Bismillah.

Adalah sesuatu yang cukup menakjubkan, apa yang telah ditulis oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah (wafat 728 H) dalam kitabnya yang ringkas berjudul ‘al-‘Aqidah al-Wasithiyah’ di bagian-bagian pertengahan dimana beliau mengungkapkan :

Termasuk dalam bentuk keimanan kepada hari akhir adalah iman terhadap segala yang diberitakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa berbagai peristiwa yang terjadi setelah kematian. Mereka -yaitu Ahlus Sunnah- mengimani fitnah/ujian di alam kubur, adzab kubur dan nikmat kubur. Adapun fitnah kubur itu adalah; pada saat manusia diuji di dalam kuburnya. Ditanyakan kepada seorang ‘Siapa Robbmu? Apa agamamu? Siapa nabimu? Maka Allah berikan keteguhan kepada orang-orang yang beriman suatu ucapan yang kokoh dalam kehidupan dunia dan di akhirat. Orang mukmin akan menjawab, “Allah Robbku, Islam agamaku, dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah nabiku. dan seterusnya… (lihat Matn al-‘Aqidah al-Wasithiyah, penerbit Dar al-Atsar hal. 53)

Dan sebuah keajaiban takdir Allah dan hikmah-Nya sekian ratus tahun sesudahnya al-Imam al-Mujaddid pembaharu Islam Syaikh Muhammad at-Tamimi rahimahullah (wafat 1206 H) pun menyusun risalah ringkas berjudul al-Ushul ats-Tsalatsah/tiga landasan utama yang berisi penjelasan mengenai tiga landasan utama dalam beragama yang menjadi bekal ilmiah untuk menjawab 3 pertanyaan kubur tersebut. Inilah ilmu yang paling pokok dan paling wajib untuk dipelajari oleh seorang muslim; mengenal Robbnya, agamanya dan nabinya.

Ya, mungkin bagi banyak orang hal itu tampak biasa atau tidak istimewa. Sesungguhnya apa yang telah ditulis oleh Ibnu Taimiyah di masa beliau hidup adalah sebuah respon ilmiah terhadap berbagai fenomena dan problema yang menimpat umat di masa itu. Demikian pula, apa yang ditulis oleh Syaikh Muhammad at-Tamimi merupakan respon ilmiah dan perjuangan dakwah untuk menjawab tantangan dakwah dan problematika umat di masa itu. Yang semua itu tidak pernah lepas dari panduan wahyu al-Qur’an dan as-Sunnah. Bahwa aqidah dan tauhid merupakan pondasi beragama yang wajib untuk diprioritaskan oleh para penggerak dakwah Islam.

Sebagaimana jika kita tarik ke belakang jauh sebelum itu bagaimana Imam Bukhari rahimahullah (wafat 256 H) pun telah menyatukan perjuangan riwayat dengan pembelaan terhadap aqidah dan keimanan. Sehingga di dalam kitab Sahihnya beliau membuat bab-bab khusus seputar aqidah di dalam Kitabul Iman, Kitab Tauhid, dsb. Masing-masing berjuang untuk membela tauhid dan aqidah dengan kondisi dan realita umat yang beragam.

Oleh sebab itu tidaklah mengherankan jika pada masa ini para ulama senantiasa mewasiatkan untuk bersemangat dan menekuni kajian Kitab Tauhid karya Syaikh Muhammad at-Tamimi rahimahullah. Sebuah kitab yang sarat dengan hujjah ilmiyah dan faidah dakwah. Sebuah kitab yang disusun mengikuti metode para ulama ahli hadits seperti Imam Bukhari dkk. Syaikh Muhammad at-Tamimi rahimahullah telah menulis sebuah buku yang sangat istimewa dalam ilmu aqidah yaitu Kitabut Tauhid. Kitab ini ditulis oleh beliau secara khusus menjelaskan tentang seputar tauhid uluhiyah atau tauhid ibadah. Tauhid inilah yang menjadi pokok dari macam-macam tauhid yang ada. Penulis mengkhususkan kitab ini untuk menjelaskan masalah tauhid ibadah disebabkan banyaknya kekeliruan yang terjadi dalam hal ini. Sebab tauhid inilah yang menjadi pondasi agama; sehingga tidak akan benar tauhid kecuali apabila tauhid uluhiyah ini diwujudkan dengan benar (lihat at-Ta’liq al-Mukhtashar al-Mubin, hal. 5)

Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq al-Badr hafizhahullah berkata, “Sebagaimana setiap bangunan itu memiliki pondasi, maka sesungguhnya pondasi bangunan agama ini adalah iman kepada Allah subhanahu wa ta’ala beserta iman kepada nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Semakin kokoh pondasi ini maka semakin kuat pula bangunan itu dalam menampung dan tegak berdiri sehingga selamat dari keruntuhan atau ambruk.” (lihat Fiqh al-Asma’ al-Husna, hal. 7 cet. Dar at-Tauhid tahun 1429 H)

Mengenal Allah dengan benar merupakan gerbang untuk mengabdi kepada Allah. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah, “Barangsiapa yang mengenal Allah dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya niscaya dia akan mencintai-Nya dan itu pasti.” Sebagaimana dikatakan oleh para ulama bahwa kemuliaan suatu ilmu itu bergantung pada kemuliaan apa/objek yang diilmui. Oleh sebab itu ilmu tentang nama dan sifat Allah merupakan semulia-mulia ilmu; karena yang dipelajari adalah nama dan sifat dari Dzat yang paling mulia. Ilmu tentang Allah/aqidah tauhid merupakan pokok dari seluruh bidang ilmu (Silakan baca keterangan yang sangat bagus dalam kitab Mu’taqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah fi Tauhid al Asma’ wa Shifat karya Syaikh Prof. Dr. Khalifah at-Tamimi, hal. 14 dst. cetakan Adhwa’ as-Salaf tahun 1419 H)

Allah berfirman (yang artinya), “Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang mengajak; Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (an-Nahl : 36). Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa dakwah para rasul ialah mengajak kepada tauhid dan meninggalkan syirik. Setiap rasul berkata kepada kaumnya (yang artinya), “Wahai kaumku, sembahlah Allah (semata), tiada bagi kalian sesembahan selain-Nya.” (Huud : 50). Inilah kalimat yang diucapkan oleh Nuh, Hud, Shalih, Syu’aib, Ibrahim, Musa, ‘Isa, Muhammad, dan segenap rasul ‘alaihimush sholatu was salam (lihat al-Irsyad ila Shahih al-I’tiqad, hal. 19)

Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan, “Aqidah tauhid ini merupakan asas agama. Semua perintah dan larangan, segala bentuk ibadah dan ketaatan, semuanya harus dilandasi dengan aqidah tauhid. Tauhid inilah yang menjadi kandungan dari syahadat laa ilaha illallah wa anna Muhammadar rasulullah. Dua kalimat syahadat yang merupakan rukun Islam yang pertama. Maka, tidaklah sah suatu amal atau ibadah apapun, tidaklah ada orang yang bisa selamat dari neraka dan bisa masuk surga, kecuali apabila dia mewujudkan tauhid ini dan meluruskan aqidahnya.” (lihat Ia’nat al-Mustafid bi Syarh Kitab at-Tauhid [1/17])

Imam Bukhari rahimahullah memulai kitab Sahih-nya dengan Kitab Bad’il Wahyi [permulaan turunnya wahyu]. Kemudian setelah itu beliau ikuti dengan Kitab al-Iman. Kemudian yang ketiga adalah Kitab al-‘Ilmi. Hal ini dalam rangka mengingatkan, bahwasanya kewajiban yang paling pertama bagi setiap insan adalah beriman [baca: beraqidah yang benar/bertauhid]. Sementara sarana untuk menuju hal itu adalah ilmu. Kemudian, yang menjadi sumber/rujukan iman dan ilmu adalah wahyu [yaitu al-Kitab dan as-Sunnah] (lihat dalam mukadimah tahqiq kitab ‘Aqidah Salaf wa Ash-habul Hadits, hal. 6)

Betapa pun beraneka ragam umat manusia dan berbeda-beda problematika mereka, sesungguhnya dakwah kepada tauhid adalah yang pokok. Sama saja apakah masalah yang menimpa mereka dalam hal perekonomian sebagiamana yang dialami penduduk Madyan -kaum Nabi Syu’aib ‘alaihis salam– atau masalah mereka dalam hal akhlak sebagaimana yang menimpa kaum Nabi Luth ‘alaihis salam. Bahkan, meskipun masalah yang mereka hadapi adalah dalam hal perpolitikan! Sebab realitanya umat para nabi terdahulu itu -pada umumnya- tidak diterapkan pada mereka hukum-hukum Allah oleh para penguasa mereka… Tauhid tetap menjadi prioritas yang paling utama! (lihat Sittu Duror min Ushuli Ahli al-Atsar oleh Syaikh Abdul Malik Ramadhani hafizhahullah, hal. 18-19)

Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com

 


Redaksi

Redaksi al-mubarok.com dikelola oleh relawan dan pegiat dakwah Masjid Jami' al-Mubarok (MJM) YAPADI Yogyakarta

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *