Bismillah.

Kalimat tauhid laa ilaha illallah merupakan pondasi di dalam Islam. Oleh sebab itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan dakwah kepada syahadat laa ilaha illallah sebagai pendahulu dan yang paling penting untuk diserukan kepada umat manusia, sebelum seruan dan ajakan-ajakan yang lain.

Kalimat syahadat laa ilaha illallah mengandung dua bagian; penetapan dan penolakan. Penetapan bahwa hanya Allah yang layak diibadahi dan penolakan segala bentuk sesembahan selain-Nya. Inilah yang ditunjukkan di dalam al-Qur’an dan as-Sunnah tentang kandungan dan makna kalimat syahadat.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan :

فإن شهادة ألا إله إلا الله مضمونها ومعناها توحيد الله والإخلاص له، فإن معناها لا معبود حق إلا الله هذا هو معنى لا إله إلا الله كما قال جل وعلا: ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ [الحج:62] فمعنى لا إله إلا الله معناها لا معبود حق إلا الله، فجميع المعبودات من دون الله من أصنام أو أشجار أو أحجار أو ملائكة أو أنبياء أو جن أو غير ذلك كله معبود بالباطل، والله سبحانه هو المعبود بالحق، لا إله غيره ولا رب سواه

“Sesungguhnya syahadat laa ilaha illallah kandungan dan maknanya adalah mentauhidkan Allah dan ikhlas kepada-Nya. Karena makna syahadat itu adalah tiada yang disembah dengan benar selain Allah. Inilah makna laa ilaha illallah sebagaimana firman Allah (yang artinya), “Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah adalah sesembahan yang haq, sedangkan apa-apa yang mereka seru selain-Nya adalah batil.” (al-Hajj : 62)

Maka makna laa ilaha illallah adalah tidak ada yang berhak disembah selain Allah. Segala bentuk sesembahan selain Allah berupa patung, pohon, batu, malaikat, nabi, jin atau yang lainnya adalah batil semuanya. Hanya Allah lah sesembahan yang diibadahi dengan benar, tiada ilah/sesembahan yang benar selain-Nya dan tiada Rabb/pengatur dan penguasa alam ini selain-Nya…” (lihat Syarh Kitab at-Tauhid oleh beliau [klik])

Ketika kaum musyrikin mendengar ajakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengucapkan laa ilaha illallah, maka mereka pun dengan serta merta menolak dan menentangnya. Karena mereka memahami bahwa maksud kalimat ini adalah wajibnya mengesakan Allah dalam beribadah dan keharusan meninggalkan sesembahan selain-Nya. Allah menceritakan tanggapan mereka (yang artinya), “Apakah dia -Muhammad- itu menjadikan sesembahan-sesembahan ini menjadi satu sesembahan saja. Sesungguhnya hal ini benar-benar perkara yang mengherankan.” (Shad : 5)

Allah mengisahkan sikap kaum musyrikin ketika diajak untuk mengikrarkan kalimat tauhid. Allah berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya mereka itu ketika dikatakan kepada mereka laa ilaha illallah maka mereka menyombongkan diri. Mereka mengatakan : Apakah kami harus meninggalkan sesembahan-sesembahan kami hanya demi mengikuti seorang penyair gila.” (ash-Shaffat : 35-36)

Mereka -kaum musyrik di masa nabi- memahami bahwa kalimat tauhid menuntut mereka meninggalkan ibadah kepada selain Allah dan wajibnya mengesakan Allah dalam hal ibadah. Mereka juga paham bahwa apabila mereka mengucapkan kalimat ini sementara mereka terus beribadah kepada berhala tentu hal itu menjadi perkara yang bertentangan/kontradiktif. Sementara para pemuja kubur di masa kini tidak peduli dengan adanya kontradiksi yang sangat buruk ini; mereka mengucapkan laa ilaha illallah tetapi mereka juga menujukan ibadah kepada orang-orang mati dan mempersembahkan berbagai bentuk ibadat kepadanya. Sungguh celaka orang-orang yang Abu Jahal dan Abu Lahab saja lebih paham tentang makna tauhid daripada mereka (lihat keterangan Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah dalam risalah beliau Ma’na Laa ilaha illallah, hal. 15)

Dalam hadits yang sahih Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan mengilmui (dan mengamalkan ilmunya itu, red.) bahwa tidak ada ilah/sesembahan yang benar selain Allah maka dia akan masuk surga.” (HR. Muslim)

Kalimat tauhid ini juga disebut oleh Allah dalam surat al-Fath ayat 26 dengan istilah kalimat takwa, karena tauhid atau syahadat laa ilaha illallah merupakan pokok dari ketakwaan, sebagaimana tafsiran dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma. Tafsiran ini disebutkan oleh Imam Ibnu Jarir ath-Thabari dalam tafsirnya dan as-Suyuthi dalam tafsirnya ad-Durr al-Mantsur. Tafsiran serupa juga diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib, ‘Amr bin Maimun, Qatadah, Ikrimah, adh-Dhahhak dan Mujahid.

Kalimat tauhid laa ilaha illallah; tiada sesembahan yang benar selain Allah. Ia menjadi tema sentral perbaikan umat. Allah berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah Kami utus sebelum kamu seorang rasul pun melainkan Kami wahyukan kepadanya; bahwa tidak ada ilah/sesembahan yang benar selain Aku, maka sembahlah Aku.” (al-Anbiya’ : 25)

Pernyataan laa ilaha illallah mengandung konsekuensi penolakan segala bentuk sesembahan selain Allah. Allah berfirman (yang artinya), “Dan sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan; Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (an-Nahl : 36)

Untuk mewujudkan kandungan kalimat tauhid ini seorang muslim harus menujukan segala bentuk ibadahnya kepada Allah; apakah itu berupa doa, sholat, sembelihan, nadzar, istighotsah, dsb. Allah berfirman (yang artinya), “Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah, maka janganlah kalian menyeru/berdoa bersama Allah siapa pun juga.” (al-Jin : 19)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjelaskan, “Hak Allah atas segenap hamba adalah hendaknya mereka beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan dengan-Nya sesuatu apapun.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com


Redaksi

Redaksi al-mubarok.com dikelola oleh relawan dan pegiat dakwah Masjid Jami' al-Mubarok (MJM) YAPADI Yogyakarta

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *