Bismillah.
Diantara faidah yang agung adalah bahwa ibadah kepada Allah dan syukur merupakan jalan untuk meraih kabahagiaan dan kelancaran rezeki.
Allah berfirman :
فَابْتَغُوا عِنْدَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
“Maka carilah di sisi Allah semata rezeki itu, beribadahlah kalian kepada-Nya dan bersyukurlah kepada-Nya, kepada-Nya lah kalian akan dikembalikan.” (al-‘Ankabut : 17)
Di dalam tafsirnya, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa di dalam ayat ini terkandung pelajaran bahwa ibadah kepada Allah merupakan sebab datangnya rezeki dan bersyukur kepada Allah sebagai sebab bertahannya rezeki (lihat Tafsir Surat al-‘Ankabut [buka])
Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan bahwa di dalam ayat ini Allah memerintahkan untuk mencari dan meminta rezeki kepada Allah kemudian Allah juga memerintahkan untuk beribadah kepada-Nya semata. Hal ini merupakan penggandengan sesuatu yang umum kepada sesuatu yang khusus. Karena ibadah itu cakupannya lebih luas dari berdoa, sedangkan berdoa meminta rezeki kepada Allah adalah bagian dari ibadah (lihat al-Mulakhash fi Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 116)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah telah menjelaskan hakikat ibadah dalam risalah Ubudiyah; bahwa ibadah itu mencakup segala ucapan dan perbuatan yang dicintai dan diidhai Allah; yang tampak maupun yang tersembunyi. Ibadah akan terwujud dengan patuh kepada Allah dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Ibadah dibangun di atas puncak kecintaan dan puncak perendahan diri.
Sementara keadaan hati umat manusia pada dasarnya pasti mencintai Dzat yang telah berbuat baik kepadanya. Padahal segala kebaikan di atas muka bumi ini adalah berasal dari nikmat dan pemberian Allah. Oleh sebab itu wajib untuk mencintai Allah dengan kecintaan yang paling tinggi. Kecintaan kepada Allah akan semakin kuat tatkala kita selalu mengingat dan memperhatikan betapa banyak nikmat yang Allah curahkan kepada kita setiap saat. Inilah yang disebut dengan sikap musyaahadatul minnah; menyaksikan curahan karunia.
Dari sikap itu pula akan muncul pujian kepada Allah dan syukur kepada-Nya. Syukur kepada Allah berakar dari pengakuan di dalam hati bahwa nikmat berasal dari-Nya, kemudian kita memuji Allah atas nikmat-nikmat itu, dan kita tidak menggunakannya kecuali dalam hal-hal yang diridhai oleh-Nya. Oleh sebab itu para ulama menyimpulkan bahwa hakikat syukur adalah dengan selalu taat dan patuh kepada Allah Sang pemberi nikmat itu.
Sehingga, ketika dikatakan bahwa kebahagiaan itu berada di tangan Allah dan tidak bisa diraih kecuali dengan taat kepada Allah, dapatlah kiranya kita simpulkan bersama bahwa cara untuk meraih kebahagiaan itu adalah dengan mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah pun menjanjikan bahwa orang yang bersyukur maka Allah tambahkan nikmat-Nya. Karena itulah tidak heran apabila surat al-Fatihah yang selalu dibaca kaum muslimin di dalam sholatnya diawali dengan pujian dan kalimat syukur kepada Allah ‘alhamdulillaah…’ segala puji bagi Allah.
Dari sini pula kita bisa memahami bahwa ibadah kepada Allah itu pun sejatinya merupakan ekspresi syukur kepada Allah atas segala nikmat yang diberikan kepada kita. Oleh sebab itu Allah memerintahkan manusia untuk beribadah kepada-Nya semata karena hanya Allah yang menciptakan mereka dan menciptakan orang-orang sebelum mereka, mudah-mudahan manusia itu mau bertakwa (lihat surat al-Baqarah ayat 21)
Ayat di atas juga mengandung pelajaran bahwa semestinya rezeki yang diberikan oleh Allah itu digunakan dalam ketaatan. Oleh sebab itu barangsiapa yang menggunakan rezeki itu dalam kemaksiatan maka dia pantas untuk mendapatkan hukuman dari Allah (lihat Syarh Fathul Majid oleh Syaikh al-Ghunaiman [buka])
Dengan demikian ketakwaan kepada Allah itu pada dasarnya juga dibangun di atas pilar ibadah dan syukur. Takwa menggabungkan antara melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Perintah Allah yang paling besar adalah tauhid, sedangkan larangan yang paling besar adalah syirik. Dengan begitu tauhid merupakan pokok dari syukur kepada Allah dan asas di dalam agama. Hakikat tauhid adalah mengesakan Allah dalam ibadah; menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan dan meninggalkan sesembahan selain-Nya.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai panutan kita adalah sosok yang memadukan dalam dirinya ketakwaan terbaik dengan ibadah dan syukur. Ibadah yang bersih dari syirik, dan syukur kepada Allah yang bersih dari sifat ujub dan kesombongan. Kalimat iyyaaka na’budu merupakan pernyataan sikap untuk membebaskan diri dari syirik dan riya’ dalam ibadah, sedangkan iyyaka nasta’in menjadi penegasan sikap untuk berlepas diri dari sifat ujub dan kesombongan. Orang yang ujub dan sombong pada hakikatnya bukanlah orang yang bersyukur kepada Allah. Oleh sebab itu syukur adalah tanda kebahagiaan seorang hamba… Jika diberi maka dia pun bersyukur…
Wallahu a’lam.
Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com
0 Komentar