Seri Faidah Kitab Tauhid [9]
Bismillah.
Alhamdulillah pada kesempatan ini kita bisa berjumpa kembali dalam seri faidah Kitab Tauhid karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.
Bismillah.
Alhamdulillah pada kesempatan ini kita bisa berjumpa kembali dalam seri faidah Kitab Tauhid karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.
Surat ini disebut al-Fatihah (pembuka) karena ia menjadi pembuka tulisan ayat-ayat al-Qur’an. Demikian pula ia menjadi pembuka bacaan di dalam sholat. al-Fatihah juga disebut dengan Ummul Kitab (induk al-Qur’an) sebagaimana pendapat jumhur/mayoritas ulama. Disebutkan dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “alhamdulillah (surat al-Fatihah) adalah induk al-Qur’an, as-Sab’ul Matsaani (tujuh ayat yang diulang-ulang) dan al-Qur’an al-‘Azhim (bacaan yang agung).” (HR. Tirmidzi dan beliau mensahihkannya, Syaikh al-Albani pun mensahihkan hadits ini) (lihat Tafsir Ibnu Katsir, 1/101, Sahih Sunan Tirmidzi no. 3124)
Di dalam al-Wajibat, Syaikh Abdullah bin Ibrahim al-Qar’awi hafizhahullah berkata :
فإذا قيل لك: من ربك؟ فقل: ربي الله، الذي ربَّاني وربَّى جميع العالمين بنعمته، وهو معبودي، ليس لي معبودٌ سواه
Apabila ditanyakan kepadamu “Siapa Rabbmu?” jawablah “Rabbku adalah Allah Yang telah mentarbiyahku dan mentarbiyah seluruh alam dengan nikmat-nikmat-Nya. Dia lah sesembahanku, tidak ada bagiku sesembahan selain-Nya.”
Bismillah.
Pada bagian sebelumnya telah disebutkan faidah-faidah dari ayat ke-56 dalam surat adz-Dzariyat yang dibawakan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah di bagian awal Kitab Tauhid ini. Berikut ini akan kami lanjutkan insya Allah dengan menyebutkan beberapa pelajaran dan faidah yang disebutkan oleh para ulama.
Iman kepada Allah mencakup iman terhadap wujud Allah, iman terhadap rububiyah-Nya, uluhiyah-Nya, dan asma’ wa shifat-Nya. Oleh sebab itu wajib mentauhidkan Allah dalam hal rububiyah, uluhiyah, dan asma’ wa shifat (lihat keterangan Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbad hafizhahullah dalam Kutub wa Rasa’il Abdil Muhsin, 3/28)
Salah satu diantara keadaan umat akhir zaman yang sangat memprihatinkan adalah ketidakmengertian banyak orang yang mengaku muslim tentang makna kalimat tauhid. Banyak diantara mereka yang menyangka bahwa tauhid itu adalah dengan meyakini Allah itu satu dan tidak terbagi. Atau tauhid itu adalah meyakini Allah sebagai satu-satunya pencipta.
Bismillah.
Kaum muslimin yang dirahmati Allah, berikut ini kami sajikan rekaman seri pelajaran Qawa’id Arba’ atau Empat Kaidah Pokok karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Kaum muslimin yang dirahmati Allah, istilah tauhid sudah sering kita dengar. Meskipun demikian, banyak orang yang masih rancu dalam memahami hakikat tauhid itu sendiri. Sebagian menganggap bahwa tauhid adalah dengan meyakini bahwa Allah itu satu, tidak berbilang. Itu sudah cukup menurut mereka. Sebagian lagi mengira, tauhid adalah mempercayai Allah pencipta alam dan penguasanya, dsb.
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidaklah kebanyakan mereka itu -orang-orang musyrik- beriman kepada Allah kecuali dalam keadaan mereka juga berbuat syirik.”
Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menerangkan :
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Wahai manusia, sembahlah Rabb kalian; yaitu yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian bertakwa. Dzat yang telah menjadikan bagi kalian bumi sebagai hamparan dan langit sebagai atap serta yang menurunkan dari langit air [hujan] maka Allah keluarkan dengan sebab air itu berbagai buah-buahan sebagai rizki untuk kalian. Oleh sebab itu janganlah kalian menjadikan bagi Allah tandingan-tandingan, sementara kalian mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 21-22)