedangkan separuhnya lagi adalah inabah/kembali bertaubat dan semakin taat kepada Allah. Karena agama ini mencakup isti’anah/meminta pertolongan kepada Allah dan ibadah. Tawakal merupakan perwujudan dari isti’anah kepada Allah dan inabah itu pada hakikatnya adalah ibadah itu sendiri. Sehingga kedudukan tawakal ini kedudukan yang paling luas dan paling lengkap (lihat Taisirul Wushul, hal. 117)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal niscaya Allah akan memberikan rizki kepada kalian sebagaimana Allah berikan rizki kepada burung; ia pergi di pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi, beliau -Tirmidzi- menyatakan hadits ini hasan)
Diantara doa atau dzikir yang dianjurkan untuk dibaca pada pagi dan sore adalah :
يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ ، أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ ، وَلاَ تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ
“Wahai [Allah] Yang Mahahidup lagi Mahamenegakkan segala urusan, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan -di saat kesusahan-, perbaikilah keadaanku semuanya, dan janganlah Engkau telantarkan diriku dan sandarkan aku kepada diriku walaupun hanya sekejap mata.” (HR. Nasa’i dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu)
Dzikir ini mengandung pelajaran betapa besarnya kebutuhan kita kepada bantuan dan pertolongan Allah. Kita butuh panduan dari Allah, kita butuh pemahaman yang benar dalam beragama, kita butuh taufik untuk bisa ikhlas dalam beramal, kita butuh petunjuk untuk bisa bersabar dalam menghadapi cobaan, karena pada dasarnya manusia itu tidak mengetahui apa-apa dan suka berbuat kezaliman.
Oleh sebab itu di dalam al-Qur’an, Allah menyebut kita sebagai orang-orang yang fakir/butuh kepada Allah. Kita semua lapar kecuali orang yang diberi makan oleh Allah. Kita semua telanjang kecuali orang yang diberi pakaian oleh Allah. Kita semua sesat kecuali orang yang diberi petunjuk oleh Allah.
Di dalam surat al-Fatihah yang kita baca di dalam sholat pada setiap rakaat pun pada hakikatnya kita telah mengikrarkan kebutuhan dan kelemahan kita di hadapan Allah. Ketika kita membaca kalimat wa iyyaka nasta’iin; dan hanya kepada-Mu ya Allah kami meminta pertolongan. Terkandung di dalamnya ajaran untuk bertawakal dan menyandarkan hati hanya kepada Allah. Tawakal merupakan tanda keimanan seorang hamba kepada Rabbnya.
Tawakal kepada Allah harus disertai dengan menempuh sebab atau usaha untuk mencapai tujuan. Sehingga tidak benar jika tawakal dimaknai dengan meninggalkan sebab/usaha. Justru orang yang bertawakal kepada Allah akan menempuh jalan dan usaha yang bisa mengantarkan kepada tujuan yang diinginkan. Meskipun demikian, kita tidak boleh menggantungkan hati kepada jalan, sebab atau cara yang kita ambil. Gantungkan hati kepada Allah semata…
Itulah makna dari kalimat laa haula wa laa quwwata illa billaah; tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah… Kalimat yang dianjurkan untuk dibaca ketika kita mendengar seruan adzan pada kalimat ‘hayya ‘alash sholaah, dan hayya ‘alal falaah‘ yang mengandung makna ‘mari menuju sholat, mari menuju kemenangan’… Karena kita tidak akan mampu mengerjakan sholat dan meraih kemenangan kecuali dengan pertolongan Allah…
Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com
Tulisan ini adalah seri ke-27 dari ‘Seri Baru Faidah Kitab Ushul Tsalatsah’
Silakan membaca seri terdahulu di tautan berikut ini [klik]
0 Komentar