Bismillah.

Alhamdulillah yang dengan taufik-Nya kita pun mengenal Islam. Alhamdulillah yang dengan hidayah dan pertolongan-Nya hamba bisa mempelajari bagian-bagian dari iman. Salawat dan salam semoga tercurah kepada nabi akhir zaman, teladan bagi manusia, lentera yang menyinari perjalanan insan. Amma ba’du.

Sudah menjadi tugas bagi kita untuk beribadah kepada Allah. Karena Allah ciptakan jin dan manusia untuk mewujudkan penghamabaan murni untuk-Nya. Allah tidak akan mau menerima amalan kecuali yang ikhlas. Para ulama kita terdahulu merupakan panutan kita dalam menjalani kehidupan iman. Mereka berjuang untuk membersihkan hati dari segala kotoran dan perusak keimanan.

Seorang manusia beribadah kepada Allah bukan hanya dengan ucapan atau gerak-gerik anggota badan. Akan tetapi ia menghamba kepada Allah dengan kecintaan dan pengagungan, dengan takut dan harapan. Tidak akan sampai kepada Allah daging dan darah binatang kurban, tetapi yang akan sampai kepada-Nya adalah ketakwaan dari hati. Orang yang mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah maka itu merupakan pertanda ketakwaan yang berakar dari hati. Allah akan menerima amalan orang yang bertakwa, sebagaimana Allah tidak menerima amal-amal yang diada-adakan. Takwa kepada Allah menjadi bekal terbaik bagi manusia dalam hidupnya.

Takwa kepada Allah membutuhkan landasan ilmu agama. Oleh sebab itu sebagian salaf mengatakan, “Sesungguhnya ilmu lebih diutamakan di atas amal-amal yang lain karena dengan ilmu itu lah akan terwujud ketakwaan kepada Allah.” Ilmu adalah pohon dan amal adalah buahnya. Ilmu dan amalan hati merupakan pondasi ibadah dan ketaatan. Betapa banyak amal yang secara lahiriah kecil atau sepele tetapi menjadi besar nilainya di hadapan Allah karena ikhlas dan niat yang ada pada diri pelakunya.

Orang yang ikhlas gemar untuk menyembunyikan kebaikan-kebaikannya sebagaimana dia senang orang lain tidak mengetahui keburukan-keburukannya. Ikhlas bertentangan dengan riya’ dan ujub/bangga diri. Orang yang riya’ beramal karena ingin meraih pujian orang lain, sedangkan ikhlas menuntut orang beramal karena Allah, bukan karena mengharapkan imbalan atau sanjungan. Orang yang ujub merasa hebat dan kagum dengan dirinya sendiri, dia menganggap bahwa keberhasilan itu di tangannya, kalau bukan karena kemampuan dan kehebatannya maka keberhasilan itu mustahil terwujud.

Ibadah kepada Allah menuntut pemurnian ketaatan kepada Allah. Oleh sebab itu hati seorang muslim akan rusak apabila syirik menyelinap ke dalam keyakinan dan perilakunya. Syirik menggugurkan amal kebaikan. Syirik menghancurkan pahala amal salih sebesar apa pun itu. Allah berfirman (yang artinya), “Pada hari itu (kiamat) tidaklah bermanfaat harta dan keturunan kecuali bagi orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat.” (asy-Syu’ara’ : 88-89). Hati yang selamat adalah hati orang beriman ahli tauhid, bukan hati kaum munafik atau musyrik.

Orang yang beriman memadukan dalam dirinya antara beramal kebaikan dengan perasaan khawatir amalnya tidak diterima. Sebagaimana Nabi Ibrahim ‘alaihis salam imamnya ahli tauhid pun merasa takut apabila dirinya terjatuh dalam kemusyrikan dan pemujaan berhala. Para sahabat nabi pun khawatir dirinya tertimpa kemunafikan. Mereka menggabungkan antara menyadari banyaknya nikmat Allah tercurah kepada dirinya dengan kesadaran bahwa dirinya penuh dengan aib dan kekurangan dalam amalan.

Orang beriman bersangka baik kepada Allah oleh sebab itu dia memperbagus amalan, sedangkan orang kafir bersangka buruk kepada Allah maka dia pun memperburuk amalan. Orang bertauhid menggantungkan hatinya kepada Allah dengan penuh harapan dan rasa takut. Tidaklah dia bertawakal kecuali kepada Allah. Dia merasa bahwa dirinya selalu di bawah pengawasan Allah. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari Allah.

Orang beriman akan memutar perilakunya antara syukur dan kesabaran. Dia akan mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk atau pun ketika berbaring. Dzikir bagi hati mereka laksana air bagi ikan-ikan. Dan dzikir yang paling utama adalah yang menemukan keselarasan antara apa yang diucapkan lisan dengan apa yang bersemayam di dalam hatinya. Adapun orang munafik mereka tidak ingat kepada Allah kecuali sedikit, dan apabila mereka bangkit menuju sholat mereka pun bangkit dalam keadaan penuh kemalasan.

Orang munafik menganggap bahwa apa yang dijanjikan oleh Allah dan Rasul-Nya adalah tipuan belaka. Hati mereka penuh dengan keraguan. Karena itulah kita dibimbing untuk berdoa kepada Allah meminta keteguhan hati di atas agama dan ketaatan. Kita berdoa kepada Allah agar menyucikan hati kita. Kita pun berdoa kepada Allah agar mengampuni dosa dan kesalahan-kesalahan kita. Karena dosa akan mematikan hati. Wallahul musta’an.

Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com


Redaksi

Redaksi al-mubarok.com dikelola oleh relawan dan pegiat dakwah Masjid Jami' al-Mubarok (MJM) YAPADI Yogyakarta

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *