Bismillah.
Alhamdulillah dengan taufik Allah semata, pada kesempatan ini kita dapat kembali melanjutkan seri pembahasan faidah dari risalah al-Qawa’id al-Arba’ karya Syaikh Muhammad at-Tamimi rahimahullah.
Pada seri sebelumnya sudah dibahas berkaitan dengan syafaat, yang mana banyak orang yang melakukan syirik dengan alasan untuk mencari syafaat di sisi Allah.
Kemudian, penulis rahimahullah berkata :
والقاعدة الثالثة: أنّ النبي –صلى الله عليه وسلم- ظهر على أُناسٍ متفرّقين في عباداتهم منهم مَن يعبُد الملائكة، ومنهم من يعبد الأنبياء والصالحين، ومنهم من يعبد الأحجار والأشجار، ومنهم مَن يعبد الشمس والقمر. وقاتلهم رسول الله –صلى الله عليه وسلم- ولم يفرِّق بينهم
Kaidah yang ketiga; bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam muncul di tengah-tengah manusia yang berbeda-beda dalam hal ibadahnya. Sebagian mereka ada yang menyembah malaikat, ada juga yang menyembah nabi dan orang salih, ada pula yang menyembah batu dan pohon, dan ada yang menyembah matahari dan bulan, sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap memerangi mereka semuanya dan tidak membeda-bedakan diantara mereka.
Maksud dari kaidah ini adalah sebagai bentuk bantahan bagi orang-orang yang menyatakan bahwa mereka yang beribadah kepada nabi atau orang salih tidak boleh disamakan dengan kaum musyrik pemuja berhala atau penyembah batu dan pohon. Mereka ingin mengatakan bahwa para pemuja kuburan di masa kini tidak sama dengan para pemuja berhala di masa lalu. Artinya orang yang berdoa kepada kuburan tidak disebut musyrik, dalam pandangan mereka. Padahal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membedakan.
Kemudian, penulis rahimahullah membawakan dalilnya :
والدليل قوله -تعالى-: {وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ} [البقرة:١٩٣]
Dalilnya firman Allah (yang artinya), “Dan perangilah mereka itu sampai tidak ada lagi fitnah/syirik dan agama/ibadah menjadi milik Allah semata.” (al-Baqarah : 193)
Catatan : Ayat serupa juga ada di dalam Surat al-Anfal ayat 39 hanya ada sedikit perbedaan redaksi kalimat.
Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan :
فالشرك لا تفريق فيه بين من يعبد رجلاً صالحاً أو يعبد صنماً أو حجراً أو شجراً، لأن الشرك هو: عبادة غير الله كائناً من كان، ولهذا يقول: {وَاعْبُدُواْ اللهَ وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئًا} [النساء: ٣٦]
Syirik tidak ada pembedaan di dalamnya; antara orang yang menyembah orang salih atau menyembah patung atau batu atau pohon. Karena hakikat syirik adalah beribadah kepada selain Allah siapa pun atau apa pun bentuknya. Karena itulah Allah berfirman (yang artinya), “Dan sembahlah Allah saja, dan janganlah kalian mempersekutukan dengan-Nya sesuatu apapun.” (an-Nisaa’ : 36) (lihat dalam Syarh al-Qawa’id al-Arba’ [buka])
Imam Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah menjelaskan tafsir ayat di atas yang dibawakan oleh penulis :
فقاتلوهم حتى لا يكون شرك، ولا يعبد إلا الله وحده لا شريك له, فيرتفع البلاء عن عباد الله من الأرض= وهو ” الفتنة “
Maka perangilah mereka itu supaya tidak merajalela syirik dan supaya tidak diibadahi kecuali Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya, sehingga akan terangkat bala/malapetaka dari hamba-hamba Allah di muka bumi ini dan itulah yang dimaksud dengan fitnah/malapetaka (lihat Tafsir ath-Thabari [buka])
Beliau juga meriwayatkan tafsiran dari Ibnu Abbas :
عن ابن عباس قوله: ” وقاتلوهم حتى لا تكون فتنة “، يعني: حتى لا يكون شرك
Dari Ibnu Abbas tentang makna firman Allah “Dan perangilah mereka itu sampai tidak ada lagi fitnah.” Artinya adalah sampai tidak ada lagi syirik.
al-Hasan al-Bashri juga menafsirkan fitnah dengan syirik. Demikian pula tafsiran dari Qatadah.
قال ابن جريج: ” وقاتلوهم حتى لا تكون فتنة ويكون الدين كله لله “ ، أي: لا يفتن مؤمن عن دينه, ويكون التوحيد لله خالصًا ليس فيه شرك, ويُخلع ما دونه من الأنداد.
Ibnu Juraij mengatakan : “Dan perangilah mereka sampai tidak ada lagi fitnah dan supaya agama/ketaatan itu menjadi milik Allah semuanya.” Artinya supaya seorang mukmin tidak lagi terfitnah sehingga dijauhkan dari agamanya, dan supaya tauhid itu murni untuk Allah dan tidak tercampuri syirik serta dicampakkan berbagai bentuk tandingan/sesembahan selain Allah. (lihat Tafsir ath-Thabari al-Anfal 39)
Imam Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan tafsiran Ibnu Abbas :
قال الضحاك ، عن ابن عباس في هذه الآية ، قال : يخلص التوحيد لله
adh-Dhahhak berkata : dari Ibnu Abbas mengenai makna ayat ‘supaya agama itu murni untuk Allah’ adalah supaya memurnikan tauhid itu bagi Allah (lihat Tafsir Ibnu Katsir Surat al-Anfal [buka])
Syaikh Shalih al-Fauzan menjelaskan :
{وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ} :
تكون العبادة كلها لله، ليس فيها شِركة لأحد كائناً من كان، فلا فرق بين الشرك بالأولياء والصالحين أو بالأحجار أو بالأشجار أو بالشياطين، أو غيرهم
Dan supaya agama itu semuanya untuk Allah; yaitu supaya ibadah semuanya ditujukan kepada Allah, tidak tercampuri oleh syirik dengan siapa pun atau apa pun bentuknya. Oleh sebab itu tidak ada bedanya antara syirik dengan beribadah kepada para wali atau kepada orang salih atau kepada batu, pohon atau setan, atau pun sesembahan yang lainnya (lihat Syarh al-Qawa’id al-Arba’ [buka])
Dari sini kita bisa memahami bahwa syirik kepada Allah tetaplah syirik walaupun yang diibadahi adalah makhluk yang paling mulia sekalipun. Karena ibadah hanya milik Allah. Tidak ada yang berhak mendapatkan ibadah selain-Nya. Oleh sebab itu wajib bagi setiap muslim untuk memahami hakikat tauhid dan syirik dengan benar agar ia tidak terjerumus dalam syirik dalam keadaan tidak menyadarinya.
Dakwah tauhid inilah intisari perjuangan para nabi dan rasul serta ulama salaf. Maka sungguh tidak bijak menggelari mereka yang mendakwahkan tauhid ini dengan gelaran dan julukan yang mengerikan demi menjauhkan umat dari tauhid dan keikhlasan. Sesungguhnya orang yang suka menggelari penyeru dakwah tauhid dengan sebutan Wahhabi atau semacamnya sedang meniru jejak para pembesar kafir Quraisy terdahulu yang menjuluki nabi dengan majnun/orang gila atau tukang sihir atau tukang sya’ir.
Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com
Silakan baca seri tulisan sebelumnya di sini [buka]
0 Komentar