Bismillah.

Banyak diantara kaum muslimin yang kebingungan dari mana mereka harus belajar Islam. Maksudnya adalah mulai dari mana proses belajar itu. Atau bisa juga diartikan dari siapa mereka bisa belajar Islam. Dalam beberapa bagian ke depan tulisan ini berusaha mencoba memberikan jawaban untuk itu.

Pertama. Islam Sudah Sempurna

Sebelum kita lebih jauh melangkah maka ada satu prinsip mendasar yang harus diyakini oleh setiap muslim. Bahwa agama Islam ini adalah agama yang telah sempurna. Hal ini dengan jelas termaktub dalam al-Qur’an, yaitu firman Allah (yang artinya), “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, telah Aku cukupkan nikmat-Ku atas kalian, dan Aku telah ridha Islam sebagai agama bagi kalian.” (al-Ma-idah : 3)

Segala perkara yang bisa mendekatkan ke surga telah dijelaskan dengan gamblang, begitu pula segala hal yang mendekatkan ke neraka pun telah diterangkan dengan jelas. Oleh sebab itu para ulama menegaskan kaidah taslim/kepasrahan bagi setiap muslim terhadap ajaran agama Islam. Karena risalah itu berasal dari Allah, kewajiban nabi adalah menyampaikan, sedangkan tugas kita adalah taslim/tunduk dan pasrah mengikuti ajaran nabi tersebut. Allah berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang menaati rasul itu sesungguhnya dia telah taat kepada Allah.” (an-Nisa’ : 80)

Kedua. Tauhid Merupakan Intisari Agama Islam

Para nabi dan rasul yang diutus oleh Allah di atas muka bumi ini memiliki misi dakwah yang sama; yaitu mengajak manusia untuk beribadah kepada Allah dan meninggalkan sesembahan selain-Nya. Atau biasa dikenal dengan istilah dakwah tauhid. Allah berfirman (yang artinya), “Dan sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan; Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (an-Nahl : 36)

Tidak boleh menujukan ibadah dalam bentuk apa pun kepada selain Allah. Karena ibadah adalah hak-Nya semata. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak Allah atas segenap hamba adalah mereka wajib beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan dengan-Nya sesuatu apapun.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketiga. Belajar Ilmu Agama Merupakan Kunci Kebaikan

Hal ini merupakan ketetapan yang sangat mendasar di dalam agama. Sebagaimana ditunjukkan di dalam hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan niscaya Allah pahamkan dia dalam agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kebutuhan manusia kepada ilmu agama jauuh lebih besar daripada kebutuhan mereka kepada makanan dan minuman. Karena ilmu agama adalah sebab hidupnya hati, sedangkan makanan dan minuman adalah sebab hidupnya jasad. Kehidupan hati jauh lebih berharga daripada kehidupan fisik. Allah berfirman (yang artinya), “Pada hari itu (kiamat) tiada berguna harta dan keturunan kecuali bagi orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.” (asy-Syu’ara’ : 88-89)

Keempat. Para Sahabat Nabi adalah Generasi Terbaik Umat Ini

Hal itu sebagaimana diisyaratkan di dalam al-Qur’an yang menjelaskan pujian terhadap kaum Muhajirin dan Anshar. Allah berfirman (yang artinya), “Dan orang-orang yang terdahulu dan pertama-tama dari kalangan Muhajirin dan Anshar beserta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, maka Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya…” (at-Taubah : 100)

Metode beragama para sahabat itulah yang menjadi acuan kaum muslimin dalam memahami dan mengamalkan agama Islam. Yang hal itu tidak lain berlandaskan al-Qur’an dan as-Sunnah. Imam al-Auza’i rahimahullah berkata, “Wajib bagimu untuk mengikuti jejak-jejak orang terdahulu/salaf (yaitu para sahabat nabi) walaupun banyak orang yang menolakmu, dan jauhilah olehmu pendapat-pendapat akal manusia walaupun mereka menghiasinya dengan ucapan yang indah.”

Kelima. Wajib Mengenali Tujuan Hidup

Sebagai manusia kita wajib memahami apa tujuan hidup di alam dunia ini. Allah berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (adz-Dzariyat : 56). Ibadah kepada Allah mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhai oleh Allah, baik berupa ucapan, perbuatan, yang tampak maupun yang tersembunyi.

Ibadah kepada Allah tidak akan diterima apabila tercampuri dengan syirik. Allah berfirman (yang artinya), “Dan seandainya mereka itu berbuat syirik pasti lenyap semua amal yang dahulu pernah mereka kerjakan.” (al-An’am : 88). Oleh sebab itu ibadah tidak disebut ibadah yang benar kecuali apabila disertai dengan tauhid. Tauhid yakni memurnikan segala bentuk ibadah kepada Allah semata dan meninggalkan peribadatan kepada selain-Nya; apa pun bentuknya.

Keenam. Pintu Hidayah dari al-Qur’an

Sesungguhnya al-Qur’an merupakan panduan hidup bagi manusia dalam mencapai kebahagiaan hakiki. Allah berfirman (yang artinya), “Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku niscaya dia tidak akan tersesat dan tidak pula celaka.” (Thaha : 123). Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma menjelaskan bahwa di dalam ayat ini Allah telah memberikan jaminan bagi siapa saja yang membaca al-Qur’an dan mengamalkan ajaran yang ada di dalamnya bahwa dia tidak akan tersesat di dunia dan tidak akan celaka kelak di akhirat.

Bersambung insya Allah…

Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com


Redaksi

Redaksi al-mubarok.com dikelola oleh relawan dan pegiat dakwah Masjid Jami' al-Mubarok (MJM) YAPADI Yogyakarta

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *