Bismillah.

Diantara petuah dan nasihat sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Muslim rahimahullah dalam mukadimah kitab Shahihnya :

ما أنتَ بمُحَدِّثٍ قَومًا حَديثًا لا تَبلُغُه عُقولُهم إلَّا كانَ لبَعضِهم فِتنةً

“Tidaklah kamu menyampaikan suatu pembicaraan kepada suatu kaum padahal akal-akal mereka itu tidak bisa mencapainya/sulit untuk mencerna atau memahaminya kecuali hal itu pasti akan menimbulkan fitnah/kerancuan bagi sebagian dari mereka.”

Di masa keterbukaan informasi seperti sekarang ini ketika semua orang bisa membaca tulisan anda melalui platform media sosial yang ada, maka berhati-hati dalam menulis dan berbicara adalah perisai yang akan melindungi masyarakat dari kerancuan dan kesesatan.

Nasihat Ibnu Mas’ud ini menunjukkan kepada kita bahwa manusia memiliki keadaan yang berbeda-beda dalam menyikapi atau pun menyerap suatu informasi. Seorang yang bijak tentu akan memilah dan memilih bahasa dan konten yang hendak dia sampaikan, apalagi itu bisa dibaca siapa saja dari mana saja. Tidak semua ilmu dan kebaikan itu menjadi bagus apabila disebarkan atau disampaikan kepada sembarang orang atau pembaca. Karena sebagian ilmu atau materi agama itu tidak mudah untuk dimengerti oleh orang awam atau manusia pada umumnya.

Apabila kita cermati dalam Kitab Tauhid karya Syaikh Muhammad at-Tamimi rahimahullah pun, beliau telah membawakan hadits Mu’adz bin Jabal mengenai hak Allah atas hamba dan hak hamba kepada Allah yang menunjukkan besarnya keutamaan tauhid yang berisi pelajaran penting seputar tarbiyah dan dakwah. Ketika Mu’adz minta ijin kepada beliau untuk menyebarkan berita gembira yang ada di dalam hadits itu maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam justru melarangnya. Karena dikhawatirkan manusia akan meremehkan dan tidak berlomba-lomba dalam beramal salih dikarenakan terlalu bersandar pada keutamaan atau kabar gembira yang ada di dalam hadits itu. Walaupun begitu di akhir hayatnya Mu’adz tetap menyampaikan hadits itu agar tidak terkena dosa menyembunyikan ilmu. Inilah bukti kedalaman ilmu para sahabat radhiyallahu’anhum.

Tidak kita pungkiri bahwa banyak hal yang menjadi problem dan permasalahan pelik yang melilit kaum muslimin hari ini. Meskipun demikian perbaikan aqidah dan pemurnian tauhid harus selalu menjadi prioritas utama dalam dakwah. Sebab lurusnya aqidah adalah pondasi bagi bangunan Islam. Benarnya tauhid adalah syarat diterimanya amal-amal ibadah yang lain.

Seorang yang mengajarkan al-Qur’an atau tafsirnya tentu bisa menyelipkan materi tauhid dan aqidah dalam pelajaran atau tausiyahnya. Begitu pula orang yang mengajarkan hadits dapat mendahulukan hadits-hadits yang membahas seputar iman dan aqidah. Tidak terkecuali para peneliti ilmu fikih dapat menyebarkan tauhid dan aqidah di sela-sela pelajaran dan kajiannya. Bahkan seorang pengajar bahasa Arab atau nahwu pun sangat mungkin menyampaikan faidah ilmu seputar tauhid.

Islam yang kita peluk dan dakwahkan ini adalah agama yang mulia dan sempurna. Termasuk dalam hal etika menyebarkan berita dan menanggapi informasi pun Islam telah mengatur dan menatanya sedemikian rupa. Kita telah mengenal pelajaran akhlak dan adab serta penyucian jiwa. Kita pun memahami bahwa dosa ghibah, namimah/adu-domba, hasad, kesombongan, riya’, syirik, riba, zina, minum khomr dan kedustaan adalah penyakit yang merusak amal serta mengotori hati manusia.

Dan diantara pintu paling besar tersebarnya dosa itu adalah dari ucapan lisan atau tulisan dan tayangan di media sosial. Oleh sebab itu pantas kiranya kita untuk selalu mengingat firman Allah (yang artinya), “Dan janganlah kamu mengikuti apa-apa yang kamu tidak punya ilmu tentangnya, karena sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati itu semuanya pasti akan dimintai pertanggungjawabannya.” (al-Israa’ : 36). Imam Bukhari rahimahullah juga menasihatkan bahwa ilmu didahulukan sebelum ucapan dan perbuatan. Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu pun menegaskan bahwa hakikat ilmu bukanlah dengan banyaknya riwayat, tetapi ilmu diukur dengan rasa takut kepada Allah.

Dari sana lah para ulama mengatakan, “Semakin orang mengenal Allah maka dia akan semakin takut kepada-Nya.” Tentu rasa takut yang dimaksud adalah yang menghalangi pemiliknya dari meninggalkan kewajiban atau menerjang keharaman. Bukan rasa takut yang menjerumuskan pada keputus-asaan. Maka di zaman seperti sekarang ini dakwah dan materi untuk mendorong kebaikan dan mencegah keburukan alias targhib dan tarhib adalah pelajaran yang sangat penting dan bermanfaat. Terlebih lagi jika itu berkaitan dengan aqidah, iman dan ketauhidan.

Seorang muslim akan meninggalkan maksiat karena dia sadar Allah mengawasinya. Seorang muslim akan melaksanakan perintah dan kewajiban karena tahu bahwa Allah melihatnya. Seorang muslim akan menjaga lisannya karena ingat bahwa Allah Maha mendengar. Seorang mukmin pun akan terus memperbanyak taubat dan istighfar karena dia tahu bahwa Allah mengetahui isi hatinya, Allah tahu dosa-dosa yang lahir maupun yang tersembunyi di dalam hati manusia.

Mari kita perbaiki kondisi masyarakat dengan iman dan dakwah tauhid. Pada saat gempuran fitnah syubhat dan syahwat menyerang generasi dari berbagai penjuru. Inilah saatnya para pejuang dakwah dan pewaris para nabi untuk menghidupkan lentera-lentera hikmah dan mengalirkan mata air-mata air ilmu. Perdebatan yang tidak ilmiah atau tidak santun lebih banyak merusak daripada membangun peradaban. Sebagaimana nasihat Ibnu Mas’ud, “Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tetapi tidak mendapatkannya.” Karena caranya keliru, demikian kurang lebih maksud beliau.

Semoga Allah berikan taufik kepada kami dan para pembaca.

Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com


Redaksi

Redaksi al-mubarok.com dikelola oleh relawan dan pegiat dakwah Masjid Jami' al-Mubarok (MJM) YAPADI Yogyakarta

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *