Bismillah.
Alhamdulillah dengan taufik dari Allah semata kita dapat kembali melanjutkan seri pembahasan tafsir ayat-ayat yang dibawakan oleh Syaikh Muhammad at-Tamimi rahimahullah dalam Kitab Tauhid.
Pada bagian ini kita akan masuk pada pembahasan bab baru yaitu bab keutamaan tauhid, penulis membawakan firman Allah dalam surat al-An’am :
الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri imannya dengan kezaliman/syirik; mereka itulah orang-orang yang diberikan keamanan dan mereka itulah orang-orang yang diberikan petunjuk.” (al-An’am : 82)
Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan :
أي : هؤلاء الذين أخلصوا العبادة لله وحده لا شريك ، له ، ولم يشركوا به شيئا هم الآمنون يوم القيامة ، المهتدون في الدنيا والآخرة
“Yaitu mereka itu adalah orang-orang yang memurnikan ibadah kepada Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya, mereka tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun. Mereka itulah golongan orang yang diberikan keamanan pada hari kiamat dan diberi hidayah di dunia dan di akhirat.” (lihat Tafsir Ibnu Katsir, dikutip dari https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/katheer)
Ayat yang agung ini mengandung pelajaran yang sangat berharga, bahwa keamanan dan hidayah akan diberikan kepada orang yang bertauhid dan tidak mencampuri tauhidnya dengan syirik; sebab syirik merupakan bentuk kezaliman yang paling besar.
Allah berfirman :
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“Ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya ketika sedang memberikan nasihat untuknya; ‘Wahai ananda, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang sangat besar.” (Luqman : 13)
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu :
لما نزلت : ( الذين آمنوا ولم يلبسوا إيمانهم بظلم ) [ الأنعام : 82 ] ، شق ذلك على أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم ، وقالوا : أينا لم يلبس إيمانه بظلم ؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ” إنه ليس بذاك ، ألا تسمع إلى قول لقمان : ( يا بني لا تشرك بالله إن الشرك لظلم عظيم )
“Ketika turun ayat ‘Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri imannya dengan kezaliman’ (al-An’am : 82) maka hal itu terasa berat bagi para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka mengatakan ‘Siapakah diantara kami yang tidak mencampuri imannya dengan kezaliman (maksiat)? Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Sesungguhnya bukan itu maksudnya, tidakkah kalian mendengar ucapan Luqman, ‘Wahai ananda, janganlah kamu berbuat syirik kepada Allah, sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang sangat besar.“
Hadits ini menunjukkan kepada kita bahwa kezaliman yang dimaksud dalam ayat di atas adalah syirik -sebagaimana tafsiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Syirik merupakan bentuk kezaliman paling besar yang menghalangi dari hidayah dan keamanan. Orang yang berbuat syirik dan meninggal di atasnya maka dia akan masuk neraka dan terhalang dari nikmatnya surga.
Adapun orang yang melakukan kezaliman lain yang di bawah tingkatan syirik (dosa-dosa besar) maka dia berada di bawah kehendak Allah; jika Allah berkehendak maka Allah ampuni, dan jika Allah berkehendak lain maka Allah akan menghukumnya di neraka untuk membersihkan dosanya lalu pada akhirnya dia dimasukkan ke dalam surga; inilah keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengenai para pelaku dosa besar.
Dari sinilah kita bisa mengetahui betapa besar keutamaan tauhid bagi kaum muslimin. Bahwa ia menjadi kunci utama keselamatan dan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Karena manusia tidak akan berbahagia kecuali dengan curahan hidayah dan limpahan keamanan dari Allah. Sementara hidayah dan keamanan itu hanya akan diberikan kepada orang-orang yang bertauhid dan membersihkan dirinya dari segala bentuk syirik.
Hal ini mengisyaratkan kepada kita tentang besarnya bahaya syirik; bahwa ia menjadi sumber utama malapetaka kehidupan umat manusia. Orang yang meninggal dalam keadaan berbuat syirik besar dan tidak bertaubat darinya maka ia akan kekal di dalam neraka. Adapun pelaku syirik kecil -menurut pendapat sebagian ulama- dosanya juga tidak diampuni dan akan ditimbang dengan amal-amalnya; jika lebih berat dosanya maka dia harus masuk neraka terlebih dulu, walaupun pada akhirnya mereka juga masuk surga dengan imannya.
Semoga sedikit catatan ini bermanfaat bagi kami dan segenap pembaca. Wallahu a’lam.
Disusun di markas YPIA Pogungrejo, Rabiul Akhir 1447 H
Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com
Silakan baca seri terdahulu di sini [klik]
0 Komentar