Bismillah.

Diantara doa yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kita adalah :

اللهمَّ أَصْلِحْ لي دِينِي الذي هو عِصْمَةُ أَمْرِي

“Ya Allah perbaikilah untukku agamaku yang ia menjadi penjaga segala urusanku…” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu)

Imam al-Muzani rahimahullah di awal risalah Syarhus Sunnah mendoakan kepada segenap pembaca :

عصمنا الله وَإِيَّاكُم بالتقوى

“Semoga Allah menjaga kami dan kalian dengan ketakwaan..” (lihat Syarh as-Sunnah [klik])

Syaikh Abdurrazzaq al-Badr hafizhahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan ‘ishmah/penjagaan di sini adalah dipelihara dari berbagai keburukan, penyakit/kerusakan, hawa nafsu yang menyimpang dan kesesatan. Dan itu semuanya tidak bisa dicapai kecuali dengan ketakwaan. Penjagaan yang diberikan kepada seorang hamba sesuai dengan kadar ketakwaannya kepada Allah (lihat Ta’liqah ‘ala Syarhis Sunnah, hal. 44)

Tidak ada jalan menuju kebahagiaan kecuali dengan taat kepada Allah. Barangsiapa yang memperbanyak amal salih serta menjauhi dosa dan kesalahan niscaya dia akan hidup dengan bahagia dan dekat dengan Rabbnya. Allah berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang melakukan amal salih dari kalangan lelaki atau perempuan dalam keadaan beriman maka benar-benar Kami akan memberikan kepadanya kehidupan yang baik.” (an-Nahl : 97) (lihat kitab karya Syaikh Abdul Muhsin al-Qasim hafizhahullah yang berjudul Khuthuwat ila as-Sa’adah, hal. 10)

Jalan untuk bisa meraih kebahagiaan dan keberuntungan adalah dengan senantiasa berpegang teguh dengan Kitabullah dan mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Selain itu seorang muslim juga harus menjauhi kebid’ahan; karena ia menjadi sebab amal tertolak di hadapan Allah (lihat Syarh al-Manzhumah al-Haa-iyah oleh Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah, hal. 47 dst cet. Dar al-‘Ashimah, 1439 H)

Hakikat takwa kepada Allah dalam perspektif Islam adalah seorang hamba menjadikan antara dirinya dengan kemurkaan Allah suatu penghalang yang melindungi dirinya yaitu dengan cara melaksanakan perintah-perintah Allah dan meninggalkan larangan-larangan, membenarkan berita-berita (dari wahyu) dan beribadah kepada Allah sesuai dengan syari’at, bukan dengan tata-cara bid’ah (lihat penjelasan Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbad hafizhahullah dalam Fat-hul Qawil Matin fi Syarhil Arba’in, hal. 68 cet. al-Hadyu al-Muhammadiy 1437 H)

Perkara paling agung di dalam Islam yang diperintahkan oleh Allah adalah tauhid yaitu mengesakan Allah dalam beribadah. Sedangkan perkara paling besar yang dilarang dalam Islam adalah syirik; yaitu beribadah kepada selain Allah di samping beribadah kepada Allah. Karena itulah tauhid menjadi asas di dalam agama dan pondasi ketakwaan kepada Allah. Tidaklah termasuk orang yang bertakwa jika dia mempersekutukan Allah.

Allah berfirman (yang artinya), “Wahai manusia, sembahlah Rabb kalian; Yang menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian bertakwa.” (al-Baqarah : 21)

Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak Allah atas hamba adalah hendaknya mereka beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam sebuah hadits qudsi Allah berfirman, “Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu, barangsiapa melakukan suatu amalan seraya mempersekutukan di dalamnya antara Aku dengan selain Aku, maka Aku tinggalkan dia dan syiriknya itu.” (HR. Muslim)

Allah berfirman (yang artinya), “Dan seandainya mereka itu melakukan syirik pasti akan terhapus dari mereka segala amal yang dahulu pernah mereka kerjakan.” (al-An’am : 88)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama untuk-Nya dengan hanif, dan supaya mereka mendirikan sholat, dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus.” (al-Bayyinah : 5)

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma berkata, “Tidaklah mereka diperintahkan di dalam Taurat dan Injil kecuali supaya memurnikan ibadah kepada Allah dengan penuh ketauhidan.” (disebutkan oleh Imam al-Baghawi rahimahullah dalam tafsirnya Ma’alim at-Tanzil, hal. 1426)

Ibnul Jauzi rahimahullah menafsirkan ‘memurnikan agama untuk-Nya’ maksudnya “Yaitu dalam keadaan bertauhid, sehingga mereka tidak beribadah kepada selain-Nya.” (lihat Zaadul Masiir fi ‘Ilmi at-Tafsiir, hal. 1576)

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjelaskan, dari ayat ini kita bisa memetik pelajaran bahwasanya hakikat tauhid itu adalah keikhlasan kepada Allah tanpa sedikit pun kecondongan kepada syirik. Oleh sebab itu barangsiapa yang tidak ikhlas kepada Allah bukanlah orang yang bertauhid. Begitu pula barangsiapa menjadikan ibadahnya dia tujukan kepada selain Allah maka dia juga bukan orang yang bertauhid (lihat Syarh Tsalatsah al-Ushul, hal. 76-77) 

Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com


Redaksi

Redaksi al-mubarok.com dikelola oleh relawan dan pegiat dakwah Masjid Jami' al-Mubarok (MJM) YAPADI Yogyakarta

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *