Bismillah.
Diantara pelajaran berharga yang telah disampaikan oleh para ulama terhadap kitab Ushul Tsalatsah adalah tegaknya hujjah bagi para hamba dengan diturunkannya wahyu al-Qur’an. Oleh sebab itu dikatakan oleh Imam Syafi’i rahimahullah ketika mengomentari kandungan surat al-‘Ashr, “Seandainya Allah tidak menurunkan hujjah kepada makhluk-Nya selain surat ini niscaya ini sudah cukup bagi mereka.”
Syaikh Muhammad at-Tamimi rahimahullah telah membawakan surat al-Ashr untuk menunjukkan bahwa kewajiban untuk berilmu, beramal, berdakwah dan sabar dilandasi dengan dalil dari al-Qur’an. Beliau pun mengutip ucapan Imam Syafi’i di atas untuk menegaskan bahwa surat al-‘Ashr ini memiliki kandungan ilmu yang sangat penting bagi segenap manusia.
Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan bahwa melalui surat ini Allah menjelaskan bahwa orang-orang yang beruntung hanyalah yang memadukan dalam dirinya iman, amal salih, saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati untuk menetapi kesabaran. Inilah hujjah yang tegak bagi para hamba untuk mewujudkan iman yang benar kepada Allah dan Rasul-Nya, beramal salih, saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati untuk menetapi kesabaran. Tidak ada jalan menuju kebahagiaan dan keberuntungan kecuali dengan keempat sifat ini (lihat Syarh Samahati Syaikh Ibni Baz ‘ala al-Ushul ats-Tsalatsah, hal. 12)
Sementara tidak akan terwujud iman yang benar kecuali dengan landasan ilmu; yang itu mencakup mengenal Allah, mengenal nabi-Nya dan mengenal agama Islam dengan dalil (lihat Syarh al-Ushul ats-Tsalatsah oleh Syaikh Shalih al-Fauzan, hal. 29 cet. Mu’assasah ar-Risalah 1427 H)
Kemudian, penulis (Syaikh Muhammad at-Tamimi) membawakan ucapan Imam Bukhari dalam Sahih-nya bahwa ilmu sebelum ucapan dan amalan. Hal itu dilandasi dengan firman Allah dalam surat Muhammad ayat 19 (yang artinya), “Maka ketahuilah bahwa tidak ada ilah/sesembahan yang benar selain Allah dan mintalah ampun atas segala dosamu…” Lantas Imam Bukhari mengatakan, “Maka Allah pun mengawali dengan ilmu sebelum ucapan dan amalan.”
Ini adalah pelajaran yang sangat berharga bagi kita bahwa ucapan dan amalan tidak akan benar kecuali apabila dilandasi dengan ilmu. Hal ini selaras dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya niscaya Allah pahamkan dia dalam agama.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Mu’awiyah radhiyallahu’anhu)
Para ulama Ahlus Sunnah pun telah menjelaskan bahwa iman itu mencakup ucapan dan amalan. Ucapan dan pengakuan dengan lisan, pembenaran dan keyakinan di dalam hati, dan diamalkan dengan segenap anggota badan. Iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Iman itu terdiri dari tujuh puluh lebih cabang; yang paling tinggi adalah ucapan laa ilaha illallah, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu adalah salah satu cabang keimanan.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu)
Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com
0 Komentar