Bismillah.
Kitab al-’Ubudiyah (penghambaan) adalah salah satu karya ilmiah seorang ulama besar pembaharu Islam di abad ke-8 H yang bernama Ahmad bin Abdul Halim bin Abdussalam bin Taimiyah rahimahullah; atau yang lebih sering dikenal dengan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (wafat 728 H).
Kitab ini pada dasarnya merupakan jawaban atas pertanyaan yang diajukan kepada beliau mengenai tafsir firman Allah (yang artinya), “Wahai manusia, sembahlah Rabb kalian; Yang menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian…” (al-Baqarah : 21). Beliau ditanya apakah itu ibadah dan apa saja cabang-cabangnya? Apakah seluruh bagian agama ini tercakup di dalam ibadah ataukah tidak? Dan apa hakikat dari ubudiyah/penghambaan? Apakah ubudiyah merupakan maqam/tingkatan spiritualitas yang tertinggi ataukah ada maqam yang lebih tinggi di atasnya…
Maka Syaikhul Islam pun menjelaskan definisi ibadah. Bahwa ibadah merupakan suatu nama/istilah yang mencakup segala hal yang dicintai dan diridhai oleh Allah berupa ucapan dan perbuatan; yang tampak maupun yang batin/tersembunyi di dalam hati. Setelah itu beliau juga menyebutkan contoh-contoh ibadah seperti sholat, zakat, puasa, haji, berkata jujur, menunaikan amanah, berbakti kepada kedua orang tua, menyambung silaturahmi/hubungan kekerabatan, memenuhi perjanjian, memerintahkan yang ma’ruf, melarang kemungkaran, dsb.
Diantara yang beliau contohkan adalah ibadah hati seperti cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, takut kepada Allah, inabah/taubat dan kembali taat kepada Allah, sabar, syukur/mengakui nikmat Allah, ridha dengan takdir-Nya, tawakal kepada-Nya, mengharapkan rahmat-Nya. Takut terhadap azab-Nya. Beliau juga menjelaskan bahwa ibadah inilah yang menjadi tujuan penciptaan supaya manusia mendapatkan kecintaan dan keridhaan Allah. Allah berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (adz-Dzariyat : 56)
Untuk merealisasikan ibadah itu pula Allah mengutus segenap rasul. Seperti yang diserukan oleh Nabi Nuh ‘alaihis salam kepada kaumnya (yang artinya), “Wahai kaumku, sembahlah Allah. Tidak ada bagi kalian ilah/sesembahan yang benar selain Dia.” (al-A’raaf : 59). Kalimat serupa juga diserukan oleh para rasul yang lain seperti Nabi Hud, Shalih, Syu’aib dll kepada kaumnya.
Beliau pun membawakan ayat-ayat yang menunjukkan dengan jelas bahwa para rasul diutus oleh Allah untuk mendakwahkan tauhid; beribadah kepada Allah semata dan menjauhi syirik. Sebagaimana disebutkan dalam Surat an-Nahl ayat 36 dan al-Anbiyaa’ ayat 25. Bahkan kewajiban untuk beribadah dan bertauhid ini ditetapkan kepada Rasul hingga kematian tiba. Sebagaimana firman Allah (yang artinya), “Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu keyakinan/kematian.” (al-Hijr : 99)
Di dalam al-Qur’an Allah pun menggambarkan bahwa para malaikat adalah makhluk yang tunduk beribadah kepada-Nya. Mereka tidak sombong dari beribadah kepada-Nya. Allah pun mencela orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Nya. Allah berfirman (yang artinya), “Dan Robbmu berkata : Berdoalah kepada-Ku niscaya Aku kabulkan permintaan kalian, sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku pasti akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina.” (Ghafir : 60)
Para malaikat adalah hamba Allah, mereka bukan anak-anak Tuhan sebagaimana keyakinan kaum musyrikin terdahulu. Begitu pula Nabi ‘Isa ‘alaihis salam adalah hamba Allah dan utusan-Nya, beliau bukan anak Tuhan apalagi Tuhan sesembahan. Allah bahkan memuji Nabi-Nya sebagai hamba dalam peristiwa Isra’ dan Mi’raj, pada saat penyampaian wahyu, ketika tunduk berdoa kepada Allah, bahkan pada saat memberikan tantangan kepada orang kafir agar mendatangkan sebuah surat seperti surat al-Qur’an yang beliau sampaikan kepada manusia.
Kemudian, Ibnu Taimiyah pun menyimpulkan bahwa agama secara keseluruhan telah tercakup dalam makna ibadah. Oleh sebab itu beliau pun membawakan dalilnya yaitu sebuah hadits yang populer dengan istilah Hadits Jibril. Sebuah hadits yang menceritakan kedatangan malaikat Jibril dalam bentuk lelaki kepada nabi dan para sahabat, lalu dia bertanya kepada nabi tentang islam, iman dan ihsan. Pada bagian akhir hadits itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang datang itu adalah Jibril, untuk mengajarkan kepada kalian agama kalian.” (HR. Muslim)
Sehingga islam, iman dan ihsan adalah cakupan agama Islam. Agama atau dien itu sendiri bermakna ketundukan dan ketaatan. Oleh sebab itu Ibnu Taimiyah menjelaskan, “Beragama kepada Allah maksudnya adalah beribadah kepada-Nya, taat dan tunduk kepada-Nya.” Secara bahasa Arab ibadah mengandung makna perendahan diri. Para ulama ahli bahasa Arab memaparkan bahwa asal makna ibadah adalah perendahan diri dan ketundukan. Akan tetapi ibadah yang diperintahkan di dalam agama Islam ini adalah perendahan diri yang disertai dengan kecintaan.
Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa ibadah kepada Allah itu mengandung puncak perendahan diri dan puncak kecintaan kepada-Nya. Penjelasan ini merupakan ringkasan dari hasil pembacaan sekilas terhadap bagian awal dari kitab al-’Ubudiyah cet. Maktabah Suthur al-Bahts al-’Imi 1446 H (hal. 25-32) tahqiq Nidhal bin Abdul Karim. Kitab ini merupakan hadiah dari sahabat dan senior kami Pak Ust. Heru hafizhahullah oleh-oleh dari beliau membimbing umroh kemarin.
Menelusuri Makna Ibadah
Ibadah itu sendiri merupakan perpaduan antara kecintaan dan ketundukan. Apabila ia ditujukan kepada Allah semata maka jadilah ia ibadah yang tegak di atas tauhid, sedangkan apabila ia ditujukan kepada selain-Nya maka ia menjadi ibadah yang tegak di atas syirik. Ibadah kepada Allah yang sesuai dengan syari’at disebut ibadah yang syar’iyah, sedangkan ibadah yang menyelisihi tuntunan syari’at disebut sebagai ibadah yang bid’ah (lihat Syarh Risalah Miftah Daris Salam oleh Syaikh Shalih bin Abdillah al-‘Ushaimi hafizhahullah, hal. 9)
Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Ibadah dalam terminologi syari’at adalah ungkapan mengenai satu kesatuan perbuatan yang memadukan kesempurnaan rasa cinta, ketundukan, dan rasa takut.” (lihat Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, 1/134 cet. Dar Thaibah)
Salah satu murid istimewa Ibnu Taimiyah yaitu Imam Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa ibadah itu berporos pada puncak kecintaan dan puncak perendahan diri. Persis seperti keterangan gurunya.
Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan, bahwa penghambaan kepada Allah berporos pada dua kaidah dasar yaitu kecintaan yang sepenuhnya dan perendahan diri yang sempurna. Munculnya kedua pokok/kaidah ini berangkat dari dua sikap prinsip yaitu musyahadatul minnah -menyaksikan curahan nikmat-nikmat Allah- dan muthala’atu ‘aibin nafsi wal ‘amal -selalu meneliti aib pada diri dan amal perbuatan-. Dengan senantiasa menyaksikan dan menyadari setiap curahan nikmat yang Allah berikan kepada hamba akan tumbuhlah kecintaan. Dan dengan selalu meneliti aib pada diri dan amalan akan menumbuhkan perendahan diri yang sempurna kepada Rabbnya (lihat al-Wabil ash-Shayyib, hal. 8 tahqiq Abdul Qadir dan Ibrahim al-Arna’uth)
Konsekuensi dari dua hal ini -puncak perendahan diri dan puncak kecintaan- adalah dia akan tunduk melaksanakan perintah-perintah Allah dan meninggalkan larangan-larangan-Nya. Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Seorang insan yang hanya mencukupkan diri dengan rasa cinta dan perendahan diri tanpa melakukan apa-apa yang diperintahkan Allah dan tanpa meninggalkan apa-apa yang dilarang Allah tidak dianggap menjadi hamba yang beribadah kepada Allah. Oleh sebab itu puncak kecintaan dan puncak perendahan diri itu mengharuskan kepatuhan dalam bentuk melaksanakan perintah Allah subhanahu wa ta’ala dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Dengan begitu akan terwujud ibadah.” (lihat Silsilah Syarh Rasa’il, hal. 251)
Demikian sedikit kumpulan catatan dan faidah, semoga bermanfaat.
Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com
0 Komentar