Bismillah.
Pada bagian sebelumnya, kita telah menyebutkan beberapa hal penting yang sepatutnya kita mengerti dalam proses mengenal agama Islam. Kalau teman-teman belum baca monggo (silakan) bisa dibaca dulu ya di sini [buka]
Alhamdulillah, ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya tentang ‘Dari Mana Aku Belajar Islam?’. Kita semestinya selalu ingat bahwa belajar ilmu agama ini merupakan salah satu bentuk ibadah yang paling agung. Oleh sebab itu dibutuhkan padanya keikhlasan niat.
Dalam sebuah hadits sahih, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya amal-amal itu tergantung pada niatnya, dan bagi setiap orang -yang beramal- balasan sesuai dengan apa-apa yang dia niatkan…” (HR. Bukhari dan Muslim)
Para ulama telah menjelaskan bahwa ikhlas dalam mencari ilmu itu antara lain adalah dengan menghadirkan niat atau keinginan di dalam hati bahwa dia mencari ilmu untuk menyingkirkan kebodohan dari diri sendiri dan juga untuk memberikan manfaat serupa bagi orang lain. Artinya, menuntut ilmu agama itu bukan sekedar untuk memperluas wawasan…
Hasan al-Bashri rahimahullah menjelaskan bahwa ilmu itu ada dua jenis; ilmu di hati dan ilmu lisan. Ilmu yang meresap ke dalam hati itulah ilmu yang bermanfaat, sedangkan ilmu yang hanya berhenti di lisan maka itu menjadi hujjah/bukti bagi Allah untuk menjatuhkan hukuman bagi hamba.
Ikhlas dalam mencari ilmu sangatlah penting. Karena tanpa ikhlas orang akan terjangkiti virus riya’, ujub dan semacamnya. Ikhlas adalah kandungan kalimat iyyaka na’budu -dalam al-Fatihah- yang setiap hari dibaca oleh kaum muslimin di dalam sholatnya.
Guru kami Syaikh Walid Saifun Nashr hafizhahullah pernah menyampaikan nasihat bahwa ‘orang yang diberi taufik itu adalah yang menimba ilmu untuk diamalkan’. Syaikh Abdullah al-Mar’i hafizhahullah juga pernah menukil perkataan salah seorang ulama salaf yang maknanya ‘Sesungguhnya ilmu itu lebih diutamakan daripada yang lainnya disebabkan dengan ilmu itulah diwujudkan ketakwaan kepada Allah’. Artinya ilmu menjadi sarana untuk membuahkan ketakwaan dan amal salih.
Para ulama besar Islam dari masa ke masa selalu mengingatkan kepada para penimba ilmu untuk selalu menjaga niat dan keikhlasan hati dalam beramal. Termasuk di dalamnya adalah dalam mencari ilmu agama dan mendakwahkannya. Imam Bukhari rahimahullah pun meletakkan hadits niat itu di bagian awal kitab Sahihnya -kitab yang paling sahih setelah Kitabullah-. Hal itu mengisyaratkan wajibnya untuk terus meluruskan niat.
Ilmu yang sejati akan membuahkan rasa takut kepada Allah. Ilmu yang hakiki diperoleh dengan memahami petunjuk Allah berdasarkan dalilnya. Ilmu yang bermanfaat akan membersihkan dari dalam hati penyimpangan syubhat maupun kotoran syahwat. Ilmu yang menumbuhkan kesabaran dan keyakinan yang kuat. Ilmu yang melahirkan ibadah dan ketundukan kepada Allah.
Semoga Allah berikan taufik kepada kita untuk ikhlas…
Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com
Bagi yang tertarik silakan baca juga artikel ‘Sedikit faidah Seputar Hadits Niat’ di sini [buka]
0 Komentar