Bismillah.

Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dalam Sahih-nya dari Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إنَّ الرَّجُلَ لَيَعمَلُ الزَّمَنَ الطَّويلَ بعَمَلِ أهلِ الجَنَّةِ، ثُمَّ يُختَمُ له عَمَلُه بعَمَلِ أهلِ النَّارِ، وإنَّ الرَّجُلَ لَيَعمَلُ الزَّمَنَ الطَّويلَ بعَمَلِ أهلِ النَّارِ، ثُمَّ يُختَمُ له عَمَلُه بعَمَلِ أهلِ الجَنَّةِ

“Sesungguhnya ada seorang yang melakukan amalan pada waktu yang sangat lama dengan amalan ahli surga kemudian ditutup kehidupannya dengan amalan ahli neraka. Dan ada orang yang melakukan amalan ahli neraka dalam waktu yang sangat lama lalu ditutup akhir hidupnya dengan amalan ahli surga.”

Hadits yang agung ini mengandung pelajaran yang sangat berharga bagi kita. Bahwa seorang muslim sebagus apa pun amalnya hendaklah tetap merasa khawatir kalau-kalau keimanannya tercabut di akhir hidupnya. Yaitu dia tidak boleh terpedaya dengan amal dan kebaikannya selama ini. Karena itu semua adalah taufik dari Allah kepadanya, bukan karena kehebatan dan kemampuannya semata. Sebaliknya orang yang tenggelam dalam kelalaian dan kedurhakaan seburuk apa pun keadaannya maka kita tidak bisa memastikan keadaan akhir hidupnya karena bisa jadi Allah beri dia taufik untuk bertaubat sebelum wafatnya. Oleh sebab itu tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah, selama pintu taubat masih terbuka dan nyawa belum berada di tenggorokan.

Diriwayatkan, bahwa Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata :

أخافُ أنْ أُسلبَ الإيمانَ عند الموت

“Aku khawatir apabila iman tercabut ketika hendak menjumpai kematian.” (disebutkan oleh Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami’ul ‘Ulum wal Hikam)

Di dalam Sahih Muslim pula, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan kepada kita untuk bersegera dalam beramal sebelu tiba saatnya fitnah menyambar-nyambar sehingga membuat seorang berubah dengan cepat. Pada waktu pagi beriman sore harinya menjadi kafir, atau di sore hari beriman lantas keesokan paginya menjadi kafir. Hal itu karena dia menjual agamanya demi mengais serpihan-serpihan dunia…

Saudaraku yang dirahmati Allah, dari sinilah kita memahami betapa pentingnya seorang muslim belajar aqidah islam dari al-Kitab dan as-Sunnah dengan mengikuti jalan para salaf/pendahulu yang salih dari kalangan sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in. Di samping itu dia juga harus selalu membersihkan hati dan jiwanya dari kotoran dosa dan penyimpangan. Karena hati umat manusia berada diantara dua jari-jemari Allah; yang Allah bolak-balikkan hati orang itu sesuai dengan kehendak-Nya. Dan Allah tidak pernah menzalimi hamba.

Kita ini bukan siapa-siapa… Tidak ada jaminan surga bagi kita secara personal yang termaktub di dalam al-Qur’an maupun as-Sunnah. Kita hanya beramal dan berharap yang terbaik. Kita pun khawatir akan dosa-dosa kita beserta amal yang kita kerjakan; sebab belum tentu Allah menerimanya karena jeleknya kualitas amal dan ibadah kita kepada-Nya. Hak-hak Allah terlalu agung untuk bisa kita tunaikan dengan sempurna. Karena itulah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan doa kepada manusia terbaik dan sahabat yang paling mulia yaitu Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu’anhu dengan sebuah doa yang menunjukkan pengakuan dan kesadaran akan hal ini.

 اللهم إني ظلمتُ نفسي ظلمًا كثيرًا -وفي لفظٍ: كبيرًا- ولا يغفر الذنوبَ إلا أنت، فاغفر لي مغفرةً من عندك، وارحمني، إنَّك أنت الغفور الرَّحيم

“Ya Allah, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku dengan banyak kezaliman dan tidak ada yang mengampuni dosa kecuali Engkau maka ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu, dan rahmatilah aku, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Muttafaq ‘alaih)

Mungkin ada yang menyangka bahwa nasihat dan tulisan ini tertuju untuk si A atau si B/orang lain, padahal sesungguhnya ia tertuju pertama kali bagi si penulis dan penyusunnya.

Jangan sampai kita termasuk kalangan yang digambarkan dalam sebuah pepatah ‘semut di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak’. Media sosial kerapkali ‘menggiring’ kita untuk selalu kritis kepada orang atau komunitas lain tetapi lupa akan aib dan kekurangan diri kita sendiri. Di situ lah seorang muslim butuh waktu menyendiri tanpa gangguan gadget atau hiruk-pikuk media sosial. Sebab hati kita ini juga perlu dibersihkan, ditata, dirawat dan dijaga dari berbagai kotoran dan noda yang merusak kejernihannya.

Wallahul muwaffiq.

Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com


Redaksi

Redaksi al-mubarok.com dikelola oleh relawan dan pegiat dakwah Masjid Jami' al-Mubarok (MJM) YAPADI Yogyakarta

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *