Bismillah.
Tidaklah diragukan bagi kita bahwa takwa kepada Allah merupakan bekal terbaik dan paling penting dalam hidup ini. Karena itulah para ulama senantiasa mewasiatkan kepada para pencari ilmu untuk menjaga ketakwaan. Takwa menjadi kunci kebahagiaan dan keselamatan.
Asas takwa adalah mentauhidkan Allah dalam beribadah. Oleh sebab itu kalimat tauhid disebut sebagai kalimat takwa. Takwa kepada Allah -sebagaimana dijelaskan oleh Thalq bin Habib- adalah melaksanakan perintah Allah di atas cahaya dari Allah dengan mengharap pahala dari Allah, dan meninggalkan maksiat kepada Allah di atas cahaya dari Allah karena merasa takut terhadap hukuman Allah.
Orang-orang musyrik yang didakwahi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyadari dan memahami bahwa hanya Allah yang menciptakan dan mengatur alam ini. Akan tetapi keyakinan dalam hal rububiyah ini tidak membuahkan pemurnian ibadah kepada Allah. Oleh sebab itulah para nabi dan rasul menyeru umatnya untuk beribadah kepada Allah semata dan menjauhi thaghut/sesembahan selain Allah.
Allah berfirman (yang artinya), “Dan sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan; Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (an-Nahl : 36). Para ulama menjelaskan bahwa thaghut ialah segala yang disembah selain Allah dalam keadaan dia ridha atas hal itu. Gembong dari thaghut adalah iblis, adapun diantara bala-tentaranya di dunia ini adalah para dukun dan paranormal. Contoh thaghut adalah Fir’aun yang menyeru manusia untuk beribadah kepada dirinya. Adapun para nabi atau malaikat yang disembah oleh sebagian manusia maka mereka tidak disebut sebagai thaghut, tetapi thaghutnya dalam hal ini adalah setan; sebab setan itulah yang mengajak manusia untuk beribadah kepada selain Allah.
Persoalan tauhid dan iman kepada Allah bukanlah perkara sepele. Banyak orang tersesat dan menyimpang dari agama karena merusak aqidahnya dengan kotoran syirik dan khurafat. Karena itulah para pendahulu dakwah tauhid di negeri ini menyerukan kepada umat untuk melawan TBC (Takhayul, Bid’ah dan Churafat) karena mereka menyadari bahwa inilah diantara sumber utama kehancuran dan kerusakan masyarakat Islam.
Syaikh al-Albani rahimahullah sering mengutip perkataan salah seorang tokoh pergerakan yang maknanya, “Tegakkanlah negeri Islam dalam hati kalian, niscaya ia/Islam akan tegak di bumi kalian.” Keadaan umat yang jauh dari aqidah yang bersih adalah realita yang kita jumpai di berbagai wilayah, dan kita tidak mengatakan bahwa semua orang binasa atau rusak aqidahnya. Akan tetapi tidak sedikit diantara kaum muslimin yang masih mencampuri imannya dengan kezaliman terbesar yaitu syirik kepada Allah. Padahal iman yang bersih dari syirik menjadi syarat untuk mendapatkan keamanan, ketentaram dan hidayah Allah.
Allah berfirman (yang artinya), “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri imannya dengan kezaliman (syirik) mereka itulah yang diberikan keamanan, dan mereka itulah orang-orang yang akan diberi hidayah.” (al-An’am : 88). Kita tidak sedang berbicara tentang cita-cita tanpa perjuangan dan pengorbanan. Yang kita bahas adalah bagaimana dakwah tauhid ini bisa semakin tersebar luas di tengah masyarakat oleh siapa pun yang ingin menyebarkannya. Tentu saja dengan pemahaman yang benar dan metode dakwah yang lurus.
Kebutuhan kita kepada tauhid ini jauh lebih besar daripada kebutuhan manusia kepada makanan dan minuman, bahkan lebih besar daripada kebutuhan kepada air dan udara. Manusia tetap terjebak dalam kegelapan apabila belum terbit dalam hatinya matahari tauhid dan sunnah. Di sinilah kita selalu berdoa kepada Allah agar diberi hidayah jalan yang lurus setiap hari dalam setiap roka’at sholat yang kita kerjakan.
Pada saat banyak orang berpaling dari jalan tauhid dan iman sehingga terjebak dalam jurang syirik dan kekafiran. Seperti yang digambarkan oleh Imam Ibnul Qayyim rahimahullah :
Mereka berlari meninggalkan penghambaan; yang mereka diciptakan untuknya
Maka mereka pun terjebak dalam perbudakan kepada hawa nafsu dan setan…
Takwa kepada Allah dan tauhid kepada-Nya adalah perbekalan manusia untuk bahagia. Bukanlah ketakwaan jika seorang beribadah kepada Allah demi mencari pujian manusia. Bukan termasuk takwa kepada Allah apabila seorang beramal salih semata-mata untuk mencari kesenangan dunia yang fana. Cita-cita seorang mukmin adalah surga. Walaupun untuk menuju ke sana dia harus melalui berbagai rintangan dan hambatan; sesuatu yang tidak disenangi oleh hawa nafsu manusia.
Untuk itulah perjuangan untuk mempertahankan tauhid kepada Allah merupakan tugas kewajiban setiap manusia selama hayat masih dikandung badan. Allah berfirman (yang artinya), “Dan sembahlah Rabbmu hingga datang kepadamu keyakinan/maut.” (al-Hijr : 88). Sesuatu yang paling dikhawatirkan adalah apabila hidayah tauhid itu tercabut dari kita dalam keadaan kita tidak menyadarinya sehingga kita pun binasa. Apabila para sahabat generasi terbaik saja takut terkena kemunafikan; maka bagaimana lagi dengan kita?!
Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com
0 Komentar