Bismillah.

Sesungguhnya datangnya Ramadhan merupakan kabar gembira dan motivasi istimewa bagi kaum yang beriman. Bagaimana tidak? Sedangkan ia adalah bulan diturunkannya al-Qur’an petunjuk hidup bagi manusia; yang akan mengentaskan bani Adam dari kegelapan menuju cahaya.

Iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang atau melemah akibat kemaksiatan. Pada bulan Ramadhan inilah keimanan itu semakin diperkuat dan dipupuk dengan amal salih, sedekah, puasa, dan berbagai jenis ketaatan. Ketika Ramadhan tiba, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan ganas dari kalangan jin dibelenggu.

Adalah nikmat yang sangat agung nan istimewa bagi kaum yang beriman; datangnya bulan penuh berkah ini kepada segenap umat manusia. Sebuah bulan yang pada setiap malamnya Allah tetapkan orang-orang yang dibebaskan dari api neraka. Bulan yang bertabur dengan ampunan, pahala dan rahmat. Maka sudah sewajarnya umat Islam untuk terus belajar dan menambah pemahaman tentang ibadah kepada Allah dan tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menjalani waktu-waktu berharga ini…

Sebuah bulan yang padanya terdapat suatu malam yang lebih baik daripada 1000 bulan. Sebuah bulan yang kedermawanan dicontohkan oleh Nabi akhir zaman shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tingkat kesungguhan dan kebaikan yang luar biasa. Bukan hanya salih secara personal tetapi juga menjadi madrasah untuk mengasah kepekaan sosial dan kesalihan umat.

Hati umat Islam penuh dengan kegembiraan dengan puasa dan ibadah-ibadah sarat pahala. Kegembiraan yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata atau syair pujangga. Ketika iman itu sudah meresap ke dalam hati maka rasa lapar dan haus tiada menyisakan kesedihan dan gundah gulana. Mereka menahan dirinya untuk sesuatu yang lebih mereka rindukan dan butuhkan yaitu kenikmatan ruhiyah. Kesabaran sebentar yang akan membuahkan pahala abadi di akhirat dan memandang wajah-Nya.

Berbicara tentang Ramadhan berarti berbicara tentang kemajuan sebuah bangsa dan perbaikan akhlak generasi penerus umat manusia. Kepribadian yang santun dan peka, yang memiliki jiwa solidaritas yang tinggi dan kepedulian kepada kaum yang tertindas dan dhuafa. Haus dan lapar mengingatkan mereka tentang nestapa para pengungsi di lokasi bencana di tanah air maupun penderitaan saudara kita di Gaza yang telah hancur rumah, rumah sakit, masjid dan sekolah mereka.

Islam adalah agama yang membawa rahmat bagi alam semesta. Ramadhan menyimpan pelajaran ibadah kepada Allah yang sangat mulia dan berharga. Bahwa keikhlasan dalam beramal menjadi kunci utama penghambaan kepada Allah. Walaupun hanya dengan memberi minum seekor anjing yang kehausan. Walaupun hanya dengan sedekah separuh butir kurma. Walaupun dengan sekedar menyingkirkan gangguan dari jalan, membersihkan masjid atau mencuci gelas air minum peserta buka puasa.

Keimanan kita jauh lebih berharga daripada harta benda dan kenikmatan duniawi yang sementara. Karena itulah tidak heran jika dua rakaat sholat sunnah sebelum Subuh dikatakan jauh lebih baik daripada dunia dan seisinya. Di saat sebagian orang mungkin sudah kembali ke atas tempat tidurnya karena kantuk yang menggelora akibat begadang yang tiada gunanya. Oleh sebab itu para mu’adzin setiap pagi memanggil para jama’ah untuk ke masjid dengan seruan ‘ash-sholatu khoirun minan naum’ bahwa sholat jauh lebih baik daripada tidur. Di sana lah pertarungan dengan hawa nafsu terjadi…

Ramadhan bukan hanya memberikan anda spirit untuk beramal, lebih daripada itu Ramadhan akan menumbuhkan kesadaran bahwa iman itu perlu ditopang dengan ilmu dan pemahaman. Sebab Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya niscaya Allah pahamkan dia dalam agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Allah jalla wa ‘ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah; Apakah sama antara orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui.” (az-Zumar : 9)

Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Apakah orang yang mengetahui bahwa apa-apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu sebagai kebenaran sama dengan orang buta.” (ar-Ra’d : 19)

Ramadhan juga menjadi wahana untuk membersihkan diri dari dosa dan kemaksiatan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dalam keadaan beriman dan mengharap pahala niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah berlalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ramadhan merupakan jembatan untuk mencapai ketakwaan. Yang dengannya seorang muslim melindungi diri dari murka Allah dan azab-Nya. Takwa itulah sebaik-baik bekal yang dikumpulkan hamba dalam menempuh perjalanan panjang menuju akhirat. Ketika akhirat lebih dia utamakan di atas dunia. Ketika hawa nafsu ditundukkan di hadapan hukum dan perintah Allah.

Pada saat itulah anda akan menyadari bahwa tetesan keringat, badan yang merasakan lemas karena haus dan lapar atau terik matahari yang menerpa bukanlah penghalang untuk ruku’ dan sujud kepada Allah. Sebab sejuknya air wudhu dan basahnya lisan dengan tilawah menjadi penghibur hati dan energi yang menggerakkan tubuhnya menuju masjid dan bersimpuh di hadapan Allah.

Ketika anda sadar bahwa gizi untuk makanan sehari-hari lebih ringan daripada gizi untuk hati. Karena tanpa gizi dan hikmah yang meresap ke dalam hati maka seenak apa pun santapan kuliner dan selengkap apa pun hidangan dan suplemen kesehatan dari para dokter tidak akan berarti. Sebab hati kita ini butuh kepada iman, butuh kepada dzikir dan ketaatan.

Itulah yang digambarkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, “Dzikir bagi hati laksana air bagi seekor ikan; bagaimana kah kiranya keadaan seekor ikan apabila memisahkan diri dari air?” Itulah makna yang dimaksud oleh Malik bin Dinar, “Telah keluar dari dunia para pemuja dunia dalam keadaan belum merasakan sesuatu yang terbaik di dalamnya.” Orang-orang pun bertanya, “Wahai Abu Yahya, apakah itu yang terbaik di dunia.” Beliau menjawab, “Yaitu mengenal Allah…”

Ya, mereka tidak sedang berbicara tentang tambang emas atau batu-bara, tidak sedang membahas persoalan properti atau aset perdagangan dunia. Mereka sadar bahwa dunia yang sementara ini pasti akan sirna, dan mereka lebih mencari bekal terbaik untuk akhiratnya… Bukan karena mereka membenci dunia, tetapi di dalam hati mereka dunia telah menjelma menjadi ‘samudera’ sehingga mereka pun menjadikan amal salihnya sebagai bahtera untuk berlayar di atasnya.. Wallahul musta’aan.

Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com


Redaksi

Redaksi al-mubarok.com dikelola oleh relawan dan pegiat dakwah Masjid Jami' al-Mubarok (MJM) YAPADI Yogyakarta

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *