Bismillah.
Salah satu perkara yang penting untuk dicermati oleh kita adalah bahwa amal-amal kebaikan itu harus dipelihara. Tidak cukup orang disebut beriman hanya dengan beramal sekali dua kali, sehari dua hari. Tetapi amal itu perlu dibiasakan setiap hari hingga ajal tiba.
Oleh sebab itu tidak heran jika Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Wahai anak Adam, sesungguhnya kamu ini adalah kumpulan perjalanan hari. Setiap hari berlalu maka lenyaplah sebagian dari dirimu.” Setiap hari kita diberikan oleh Allah nikmat hidup, nikmat kesehatan dan waktu luang. Sementara banyak orang justru terjebak dan terpedaya oleh kenikmatan itu.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dua nikmat yang banyak orang merugi akibat tidak pandai menyikapi dua hal itu; yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari). Para ulama menjelaskan bahwa nikmat-nikmat apabila disyukuri akan bertahan dan lestari, sebaliknya jika ia dikufuri maka nikmat-nikmat itu akan pergi.
Allah berfirman (yang artinya), “[Allah] Yang menciptakan kematian dan kehidupan dalam rangka menguji kalian; siapakah diantara kalian yang terbaik amalnya.” (al-Mulk : 2). Amal terbaik bukanlah yang paling banyak, tetapi yang paling ikhlas dan paling sesuai dengan tuntunan. Oleh sebab itu dalam sebagian kesempatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah yang ajeg/kontinyu atau terus-menerus, walaupun sedikit.
Diantara perkara yang bisa menjaga amal adalah membersihkan niat dari tujuan-tujuan yang merusak hati dan keikhlasan. Sebagian salaf mengatakan, “Betapa banyak amal besar menjadi kecil gara-gara niatnya.” Sebab jika amal itu terkotori oleh riya’, ujub atau syirik maka besar atau banyaknya amal tidak akan bermanfaat di hadapan Allah. Allah berfirman (yang artinya), “Dan Kami teliti semua amal yang dahulu mereka lakukan kemudian Kami jadikan ia bagai debu-debu yang beterbangan.” (al-Furqan : 23)
Oleh sebab itu kita jumpai para ulama terdahulu sangat besar perjuangan mereka dalam mencapai keikhlasan. Sebagian salaf berkata, “Tidaklah aku berjuang menaklukkan diriku dengan sebuah perjuangan yang lebih berat daripada perjuangan untuk menuju ikhlas.”
Nabi Ibrahim ‘alaihis salam seorang yang mendapat predikat sebagai Khalil/kekasih Allah dan imamnya orang-orang yang hanif/ahli tauhid adalah teladan dalam hal keikhlasan dan kesabaran. Saking takutnya beliau terhadap syirik dan perusak niat maka beliau pun berdoa kepada Allah agar dijauhkan dari menyembah berhala. Beliau pun berdoa kepada Allah setelah melaksanakan perintah-Nya untuk membangun Ka’bah agar amalnya diterima. Beliau tidak jumawa.
Iman kepada Allah dan sifat-sfat-Nya telah menempa generasi salaf dan para wali-Nya untuk menjaga amal mereka dari segala perusak dan racun amalan. Mereka menganggap bahwa puncak keberhasilan adalah ketika Allah memperlihatkan wajah-Nya di hadapan semua penduduk Surga. Oleh sebab itu mereka pun memohon kepada Allah kelezatan memandang wajah-Nya di akhirat.
Mereka tidak merasa aman dari makar Allah. mereka pun takut jika dirinya terjangkiti kemunafikan dalam keadaan tidak sadar. Ibnu Abi Mulaikah rahimahullah mengatakan, “Aku telah bertemu dengan tiga puluh sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam; dalam keadaan mereka semuanya merasa takut dirinya tertimpa kemunafikan.” Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa rasa takut kepada Allah, takut akan kemunafikan dan perusak tauhid adalah sifat kaum beriman unggulan.
Rasa takut kepada Allah merupakan bagian dari keimanan. Sebagaimana harapan kepada Allah dan kecintaan termasuk poros-poros penghambaan. Oleh sebab itu para ulama mengingatkan bahwa amalan itu menjadi berbeda nilai dan tingkat keutamaannya disebabkan perbedaan apa yang ada di dala m hati pelakunya berupa iman, keikhlasan dan tauhid.
Dari situlah kita bisa memahami mengapa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkan kepada kita untuk banyak berdzikir dan istighfar kepada Allah. Karena kedua hal ini menjadi kunci hidupnya hati dan membersihkan jiwa dari kotoran dosa. Diantara dzikir yang perlu untuk diulang-ulang adalah kalimat alhamdulillah; pujian dan sanjungan bagi Allah. Begitu pula kalimat yang lain seperti laa ilaha illallah, Allahu akbar, subhanallah…
Bahkan setiap kali kita mendengar seruan adzan kita dianjurkan untuk mengucapkan ‘laa haula wa laa quwwata illa billaah’ ketika mendengar seruan ‘hayya ‘alash sholaah’. Para ulama pun mengingatkan bahwa dzikir yang paling utama adalah yang bersesuaian antara apa yang diucapkan dengan lisan dengan apa-apa yang ada di dalam hati pelakunya.
Menjaga dzikir bagi hati laksana menjaga air bagi ikan. Tanpa air ikan akan mati. Begitu pula hati akan sakit dan sekarat tanpa dzikir dan iman kepada Allah. Badan mereka hanya akan menjadi bangkai yang berjalan. Beramal tanpa ruh, dan hidup tanpa kehidupan.
Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com
2 Komentar
Irfan Abu Alif · April 25, 2026 pada 3:01 PM
MasyaAllah, nasihat yang sangat dalam, Ustadz.
Jadi teringat di zaman sekarang, kita sering melihat semangat beramal begitu tinggi di awal-awal, namun cepat memudar. Ditambah lagi, godaan untuk menampakkan amal (terutama di media sosial) membuat keikhlasan menjadi sesuatu yang semakin perlu dijaga dengan serius.
Tulisan ini mengingatkan bahwa yang terpenting bukan sekadar banyaknya amal, tetapi bagaimana amal itu dijaga, istiqamah, ikhlas, dan sesuai tuntunan.
Semoga Allah menjaga hati kita, meneguhkan langkah kita dalam kebaikan, dan menerima amal-amal kita. Semoga Allah memberkahi Ustadz dan tim redaksi, menjaga keikhlasan mereka, serta membalas dengan kebaikan yang berlipat.
Jazakumullahu khairan, Ustadz.
Arihusodo · April 25, 2026 pada 3:56 PM
Sangat memotivasi, menjaga amal lebih sulit dari beramal itu sendiri