Bismilllah.
Diantara perkara yang sangat penting diperhatikan adalah bahwa Islam memberikan gambaran yang sangat jelas tentang pentingnya tauhid bagi setiap manusia. Karena tauhid itulah yang menjadi hikmah dan tujuan keberadaan mereka di atas muka bumi ini.
Apabila kita membahas tentang tauhid maka tidak bisa lepas dari konsep ibadah. Sebab tauhid itu merupakan pemurnian ibadah kepada Allah. Di sisi lain, ibadah yang diperintahkan kepada kita bukanlah ibadah dalam makna yang sempit. Akan tetapi ibadah yang mencakup segala hal yang dicintai dan diridhai Allah; sebagaimana ta’rif atau definisi ibadah yang dituturkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah.
Salah satu murid terbaik Ibnu Taimiyah yaitu Ibnul Qayyim rahimahullah pun memaparkan bahwa ibadah kepada Allah itu harus memadukan antara dua unsur pokok; puncak kecintaan dan puncak perendahan diri. Kecintaan akan tumbuh dengan terus-menerus menyaksikan curahan nikmat kepada hamba; ini yang dikenal dengan istilah musyahadatul minnah. Adapun perendahan diri kepada Allah akan tumbuh dari sikap mawas diri dan menyadari aib pada diri dan amal perbuatan kita. Ini yang disebut dengan istilah muthola’atu ‘aibin nafsi wal ‘amal.
Syaikh Muhammad at-Tamimi rahimahullah memberikan keterangan yang sangat berharga bahwa ibadah tidaklah disebut sebagai ibadah yang benar kecuali apabila disertai dengan tauhid. Sebagaimana halnya sholat tidak dikatakan sebagai sholat yang diterima kecuali apabila disertai dengan thaharah/bersuci. Dan apabila kita cermati lebih dalam bahwa tauhid itu sendiri hakikatnya adalah pembersihan hati dan amal dari kotoran syirik dan kemunafikan.
Dalam bukunya 10 Kaidah dalam Penyucian Jiwa, Syaikh Abdurrazzaq al-Badr hafizhahullah memberikan pandangan yang begitu indah; bahwasanya tauhid merupakan pokok atau landasan utama yang akan mewujudkan kesucian jiwa. Dari sini kita bisa mengerti bahwa aqidah tauhid merupakan kunci utama dalam tazkiyatun nufus. Hal ini juga mengisyaratkan bahwa penyucian jiwa adalah bagian tak terpisahkan dari ajaran tauhid dan keikhlasan.
Dalam Fathul Majid, Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah telah menjelaskan bahwa perealisasian tauhid -yang sempurna- adalah dengan membersihkan tauhid itu dari kotoran syirik, bid’ah dan maksiat. Dengan demikian dakwah tauhid akan selalu memperhatikan kondisi iman dalam diri kaum muslimin. Iman terkadang bertambah dengan amal ketaatan dan terkadang berkurang atau melemah karena perbuatan maksiat.
Di dalam Kitab Tauhid-nya, Syaikh Muhammad at-Tamimi rahimahullah telah membuat bab khusus yang membahas keutamaan tauhid; bahwa tauhid yang bersih dari syirik adalah sebab datangnya keamanan dan hidayah. Allah berfirman (yang artinya), “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri imannya dengan kezaliman (syirik) mereka itulah orang yang diberikan keamanan dan mereka itulah orang yang diberi petunjuk.” (al-An’am : 82)
Menjaga kebersihan iman dari kotoran syirik adalah sebuah perjuangan besar dalam perjalanan hidup. Termasuk di dalamnya adalah menjaga keikhlasan hati dalam beramal salih. Oleh sebab itu sebagian ulama terdahulu mengatakan, “Tidaklah aku berjuang menundukkan diriku dengan sebuah perjuangan yang lebih berat daripada perjuangan untuk menuju keikhlasan.”
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah pun mengungkapkan nasihat yang senada dalam kitabnya al-Wabil ash-Shayyib. Beliau menjelaskan bahwa bukanlah yang menjadi perkara itu seputar amalan itu sendiri, tetapi yang jauh lebih berat adalah bagaimana cara untuk menjaga amal itu dari hal-hal yang merusak dan mengotorinya. Seperti contohnya riya’/ingin mencari pujian orang, adalah perkara yang merusak keikhlasan.
Inilah diantara rahasia mengapa para ulama terdahulu mengawali kitab-kitab hadits dan akhlak yang mereka tulis dengan hadits Innamal a’maalu bin niyaat. Karena ketulusan niat dan keikhlasan adalah harga mati dalam penghambaan kepada Allah. Ia menjadi asas dalam ibadah dan kemuliaan akhlak. Bahkan diantara ulama terdahulu pun ada yang menyusun kitab khusus tentang ikhlas dan niat, seperti Imam Ibnu Abid Dun-ya rahimahullah.
Dalam hadits qudsi, Allah berfirman (yang artinya), “Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa yang melakukan suatu amalan seraya mempersekutukan Aku dengan selain-Ku niscaya Aku tinggalkan dia dan syiriknya itu.” (HR. Muslim). Ibnul Mubarok rahimahullah berkata, “Betapa banyak amal yang kecil menjadi besar karena niatnya dan betapa banyak amal yang besar justru menjadi kecil juga karena niatnya.”
Dan diantara kelompok manusia yang paling beresiko terkena riya’ dan perusak tauhid adalah orang yang berjuang di medan dakwah. Oleh sebab itulah Syaikh Muhammad at-Tamimi rahimahullah telah memperingatkan dalam Kitab Tauhid; bahwa banyak orang yang menyeru kepada kebenaran tetapi sesungguhnya dia sedang mengajak manusia kepada kepentingan dirinya sendiri, bukan demi membela agama atau keimanan.
Kita tentu masih ingat kisah 3 orang yang pertama kali diadili pada hari kiamat dan dijadikan sebagai bahan bakar api neraka; mereka adalah orang-orang yang melakukan amal-amal hebat secara lahiriah; mujahid yang berjuang di medan perang, orang yang ahli ilmu dan ahli membaca al-Qur’an, dan orang yang rajin bersedekah. Ketiganya terbukti di hadapan Allah sebagai orang-orang yang tidak ikhlas dalam beramal salih. Karena mereka berniat dengan amalnya itu demi mencari pujian dan kedudukan di mata manusia. Wal ‘iyaadzu billaah.
Allah berfirman (yang artinya), “Dan Kami hadapi segala amal yang dahulu mereka kerjakan, lantas Kami jadikan ia bagaikan debu-debu yang beterbangan.” (al-Furqan : 23). Sehingga semua bentuk amal salih itu membutuhkan keikhlasan dan tauhid. Para ulama pun menegaskan bahwa amal-amal itu menjadi berbeda-beda tingkatannya di hadapan Allah berdasarkan apa yang ada dalam hati pelakunya berupa iman dan keikhlasan.
Hal ini mengingatkan kita akan nasihat sebagian ulama, bahwa orang yang berakal itu adalah yang mengerti akan hakikat dirinya dan tidak terpedaya oleh pujian orang-orang yang tidak mengenali seluk-beluk kondisi hati dan keimanannya. Jangan pernah kita merasa besar dan hebat dengan amal yang pernah kita lakukan, sebab semua kebaikan itu terwujud berkat taufik dan pertolongan Allah kepada kita.
Inilah kiranya yang dimaksud oleh para ulama besar semacam Sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, bahwa bukanlah ilmu itu semata-mata dengan banyaknya riwayat atau hafalan yang dimiliki seseorang. Akan tetapi ukuran ilmu adalah sejauh mana ia membuahkan rasa takut kepada Allah. Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah mengatakan, “Orang yang alim/berilmu tetap dalam kebodohan selama dia belum mengamalkan ilmunya. Apabila dia telah beramal dengan ilmunya barulah dia benar-benar menjadi orang yang ‘alim.”
Dari sana lah para ulama salaf Ahlus Sunnah wal Jama’ah selalu mengedepankan dakwah tauhid di atas semua seruan dan gerakan. Bukan karena kita ingin menendang orang lain atau menjatuhkan si fulan dan ‘allan. Akan tetapi demi membersihkan hati kita dari penghambaan kepada makhluk dan penjajahan hawa nafsu. Betapa butuhnya kita di masa ini kepada orang-orang (para ulama) yang mengingatkan untuk ikhlas dalam beramal. Orang yang menasihati bukan hanya dengan lisannya tetapi juga dengan contoh nyata dan praktek di medan kehidupan…
Walllahul musta’aan.
Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com
0 Komentar