BIsmillah.

Bab 2. Struktur Kalimat dalam Bahasa Arab

Pada bagian sebelumnya kita telah mengenal pembagian kata dalam bahasa Arab. Ada isim/kata benda, ada fi’il/kata kerja, dan ada harf/kata sambung. Jangan lupa, kata dalam kaidah bahasa Arab atau nahwu disebut dengan kalimah. Adapun kalimat -dalam bahasa Indonesia- maka istilah nahwunya adalah al-jumlah al-mufidah/kalimat sempurna atau al-kalam.

Ada 2 bentuk jumlah; jumlah ismiyyah dan jumlah fi’liyyah. Jumlah ismiyyah adalah suatu kalimat/jumlah yang diawali dengan isim. Adapun jumlah fi’liyyah adalah jumlah yang diawali dengan fi’il/kata kerja. Di dalam jumlah ismiyah ada 2 bagian penyusun; yaitu mubtada’ dan khobar. Mubtada’ ialah bagian/kata yang diterangkan, sedangkan khobar adalah yang menerangkan atau menyempurnakan makna kalimat. Misalnya, yang sering kita dengar kalimat ‘Allahu akbar’ artinya Allah Mahabesar. Kata ‘Allah’ sebagai mubtada’/yang diterangkan, sedangkan ‘akbar’ sebagai khobarnya/yang menerangkan.

Contoh jumlah fi’liyah adalah ‘jaa’a Muhammadun’ artinya ‘telah datang Muhammad’. Di sini ada 2 bagian kalimat yaitu fi’il/kata kerja dan fa’il/pelaku. Fi’il nya yaitu ‘jaa’a’ sedangkan fa’il atau pelakunya adalah ‘Muhammad’. Inilah yang disebut sebagai jumlah fi’liyah.

Nah, nanti akan kita pelajari bahwa ada jabatan kata/isim yang harus dibaca marfu’ atau dhommah akhirannya. Misalnya jika ia menempati posisi sebagai mubtada’. Oleh sebab itu dalam kalimat di atas dicontohkan kalimat/jumlah ‘Allahu akbar’ kata ‘Allahu’ akhirannya dhommah atau marfu’, karena ia berkedudukan sebagai mubtada’. Begitu pula jika suatu kata benda/isim menempati jabatan sebagai fa’il/pelaku maka ia juga harus marfu’ atau diakhiri dhommah. Misalnya dalam contoh di atas adalah kata ‘Muhammadun’ dalam kalimat ‘jaa’a Muhammadun’ akhirannya dhommah, karena ‘Muhammad’ dalam jumlah/kalimat itu berfungsi sebagai fa’il.

Pembahasan tentang perubahan akhira kata insya Allah akan dibahas secara lebih luas pada bab tersendiri. Intinya, dari sini kita bisa mengetahui bahwa dalam ilmu nahwu kita membahas bagaimana suatu kata itu ditempatkan dalam kalimat dan jabatan yang ia tempati. Karena jabatan kata itu mempengaruhi keadaan akhir katanya.

Silakan baca pembahasan sebelumnya dari sini [klik]

Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com


Redaksi

Redaksi al-mubarok.com dikelola oleh relawan dan pegiat dakwah Masjid Jami' al-Mubarok (MJM) YAPADI Yogyakarta

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *