Bismillah.
Diantara keindahan makna Islam yang dijelaskan oleh para ulama bahwa Islam itu merupakan bentuk kepasrahan kepada Allah, ketundukan kepada syari’at dan ajaran-Nya. Adapun orang yang tidak mau tunduk dan patuh maka dia disebut sebagai orang yang sombong (lihat Syarh al-Ushul ats-Tsalatsah oleh Syaikh Abdul Aziz ar-Rajihi, hal. 76-77)
Diantara bentuk kesombongan yang terbesar adalah tidak berdoa kepada Allah dan memalingkan ibadah kepada selain-Nya. Allah berfirman (yang artinya), “Dan Rabbmu mengatakan; Berdoalah kalian kepada-Ku niscya Aku akan kabulkan untuk kalian. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku pasti akan masuk ke dalam neraka Jahannam dalam keadaan hina.” (Ghafir : 60)
Orang yang berserah diri kepada Allah dan kepada selain-Nya maka dia telah berbuat suatu bentuk persekutuan/syirik. Adapun orang yang menolak untuk tunduk dan pasrah kepada-Nya adalah orang yang menyombongkan diri. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang menyombongkan diri dari mengikuti kebenaran maka dia akan terjebak pada ketundukan kepada kebatilan, oleh sebab itu dia menjadi golongan orang yang berbuat syirik sebagaimana yang telah Allah sebutkan.” (lihat Majmu’ al-Fatawa [7/629] dikutip melalui Taisirul Wushul Syarh Tsalatsah al-Ushul oleh Syaikh Abdul Muhsin al-Qasim, hal. 158)
Kesombongan terhadap kebenaran itulah dosa Iblis tatkala tidak mau tunduk patuh kepada Allah pada saat Allah perintahkan dia untuk sujud kepada Adam. Di dalam al-Qur’an Allah menyebut perilaku Iblis itu dengan ungkapan ‘aba wastakbar’ dia enggan dan menyombongkan diri. Oleh sebab itu setiap muslim harus membersihkan hatinya dari sifat sombong. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun hanya seukuran dzarrah/semut kecil.” (HR. Muslim)
Sombong adalah sifat orang yang musyrik dan kufur kepada Allah. Allah berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya mereka itu (orang-orang kafir) apabila dikatakan kepada mereka ‘laa ilaha illallah’ mereka pun menyombongkan diri. Mereka pun mengatakan : Apakah kami harus meninggalkan sesembahan-sesembahan kami demi mengikuti seorang penyair yang gila.” (ash-Shaffat : 35-36)
Seorang mukmin adalah yang di dalam dirinya terdapat ketawadhu’an. Dalam hadits riwayat Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku; Hendaklah kalian bersikap tawadhu’/rendah hati…” Tawadhu’ adalah tidak sombong dan tidak meninggikan diri di hadapan manusia. Orang yang sombong melihat bahwa dirinya memiliki suatu kedudukan yang lebih tinggi daripada manusia yang lain. Padahal bisa jadi orang lain lebih utama darinya sementara dia tidak menyadari (lihat keterangan Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah dalam Syarh Bulughul Maram, Juz 6 hal. 290)
Dalam hadits yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Tidaklah seorang pun yang merendah/tawadhu’ karena Allah kecuali Allah pasti akan meninggikan derajatnya.” (HR. Muslim). Hadits ini menunjukkan keutamaan sifat tawadhu’ dan bahwa tawadhu’ bukanlah kerendahan bahkan ia merupakan kemuliaan. Sebagian orang mengira bahwa dia tidak akan meninggi derajatnya kecuali dengan sikap sombong dan congkak, padahal sejatinya tawadhu’ itulah yang akan membuat dirinya dimuliakan Allah dan ditinggikan derajatnya (lihat Syarh Bulughul Maram oleh Syaikh Shalih al-Fauzan, Juz 6 hal. 294)
Inilah kiranya diantara rahasia ucapan Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu, “Sesungguhnya kami adalah suatu kaum yang telah Allah muliakan dengan Islam ini. Maka kapan saja kami berusaha mencari kemuliaan dengan selain Islam pastilah Allah akan merendahkan dan menghinakan kami.” (HR. al-Hakim dalam al-Mustadrak)
Islam mengajarkan sifat tawadhu’ dan menolak sifat sombong. Diantara bentuk ketawadhu’an seorang muslim adalah dia tundukkan akal dan hawa nafsunya kepada syariat dan hukum Allah. Allah berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah pantas bagi seorang lelaki yang beriman atau perempuan yang beriman apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara kemudian masih ada bagi mereka pilihan yang lain dalam urusan mereka…” (al-Ahzab : 36)
Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Ikhlas adalah hakikat agama Islam. Karena islam itu adalah kepasrahan kepada Allah, bukan kepada selain-Nya. Maka barangsiapa yang tidak pasrah kepada Allah sesungguhnya dia telah bersikap sombong. Dan barangsiapa yang pasrah kepada Allah dan kepada selain-Nya maka dia telah berbuat syirik. Dan kedua-duanya, yaitu sombong dan syirik bertentangan dengan islam. Oleh sebab itulah pokok ajaran islam adalah syahadat laa ilaha illallah; dan ia mengandung ibadah kepada Allah semata dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya. Itulah keislaman yang bersifat umum yang tidaklah menerima dari kaum yang pertama maupun kaum yang terakhir suatu agama selain agama itu. Sebagaimana firman Allah ta’ala (yang artinya), “Barangsiapa yang mencari selain Islam sebagai agama maka tidak akan diterima darinya, dan di akhirat dia pasti akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (Ali ‘Imran: 85). Ini semua menegaskan kepada kita bahwasanya yang menjadi pokok agama adalah perkara-perkara batin yang berupa ilmu dan amalan hati, dan bahwasanya amal-amal lahiriyah tidak bermanfaat tanpanya.” (lihat Mawa’izh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 30)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Banyak orang yang mengidap riya’ dan ujub. Riya’ itu termasuk dalam perbuatan mempersekutukan Allah dengan makhluk. Adapun ujub merupakan bentuk mempersekutukan Allah dengan diri sendiri, dan inilah kondisi orang yang sombong. Seorang yang riya’ berarti tidak melaksanakan kandungan ayat Iyyaka na’budu. Adapun orang yang ujub maka dia tidak mewujudkan kandungan ayat Iyyaka nasta’in. Barangsiapa yang mewujudkan maksud ayat Iyyaka na’budu maka dia terbebas dari riya’. Dan barangsiapa yang berhasil mewujudkan maksud ayat Iyyaka nasta’in maka dia terbebas dari ujub. Di dalam sebuah hadits yang terkenal disebutkan, “Ada tiga perkara yang membinasakan; sifat pelit yang ditaati, hawa nafsu yang selalu diperturutkan, dan sikap ujub seseorang terhadap dirinya sendiri.” (lihat Mawa’izh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 83)
Ibadah kepada Allah dibangun di atas puncak kecintaan dan puncak perendahan diri. Kecintaan akan berkembang dengan semakin banyak melihat dan mengingat betapa banyak curahan nikmat Allah kepada diri kita. Sementara perendahan diri akan menguat dengan senantiasa melihat dan mengingat banyaknya aib pada diri dan amal perbuatan kita. Kita wajib mengakui besarnya nikmat Allah atas kita. Dan kita juga wajib mengakui banyaknya dosa yang telah kita lakukan di hadapan-Nya. Dari sana lah akan muncul penghambaan kepada Allah.
Adapun orang yang sombong akan melupakan nikmat Allah atas dirinya dan melupakan aib serta dosa-dosanya. Kesombongan itulah yang membinasakan Qarun bersama hartanya. Kesombongan itulah yang membuat Fir’aun dengan pongah mengatakan kepada rakyatnya, “Aku adalah Rabb kalian yang paling tinggi.” Akan tetapi kedurhakaan thoghut ini Allah balas dengan hukuman dan siksaan yang abadi. Sehingga harta dan kekuasaan yang mereka banggakan tidak ada artinya… Tidaklah kesombongan itu membuahkan kecuali kebinasaan… Wal ‘iyadzu billaah.
Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com
0 Komentar