Bismillah.

Diantara pelajaran yang paling berharga di dalam risalah Ushul Tsalatsah adalah memahami maksud dan tafsir dari kalimat syahadat laa ilaha illallah, yang mana banyak orang salah dalam memahaminya.

Penulis rahimahullah berkata :

وَتَفْسِيرُهَا الَّذِي يُوَضِّحُهَا قَوْلُهُ تَعَالَى:

{وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَاءٌ مِمَّا تَعْبُدُونَ – إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ – وَجَعَلَهَا كَلِمَةً بَاقِيَةً فِي عَقِبِهِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ} [الزخرف: ٢٦ – ٢٨]

وقَوْلُهُ تَعَالَى: {قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ} [آل عمران: ٦٤] 

Tafsirnya yang menjelaskan maknaya adalah firman Allah (yang artinya), “Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya dan kaumnya; Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa-apa yang kalian sembah kecuali dari Allah Yang menciptakanku, karena sesungguhnya Dia pasti akan memberi petunjuk kepadaku. Dan dia (Ibrahim) menjadikan kalimat itu tetap dipertahankan pada keturunannya, mudah-mudahan mereka mau kembali.” (az-Zukhruf : 26 – 28)

Dan firman Allah (yang artinya), “Katakanlah; Wahai ahlul kitab, kemarilah menuju suatu kalimat yang sama/adil antara kami dengan kalian; Yaitu janganlah kita beribadah kecuali kepada Allah, dan janganlah kita mempersekutukan dengan-Nya sesuatu apapun, dan tidak boleh sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai rabb/sesembahan tandingan bagi Allah. Maka apabila mereka berpaling ucapkanlah; Persaksikanlah bahwa kami ini adalah orang-orang muslim.” (Ali ‘Imran : 64)

Kedua ayat yang dibawakan oleh penulis -Syaikh Muhammad at-Tamimi- rahimahullah menggambarkan kepada kita bahwa al-Qur’an telah menjelaskan secara gamblang mengenai makna kalimat tauhid yang itu menjadi intisari ajaran dari semua nabi dan rasul.

Di dalamnya terkandung keyakinan bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah saja. Dan wajib untuk berlepas diri dari syirik dan pelakunya. Ibadah kepada Allah tidak akan diterima apabila tercampuri dengan syirik. Inilah makna kalimat tauhid yang mana tidak akan diterima amal apa pun apabila tidak dilandasi dengannya. Inilah pokok agama Islam….

Dari sini kita mengetahui kekeliruan sebagian kalangan yang memahami kalimat tauhid hanya dengan makna tauhid rububiyah; bahwa tidak ada pencipta, pengatur alam dan pemberi rezeki selain Allah. Apabila kalimat tauhid sekedar berhenti pada makna tauhid rububiyah ini niscaya orang-orang kafir di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan menolak dakwahnya. Sebab mereka pun meyakini hal itu bahwa Allah sebagai pencipta, penguasa dan pengatur alam semesta.

Dari sini kita juga bisa memahami sisi kekeliruan orang yang menafsirkan kalimat tauhid dengan tidak ada penetap hukum selain Allah atau yang sering disebut dengan istilah tauhid hakimiyah. Atau dengan bahasa yang lain dinamakan sebagai tauhid mulkiyah. Sebab penetapan hukum adalah bagian dari rububiyah Allah. Begitu pula mengatur alam adalah bagian dari rububiyah Allah.

Di sisi lain menerapkan hukum Allah -dengan makna hukum syariat sebagaimana yang dipahami banyak orang- adalah bagian kecil dari ibadah kepada Allah. Sehingga berhukum dengan hukum Allah ini adalah sebagian saja dari tauhid ibadah atau tauhid uluhiyah; belum mencakup ibadah secara luas. Apabila mereka menjadi penafsiran ini -tiada hakim/penentu hukum selain Allah- sebagai makna utama dari kalimat laa ilaha illallah jelas itu adalah kekeliruan.

Termasuk kekeliruan dalam memahami kalimat tauhid ini adalah dengan memaknai laa ilaha illallah dengan tiada tuhan selain Allah atau tiada sesembahan selain Allah. Sebab yang dinafikan adalah sesembahan yang benar selain Allah. Adapun sesembahan yang batil maka ada bahkan banyak. Selain itu kalimat ‘tiada tuhan selain Allah’ sering dipahami dengan makna ‘tiada pencipta selain Allah’ dan ini jelas kekeliruannya dari sisi bahwa itu bukan makna dari laa ilaha illallah. Karena ‘ilah’ bermakna ma’bud atau sesembahan, bukan pencipta.

Lebih parah lagi jika orang memahami laa ilaha illallah dengan makna ‘tiada yang disembah selain Allah’; artinya ‘semua yang disembah oleh manusia maka itu adalah Allah’. Maka ini adalah keyakinan wahdatul wujud atau bersatunya hamba dengan tuhan yang sangat jelas kebatilannya.

Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com

Tulisan ini adalah seri ke-39 dari ‘Seri Baru Faidah Kitab Ushul Tsalatsah’

Silakan membaca seri terdahulu di tautan berikut ini [klik]


Redaksi

Redaksi al-mubarok.com dikelola oleh relawan dan pegiat dakwah Masjid Jami' al-Mubarok (MJM) YAPADI Yogyakarta

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *