Bismillah.
Diantara faidah paling berharga di dalam risalah Ushul Tsalatsah adalah pengenalan tentang pokok aqidah Islam dan keimanan kepada Allah; yaitu wajibnya mengenal Allah dengan ayat-ayat-Nya dan makhluk ciptaan-Nya.
Syaikh Muhammad at-Tamimi rahimahullah membawakan dalil :
إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
“Sesungguhnya Rabb kalian adalah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, kemudian Allah istiwa’/menetap tinggi di atas Arsy, Allah menutupkan malam kepada siang; yang mana malam itu mengikuti siang dengan cepat, Allah juga menciptakan maatahari, bulan, dan bintang-bintang; itu semuanya ditundukkan dengan perintah Allah. Ketahuilah, hanya wewenang Allah menciptakan dan memerintah. Mahaberkah Allah Rabb seru sekalian alam.” (al-A’raf : 54)
Kemudian, Syaikh juga menyimpulkan bahwa Rabb inilah yang berhak untuk disembah.
Beliau berkata :
وَالرَّبُ هُوَ الْمَعْبُودُ، وَالدَّلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَى: {يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Rabb itulah yang layak disembah, dalilnya adalah firman Allah (yang artinya), “Wahai manusia, sembahlah Rabb kalian; Yang menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian bertakwa…” (al-Baqarah : 21-22)
Hal ini kembali menunjukkan kepada kita bahwa tauhid rububiyah merupakan dalil yang paling kuat dan paling jelas untuk menetapkan tauhid ibadah. Barangsiapa yang mengakui bahwa Allah satu-satunya pencipta dan penguasa alam ini maka wajib baginya untuk menujukan ibadahnya kepada Allah semata.
Allah berfirman (yang artinya), “Itulah Allah Rabb kalian, milik-Nya semata kerajaan. Tidak ada sesembahan yang benar kecuali Dia, maka kemanakah kalian hendak dipalingkan.” (az-Zumar : 6)
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Hendaklah mereka menyembah Rabb/pemilik rumah ini (Ka’bah) Yang telah memberikan makanan mereka dari kelaparan dan memberikan rasa aman dari cekaman ketakutan.” (Quraisy : 3-4)
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah: Siapakah yang memberikan rizki kepada kalian dari langit dan bumi, atau siapakah yang menguasai pendengaran dan penglihatan, siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati, siapakah yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan. Niscaya mereka akan menjawab, Allah. Maka katakanlah, Lalu mengapa kalian tidak bertakwa.”(Yunus: 31)
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan sungguh, jika engkau (Muhammad) tanyakan kepada mereka siapakah yang menciptakan langit dan bumi? Tentu mereka akan menjawab, ‘Yang menciptakannya adalah Dzat Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui’.”(az-Zukhruf: 9)
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka siapakah yang menciptakan diri mereka, niscaya mereka menjawab: Allah. Lalu dari mana mereka bisa dipalingkan (dari menyembah Allah).” (az-Zukhruf: 87)
Iman terhadap rububiyah Allah belumlah cukup untuk memasukkan seorang hamba ke dalam Islam. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah kebanyakan mereka beriman kepada Allah, melainkan mereka juga terjerumus dalam kemusyrikan.” (Yusuf: 107). Ikrimah berkata, “Tidaklah kebanyakan mereka -orang-orang musyrik- beriman kepada Allah kecuali dalam keadaan berbuat syirik. Apabila kamu tanyakan kepada mereka siapakah yang menciptakan langit dan bumi? Maka mereka akan menjawab, ‘Allah’. Itulah keimanan mereka, namun di saat yang sama mereka juga beribadah kepada selain-Nya.” (lihat Fath al-Bari [13/556])
Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan, “Sebagaimana pula wajib diketahui bahwa pengakuan terhadap tauhid rububiyah saja tidaklah mencukupi dan tidak bermanfaat kecuali apabila disertai pengakuan terhadap tauhid uluhiyah (mengesakan Allah dalam beribadah) dan benar-benar merealisasikannya dengan ucapan, amalan, dan keyakinan…” (lihat Syarh Kasyf asy-Syubuhat, hal. 24-25)
Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com
Tulisan ini adalah seri ke-20 dari ‘Seri Baru Faidah Kitab Ushul Tsalatsah’. Silakan baca faidah-faidah terdahulu dalam tautan berikut ini [klik].
Semoga bermanfaat.
0 Komentar