Bismillah.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan melalui Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إنَّ عِظمَ الجزاءِ مع عِظمِ البلاءِ ، وإنَّ اللهَ إذا أحبَّ قومًا ابتَلاهم ، فمَن رَضي فله الرِّضَى ، ومَن سخِط فله السَّخطُ
“Sesungguhnya besarnya balasan/pahala bersama dengan besarnya cobaan. Dan sesungguhnya Allah apabila mencintai suatu kaum maka Allah akan menguji mereka. Barangsiapa yang ridha maka baginya keridhaan Allah. Dan barangsiapa yang marah maka baginya kemurkaan Allah.” (HR. Tirmidzi dan dinyatakan hasan oleh al-Albani)
Syaikh Muhammad at-Tamimi rahimahullah membawakan hadits ini di dalam Kitab Tauhid-nya dalam bab ‘Termasuk iman kepada Allah bersabar terhadap takdir-takdir Allah’. Hadits ini mengandung sebuah pelajaran berharga bahwa salah satu tanda Allah mencintai seorang hamba adalah Allah berikan kepadanya ujian dan cobaan. Apabila dia ridha kepada ketetapan dan takdir Allah, mengharap pahala serta berbaik sangka kepada Allah niscaya Allah pun ridha kepadanya dan mencurahkan pahala untuknya (lihat al-Mulakhash fi Syarh Kitab at-Tauhid oleh Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah, hal. 281 cet. Dar al-‘Ashimah 1422 H)
Ibnu ‘Aun rahimahullah mengatakan, “Ridhalah atas ketetapan Allah baik berupa kesulitan ataupun kemudahan, karena sesungguhnya hal itu akan mengurangi kegalauanmu dan lebih mendekatkanmu dalam mencari pahala untuk akhiratmu…” (lihat Ibthal at-Tandid, hal. 198 oleh Syaikh Hamd bin ‘Atiq rahimahullah)
Seorang muslim tidak boleh berburuk sangka kepada Allah atas apa yang Allah takdirkan menimpanya. Kita wajib bersangka baik kepada Allah dalam segala keadaan. Disebutkan dalam hadits qudsi dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, bahwa Allah berfirman (yang artinya), “Aku mengikuti persangkaan hamba-Ku kepada diri-Ku.” (HR. Bukhari dan Muslim) (lihat Khuthuwat ila as-Sa’adah hal. 55 oleh Syaikh Abdul Muhsin al-Qasim hafizhahullah)
Dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan untuknya maka Allah timpakan musibah baginya.” (HR. Bukhari). Cobaan dan ujian adalah sebuah kepastian bagi orang-orang yang mengaku beriman. Allah berfirman (yang artinya), “Apakah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan mengatakan ‘Kami beriman’ kemudian mereka tidak diberikan ujian?” (al-‘Ankabut : 2)
Dalam hadits dari Anas radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila Allah menghendaki kebaikan pada hamba-Nya maka Allah segerakan untuknya hukuman -atas dosanya- di dunia, dan apabila Allah menghendaki keburukan pada hamba-Nya maka Allah tahan hukuman atas dosanya sampai Allah penuhi hukuman itu baginya kelak di hari kiamat.” (HR. Tirmidzi dan dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Sahih al-Jami’)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh mengagumkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya urusannya semuanya adalah baik baginya. Dan tidaklah hal itu dijumpai kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila dia diberikan kesenangan/nikmat maka dia pun bersyukur. Maka hal itu menjadi kebaikan baginya. Dan apabila dia tertimpa kesusahan maka dia pun bersabar. Maka hal itu pun menjadi kebaikan baginya.” (HR. Muslim)
Syaikh Abdurrazzaq al-Badr hafizhahullah berkata, “Seorang mukmin ketika tertimpa musibah bersabar. Ketika mendapat nikmat dia menjadi orang yang bersyukur. Pada saat tertimpa musibah-musibah dia berhasil meraih pahala orang-orang yang sabar, dan pada saat mendapat kenikmatan dia menuai pahala orang-orang yang bersyukur. Oleh sebab itu dia beruntung dalam kedua keadaan ini.” (lihat Syarh Qawa’id Arba’ Syaikh Abdurrazzaq al-Badr, hal. 12)
Bisyr bin al-Harits rahimahullah berkata, “Tidaklah aku mengetahui seorang pun kecuali dia pasti tertimpa cobaan. Seorang yang Allah berikan kelapangan pada rizkinya; maka Allah ingin melihat bagaimana dia menunaikan syukur atas hal itu. Dan seorang yang Allah ‘azza wa jalla cabut sebagian dari rizkinya; ketika itu Allah ingin melihat bagaimanakah dia bisa bersabar.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyah al-Auliya’, hal. 172)
Syaikh Shalih as-Suhaimi hafizhahullah berkata, “Disebabkan besarnya urgensi kesabaran maka sesungguhnya kedudukan sabar itu -dalam iman- seperti kedudukan kepala bagi tubuh. Oleh sebab itulah Allah menyebutkan perkara sabar ini di dalam al-Qur’an pada lebih dari sembilan puluh ayat. Karena itu haruslah bersabar dalam melakukan ketaatan kepada Allah, demikian juga diwajibkan untuk sabar dalam menjauhi maksiat kepada Allah, dan harus bersabar pula dalam menghadapi takdir-takdir Allah…” (lihat Syarh Qawa’id Arba’ Syaikh as-Suhaimi, hal. 3)
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidaklah menimpa suatu musibah kecuali dengan izin Allah. Barang siapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan berikan petunjuk ke dalam hatinya.” (at-Taghabun: 11)
Imam Ibnu Katsir rahimahullah menukil keterangan al-A’masy dari Abu Dhabyan. Abu Dhabyan berkata, “Dahulu kami duduk-duduk bersama Alqomah, ketika dia membaca ayat ini ‘barang siapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan menunjuki hatinya’ dan beliau ditanya tentang maknanya. Beliau menjawab, ‘Orang -yang dimaksud dalam ayat ini- adalah seseorang yang tertimpa musibah dan mengetahui bahwasanya musibah itu berasal dari sisi Allah maka dia pun merasa ridha dan pasrah kepada-Nya.” Atsar ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim di dalam tafsir mereka (lihat Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim [4/391] cet. Dar al-Fikr)
Dari sini kita bisa memahami bahwa dalam keadaan tertimpa musibah dan bencana maka kekuatan iman dan kesabaran seorang muslim adalah benteng yang akan menjaga dirinya. Dia bersangka baik kepada Allah atas musibah yang dia alami. Dengan sebab musibah itu akan bisa menghapuskan dosa-dosa. Dan dengan sebab sabar menghadapi musibah itu pula dia akan bisa meraih pahala yang berlipat ganda.
Memang takdir Allah itu terkadang terasa pahit, perih atau menyakitkan. Akan tetapi ingatlah bahwa Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Allah jauh lebih penyayang kepada kita lebih daripada kasih sayang seorang ibu kepada bayinya. Allah pun Maha Adil lagi Maha Bijaksana, tidak pernah Allah menzalimi hamba-Nya.
Betapa banyak orang yang kembali tersadar akan tujuan hidupnya dan tugasnya untuk beribadah kepada Allah ketika bencana melanda. Dia pun menyerahkan urusannya kepada Allah dan bertawakal kepada-Nya. Dia bertaubat kepada Allah dari segala dosa dan kesalahannya di masa lalu. Dia sadar bahwa diantara sebab utama musibah dan bencana adalah dosa-dosa kita. Sehingga istighfar pun senantiasa menghiasi lisannya.
Mungkin selama ini dia tenggelam dalam kelalaian dan kemaksiatan. Sehingga dengan adanya musibah ini akan mengembalikan jiwanya untuk patuh dan taat kepada Allah. Merendahkan diri dan bersimpuh di hadapan-Nya. Allah masih berikan kesempatan baginya untuk memperbaiki diri.
Ya Rabb, betapa besar kasih sayang-Mu kepada segenap makhluk…
Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com
0 Komentar