Bismillah.

Diantara perkara yang paling mendasar dalam kehidupan seorang muslim adalah menanamkan keyakinan tauhid kepada Allah dan ittiba’/mengikuti ajaran Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Inilah kandungan dari dua kalimat syahadat atau syahadatain yang telah kita ucapkan. Laa ilaha illallah bermakna tidak ada yang berhak disembah selain Allah. Adapun syahadat anna Muhammadar rasulullah mengandung konsekuensi bahwa kita tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan syariat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari sini maka seorang muslim wajib mempelajari apa makna ibadah dan bagaimana tata-cara beribadah kepada Allah. Ibadah tidak bisa dilandaskan pada perasaan dan selera manusia belaka. Ibadah juga tidak bisa direkayasa menurut akal dan hawa nafsu. Oleh sebab itu Allah mengutus paras rasul dan menurunkan kitab-kitab untuk membimbing umat manusia bagaimana cara yang benar dalam menghamba kepada Rabbnya.

Diantara pengertian ibadah yang cukup bagus adalah bahwa ibadah merupakan bentuk perendahan diri dan ketundukan kepada Allah dengan penuh kecintaan dan pengagungan. Ia diwujudkan dalam bentuk pelaksanaan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Ibnul Qayyim rahimahullah mengungkapkan bahwa ibadah dibangun di atas puncak kecintaan dan puncak perendahan diri.

Dengan demikian apa-apa yang dicintai Allah adalah ibadah, baik berupa ucapan, perbuatan maupun keyakinan. Ada di sana ibadah secara lahiriah dan ada pula ibadah dengan batin atau ibadah hati. Para ulama pun telah menjelaskan bahwa ibadah hati berupa kecintaan, harapan dan rasa takut merupakan poros amal ketaatan.

Seorang muslim akan bisa merasakan lezatnya iman tatkala ia menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selainnya. Dia mencintai orang lain karena Allah. Dan dia benci kembali kepada kekafiran sebagaimana orang yang tidak senang jika dilemparkan ke dalam kobaran api neraka.

Iman bukan sekedar ucapan lisan atau indahnya penampilan. Akan tetapi iman adalah keyakinan yang tertanam kuat di dalam hati dan dibuktikan dengan amalan. Semakin taat seorang hamba maka semakin kuat imannya. Semakin durhaka hamba itu kepada Rabbnya maka semakin lemahlah imannya.

Iman kepada Allah tidak boleh dikotori dengan syirik dan kekafiran. Sebab syirik akan merusak amal kebaikan dan menghapuskan ibadah yang dilakukan. Allah berfirman (yang artinya), “Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelum kamu; JIka kamu berbuat syirik pasti akan lenyap seluruh amalmu dan benar-benar kamu akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (az-Zumar : 65)

Ibadah kepada Allah tidak akan diterima jika tercampuri dengan syirik dan kekafiran. Ibadah yang diterima oleh Allah adalah yang dilandasi dengan tauhid. Yaitu ibadah yang murni ditujukan kepada Allah dan berlepas diri dari segala bentuk peribadatan kepada selain-Nya. Karena itulah para rasul mengajak kaumnya kepada 2 hal utama; beribadah kepada Allah dan menjauhi syirik. Allah berfirman (yang artinya), “Dan sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan; Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (an-Nahl : 36)

Dari sana lah para ulama membina kaum muslimin di atas pilar tashfiyyah dan tarbiyyah. Tashfiyyah yaitu pemurnian ajaran Islam dari hal-hal yang merusak dan mengotorinya berupa syirik, bid’ah dan maksiat. Adapun tarbiyyah yang dimaksud adalah membina kaum muslimin dengan tauhid, sunnah dan ketaatan. Inilah tiga pokok utama kebahagiaan umat manusia. Dan untuk bisa mewujudkan itu semuanya seorang muslim diwajibkan untuk menimba ilmu agama. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya niscaya Allah pahamkan dia dalam hal agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kebutuhan manusia terhadap ilmu agama ini jauh lebih besar daripada kebutuhannya kepada makanan atau minuman. Karena ilmu agama adalah sebab untuk mencapai segala kebaikan di dunia dan di akhirat. Ia butuh kepada ilmu pada setiap hembusan nafasnya. Ilmu adalah sebab hidupnya hati. Ilmu merupakan pondasi bagi amalan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada perintah/tuntunannya dari kami maka ia pasti tertolak.” (HR. Muslim)

Dengan bekal ilmu, iman, ibadah dan keikhlasan itulah seorang hamba akan bisa menempuh perjalanan indah menuju negeri keabadian. Allah berfirman (yang artinya), “Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apapun.” (al-Kahfi : 110)

Semoga Allah berikan taufik kepada kita untuk mengetahui kebenaran dan mengamalkannya.

Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com


Redaksi

Redaksi al-mubarok.com dikelola oleh relawan dan pegiat dakwah Masjid Jami' al-Mubarok (MJM) YAPADI Yogyakarta

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *