Bismillah.

Sebagian manusia terkadang berletih-letih, bersusah-payah, memeras keringat, memutar otak, dan mengerahkan segala daya dan kemampuan untuk mencapai sebuah tujuan dan harapan. Tentu ini bukanlah perkara yang tercela. Sebab, Islam mengajari umatnya untuk berjuang keras dan menempuh usaha.

Akan tetapi keliru besar jika manusia bersandar kepada kemampuan atau kecerdasannya. Karena semua yang ada di alam semesta ini tunduk kepada Allah dan ketetapan-Nya. Allah Mengetahui segala sesuatu dan apa-apa yang bermanfaat dan membahayakan kita, jauh sebelum kita diciptakan.

Pada masa ini ketika kecanggihan teknologi telah merambah ke dalam sudut-sudut kehidupan masyarakat, banyak orang tertipu dan terlena. Mereka mengira bahwa hidayah dan kesuksesan itu semata-mata bergantung pada usaha dan keahlian mereka. Hal serupa pun telah terjadi di masa silam; ketika kekuasaan dan kekayaan telah memperdaya sosok seperti Fir’aun dan Qarun.

Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan bimbingan kepada kita untuk berdoa kepada Allah setiap hari meminta bantuan dan pertolongan-Nya untuk bisa meraih ilmu yang bermanfaat, amal salih dan rezeki yang baik. Tidak hanya itu, beliau bahkan mencontohkan untuk sering-sering berdoa kepada Allah meminta keteguhan hati di atas agama dan menuju ketaatan. Karena hati umat manusia ini berada diantara jari-jemari ar-Rahman.

Apa yang telah menimpa pada Abu Jahal berupa kesombongan, keangkuhah dan kekafiran adalah buah dari kerusakan aqidah dan ketergantungan hatinya kepada selain Allah. Begitu pula apa yang dialami oleh Abu Thalib setelah sekian lama membela dan melindungi dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam; itu semua tidak lepas dari gerak-gerik hati dan jeratan fitnah yang membelengu nurani. Dia takut dicela oleh kaumnya sebagai anak yang tidak mau melestarikan ajaran nenek moyang dan leluhurnya.

Begitu pula keajaiban takdir yang menimpa Abu Lahab; yang saat dia masih hidup telah diberitakan tentang nasibnya di neraka, dan ternyata dia pun hingga akhir hayat tidak mau tunduk kepada Islam dan wahyu dari Rabb penguasa alam semesta. Ini merupakan pelajaran iman dan nasihat aqidah yang sangat bermanfaat bagi kita; bahwa kecerdasan, kekuasaan, kekayaan dan kekuatan tidak bisa menjamin keselamatan dan kebahagiaan seorang hamba. Jangan anda jumawa!!

Hakikat orang yang mendapatkan taufik dari Allah adalah Allah tidak menyandarkan dirinya kepada kemampuan dirinya sendiri. Oleh sebab itu diantara dzikir pagi petang yang dipanjatkan seorang muslim adalah ‘Yaa hayyu, yaa qayyumu bi rahmatika astaghiitsu, ashlih li sya’ni kullah wa laa takilni ila nafsi tharfata ‘ainin’ artinya, “Wahai Yang Maha Hidup, Wahai Yang Maha Menegakkan -segala urusan- dengan rahmat-Mu aku minta keselamatan, perbaikilah urusanku semuanya, dan janganlah Engkau sandarkan aku kepada diriku sendiri walaupun hanya sekejap mata.” (HR. al-Hakim dan beliau menyatakan sahih dan disepakati oleh adz-Dzahabi)  

Mutharrif bin Abdillah bin asy-Syikhkhir rahimahullah berkata, “Seandainya kebaikan ada di telapak tangan salah seorang dari kita. Niscaya dia tidak akan sanggup menuangkan kebaikan itu ke dalam hatinya kecuali apabila Allah ‘azza wa jalla yang menuangkannya ke dalam hatinya.” (lihat Aqwal Tabi’in fi Masa’il at-Tauhid wa al-Iman [1/131])

Asas segala kebaikan adalah pengetahuanmu bahwasanya apa pun yang Allah kehendaki pasti terjadi dan apa saja yang tidak Allah kehendaki tidak akan bisa terjadi. Pada saat itulah akan tampak jelas bahwa segala kebaikan bersumber dari nikmat-Nya sehingga kamu harus bersyukur atasnya. Kamu harus merendahkan diri dan memohon kepada-Nya jangan sampai Dia memutus nikmat itu darimu. Begitu pula, akan tampak jelas bahwa segala keburukan karena Allah tidak memperdulikan dan sebagai hukuman dari-Nya. Oleh sebab itu seharusnya kamu berdoa dan berlindung kepada-Nya agar Dia menjagamu dari terjerumus ke dalamnya dan supaya Allah tidak membiarkan kamu tanpa bantuan dalam melakukan kebaikan maupun meninggalkan keburukan. Semua orang yang arif sepakat bahwasanya segala kebaikan bersumber dari taufik Allah kepada hamba. Dan segala keburukan sumbernya adalah ketika Allah tidak memperhatikan keadaan hamba-Nya. Mereka pun sepakat bahwa hakikat taufik itu adalah Allah tidak menyandarkan urusanmu kepada dirimu sendiri. Adapun khudzlan/diabaikan itu tatkala Allah membiarkan kamu mengurus dirimu sendiri tanpa bantuan-Nya. Apabila semua kebaikan bersumber dari taufik, sementara ia ada di tangan Allah bukan di tangan hamba. Maka kunci untuk membukanya adalah dengan berdoa, merasa butuh di hadapan-Nya, memulangkan segala permasalahan kepada-Nya, dan senantiasa menyimpan harap dan takut kepada-Nya (lihat al-Fawa’id, hal. 94 cet. Dar al-‘Aqidah)

Setiap hari kaum muslimin berdoa kepada Allah meminta hidayah. Tidak kurang tujuh belas kali dalam sehari semalam kita memohon kepada Allah, “Tunjukilah kami jalan yang lurus.” 

Hal ini menunjukkan bahwa hidayah adalah kebutuhan setiap insan. Kebutuhan yang sangat mendesak baginya. Karena dengan hidayah itulah ia akan tetap teguh di atas iman dan islam serta melangkah meniti jalan kebenaran. Kalau bukan karena hidayah dari Allah maka manusia akan tenggelam dalam kebatilan, syirik, kekafiran, dan maksiat.

Ibnul Jauzi rahimahullah menyebutkan dalam tafsirnya tiga riwayat tafsiran Ibnu Abbas mengenai makna ‘ihdinaa’; yaitu bermakna ‘arsyidnaa’ (bimbinglah kami), ‘waffiqnaa’ (berikan taufik kepada kami), dan ‘alhimnaa’ (berikan ilham kepada kami) (lihat Zaad al-Masiir, hal. 34)

Dari sini kita bisa menarik kesimpulan, bahwa untuk bisa berjalan di atas kebenaran seorang hamba membutuhkan bimbingan, taufik, ilham, dan keteguhan serta pertolongan dari Allah. Taufik, ilham dan keteguhan adalah anugerah dari Allah, tidak bisa diberikan oleh siapa pun juga bahkan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam sekalipun. Allah berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya kamu tidak bisa memberikan petunjuk kepada siapa yang kamu cintai, akan tetapi Allah lah yang memberikan petunjuk/taufik kepada siapa yang dikehendaki-Nya.” (al-Qashash : 56)

Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com


Redaksi

Redaksi al-mubarok.com dikelola oleh relawan dan pegiat dakwah Masjid Jami' al-Mubarok (MJM) YAPADI Yogyakarta

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *