Bercak Kemusyrikan

Syaikh Abdul Karim al-Khudhair hafizhahullah pernah ditanya :

لو سمحتم أن توضحوا مسألة: ارتكاب المعاصي وترك الواجبات لا يسلم من شوب شرك؟

Kalau sekiranya anda berkenan mohon jelaskan perkara : bergelimang maksiat dan meninggalkan kewajiban itu tidak terlepas dari bercak/noda kesyirikan?

(lebih…)

Hakikat Seorang Hamba

Sesungguhnya hakikat seorang hamba itu terletak pada hati dan ruhnya. Sementara hati dan ruh itu tidak akan baik kecuali dengan menghamba kepada Tuhannya yaitu Allah yang tidak ada sesembahan yang benar selain-Nya. Maka dia tidak akan merasakan ketenangan di dunia ini kecuali dengan berdzikir kepada-Nya. Jiwanya akan terus berusaha menggapai keridhoan-Nya dan ia pasti akan bertemu dengan-Nya. Perjumpaan dengan-Nya itu pasti. Dan tidak ada kebaikan baginya kecuali dengan bertemu dengan-Nya.

(lebih…)

Untaian Nasihat Ulama (7)

Bagian 7.
Bahaya Syirik

Berhala di dalam Hati

Syaikh Abdullah bin Shalih al-‘Ubailan hafizhahullah mengatakan, “Ketahuilah, bahwa tauhid dan mengikuti hawa nafsu adalah dua hal yang bertentangan. Hawa nafsu itu adalah berhala, dan setiap hamba memiliki ‘berhala’ di dalam hatinya sesuai dengan kadar hawa nafsunya. Sesungguhnya Allah mengutus para rasul-Nya dalam rangka menghancurkan berhala dan supaya -manusia- beribadah kepada Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya. Bukanlah maksud Allah subhanahu adalah hancurnya berhala secara fisik sementara ‘berhala’ di dalam hati dibiarkan. Akan tetapi yang dimaksud ialah menghancurkannya mulai dari dalam hati, bahkan inilah yang paling pertama tercakup.” (lihat Al-Ishbah fi Bayani Manhajis Salaf fi At-Tarbiyah wa Al-Ishlah, hal. 41)

(lebih…)

Untaian Nasihat Ulama (5)

Bagian 5.
Sabar, Syukur, dan Istighfar

Musibah dan Kenikmatan

Syaikh Abdurrazzaq al-Badr hafizhahullah berkata, “Seorang mukmin ketika tertimpa musibah bersabar. Ketika mendapat nikmat dia menjadi orang yang bersyukur. Pada saat tertimpa musibah-musibah dia berhasil meraih pahala orang-orang yang sabar, dan pada saat mendapat kenikmatan dia menuai pahala orang-orang yang bersyukur. Oleh sebab itu dia beruntung dalam kedua keadaan ini.” (lihat Syarh Qawa’id Arba’ Syaikh Abdurrazzaq al-Badr, hal. 12)

(lebih…)