Bismillah.

Tidaklah samar bagi para pencari ilmu tentang keutamaan belajar fikih Islam. Fikih dalam makna yang luas yaitu pendalaman ilmu agama secara umum maupun fikih dalam makna khusus yaitu yang berkaitan dengan hukum-hukum amaliah/praktis berdasarkan dalilnya secara terperinci.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan niscaya Allah pahamkan dia dalam hal agama.” (HR. Bukhari dan Muslim). Para ulama hadits menjelaskan bahwa yang dimaksud fikih dalam hadits ini tidak terbatas pada ilmu fikih seperti yang biasa dipahami masyarakat yaitu yang berkaitan dengan sholat, puasa, dsb. Bahkan tercakup di dalamnya fikih/pemahaman tentang pokok-pokok ajaran Islam atau dikenal dengan tauhid dan aqidah.

Oleh sebab itu sebagian ulama terdahulu menyebut ilmu aqidah dengan istilah fikih akbar. Hal itu mengisyaratkan bahwa fikih atau ilmu agama ini bertingkat-tingkat keutamaannya. Ada di sana bagian yang paling pokok -yang biasa dikenal dengan ushul ad-diin/pokok-pokok agama- dan ada pula yang menjadi cabang dan penyempurna -atau yang sering disebut furu’/cabang-cabang agama. Dan itu tidaklah bermakna bahwa bagian cabang itu tidak penting atau boleh diremehkan.

Ketika mengutus Mu’adz bin Jabal untuk berdakwah ke Yaman, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan kepadanya untuk mendahulukan dakwah tauhid sebelum kewajiban-kewajiban yang lainnya. Nabi bersabda, “Hendaklah yang pertama kali kamu serukan kepada mereka adalah supaya mereka itu mentauhidkan Allah…” (HR. Bukhari dan Muslim, ini salah satu lafal Bukhari)

Ini merupakan perintah dari seorang guru dan da’i terbaik kepada muridnya yang juga seorang yang fakih/dalam ilmunya. Oleh sebab itu para ulama mengambil faidah dari hadits ini mengenai manhaj atau metode dalam berdakwah itu adalah dengan memprioritaskan tauhid sebelum yang lainnya. Tauhid laksana pondasi dalam suatu bangunan dan akar dalam sebuah pohon.

Allah berfirman (yang artinya), “Tidakkah kamu melihat bagaimana Allah memberikan suatu perumpamaan tentang suatu kalimat yang baik seperti sebuah pohon yang baik, yang pokoknya kokoh dan cabang-cabangnya menjulang di langit. Ia memberikan buah-buahnya pada setiap muslim dengan izin Rabbnya. Dan Allah memberikan perumpamaan-perumpamaan bagi manusia mudah-mudahan mereka mau mengambil pelajaran.” (Ibrahim : 24-25)

Rabi’ bin Anas rahimahullah menafsirkan bahwa yang dimaksud ‘pokoknya kokoh’ yaitu keikhlasan kepada Allah semata dan beribadah kepada-Nya tanpa mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Beliau juga menafsirkan bahwa yang dimaksud ‘cabang-cabangnya’ adalah berbagai amal kebaikan. Adapun maksud dari ‘ia memberikan buahnya pada setiap muslim’ yaitu amalan-amalannya terangkat naik ke langit pada setiap awal siang dan akhirnya. Kemudian beliau mengataan, “Ada empat amalan yang apabila dipadukan oleh seorang hamba maka fitnah-fitnah tidak akan membahayakan dirinya, keempat hal itu adalah; keikhlasan kepada Allah semata dan beribadah kepada-Nya tanpa tercampuri syirik sedikit pun, rasa takut kepada-Nya, cinta kepada-Nya, dan senantiasa mengingat/berdzikir kepada-Nya.” (lihat ad-Durr al-Mantsur, 8/512) 

Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma menafsirkan bahwa yang dimaksud ‘kalimat yang baik’ adalah syahadat laa ilaha illallah. Adapun yang dimaksud ‘pohon yang baik’ di sini adalah gambaran seorang mukmin. Yang pokoknya kokoh tertanam di dalam hati, yaitu kalimat laa ilaha illallah, dan cabangnya menjulang tinggi di langit maksudnya amal-amalnya terangkat ke langit. Ayat ini memberikan perumpamaan tentang keadaan seorang mukmin yang ucapannya baik dan amalannya juga baik. Perumpamaan seorang mukmin seperti pohon kurma. Senantiasa muncul darinya amal salih pada setiap waktu dan musim, di kala pagi maupun sore (lihat Tafsir al-Qur’an al-Azhim, 4/491)

Para ulama menjelaskan, iman terdiri dari ucapan, perbuatan, dan keyakinan. Iman bertambah dengan ketaatan serta berkurang karena maksiat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Iman itu terdiri dari tujuh puluh lebih cabang, yang paling tinggi adalah ucapan laa ilaha illallah dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu adalah cabang keimanan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Imam Ibnu Abi Zamanin al-Andalusi rahimahullah (wafat 399 H) mengatakan bahwa para ulama ahlus sunnah menyatakan bahwa iman mencakup keikhlasan kepada Allah dari dalam hati, mengucapkan syahadat dengan lisan, dan diamalkan dengan anggota badan disertai niat yang baik dan sesuai dengan sunnah/tuntunan (lihat Ushul as-Sunnah, hal. 143)

Imam Isma’il bin Yahya al-Muzanni rahimahullah (wafat 264 H) dalam risalahnya Syarhus Sunnah menyatakan bahwa iman adalah ucapan dan amalan disertai keyakinan di dalam hati, ucapan dengan lisan dibarengi amalan dengan anggota badan. Kedua hal ini -iman dan amal- adalah dua hal yang berdampingan. Tidak ada iman tanpa amal dan tidak ada amal tanpa iman (lihat Isma’il ibn Yahya al-Muzanni wa Risalatuhu Syarhus Sunnah, hal. 77-78)

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa iman mencakup perkataan hati, perkataan lisan, amalan hati dan amalan anggota badan. Perkataan hati adalah pembenaran dan pengakuannya. Amalan hati adalah kehendaknya, tawakalnya dan semacamnya dari gerak-gerik hati. Perkataan lisan yaitu ucapannya. Adapun amalan anggota badan adalah melakukan -perintah- dan meninggalkan -larangan- (lihat Mudzakkirah ‘alal Aqidah al-Wasithiyah, hal. 72)

Syaikh Shalih bin Abdul Aziz alu Syaikh hafizhahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud amal anggota badan -yang tercakup dalam definisi iman- yaitu melaksanakan perintah dan menjauhi larangan. Amal anggota badan yang dimaksud di sini menurut Ahlus Sunnah adalah jenis amalan (lahiriah) bukan semua amalan (lahiriah). Artinya orang beriman harus ada padanya amal hati, amal lisan, dan amal anggota badan (lihat al-La’aali al-Bahiyyah fi Syarh al-’Aqidah al-Wasithiyah, 2/376) 

Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لا يَسْتَقيمُ إِيمانُ عبدٍ حتَّى يَستَقيمَ قلبُه، ولا يَسْتَقيمُ قلبُه حتَّى يَستَقيمَ لسانُه، ولا يدخُلُ الجنَّةَ رجُلٌ لا يَأْمَنُ جارُه بَوائِقَه

“Tidak akan istiqomah iman seorang hamba sampai istiqomah hatinya, dan tidak akan istiqomah hatinya sampai istiqomah lisannya. Dan tidak akan masuk surga seorang yang tidak bisa merasa aman tetangganya dari gangguannya.” (HR. Ahmad, dinyatakan hasan oleh al-Albani)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إنَّ الرَّجُلَ ليَتكلَّمُ بالكلمة ما يتبيَّنُ ما فيها، يزِلُّ بها في النَّارِ أبعدَ ما بين المشرقِ والمغرب

“Sesungguhnya seorang benar-benar berbicara dengan suatu kalimat yang tidak jelas kandungannya dan ternyata dengan sebab itu dia tergelincir ke dalam jurang neraka lebih jauh daripada jarak timur dan barat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Seorang ulama tabi’in bernama Hasan al-Bashri rahimahullah berpesan :

داو قلبك فإنَّ حاجة الله عز وجل إلى العباد صلاح قلوبهم

“Obatilah hatimu, karena sesungguhnya ‘kebutuhan’ Allah ‘azza wa jalla terhadap para hamba adalah baiknya hati-hati mereka.” (diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunya dalam at-Tawadhu’ wal Khumul)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Sebagaimana Allah subhanahu menjadikan hidupnya badan dengan sebab makanan dan minuman, maka kehidupan hati itu akan terwujud dengan terus-menerus berdzikir, selalu inabah/bertaubat dan taat kepada Allah, dan meninggalkan dosa-dosa.” (lihat al-Majmu’ al-Qayyim min Kalam Ibnil Qayyim, 1/118)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan orang yang mengingat Rabbnya dengan orang yang tidak mengingat Rabbnya adalah seperti perbandingan antara orang yang hidup dengan orang yang sudah mati.” (HR. Bukhari)  

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Dzikir bagi hati laksana air bagi seekor ikan. Lantas apakah yang akan menimpa seekor ikan jika dia memisahkan diri dari air?” (lihat al-Wabil ash-Shayyib min al-Kalim ath-Thayyib oleh Ibnul Qayyim, hal. 71)

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Hal itu (dzikir) adalah ruh dalam amal-amal salih. Apabila suatu amal tidak disertai dzikir maka ia hanya akan menjadi ‘tubuh’ yang tidak memiliki ruh. Wallahu a’lam.” (lihat Madarij as-Salikin [2/441])

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata, “Sesungguhnya dzikir kepada Allah akan menanamkan pohon keimanan di dalam hati, memberikan pasokan gizi dan mempercepat pertumbuhannya. Setiap kali seorang hamba semakin menambah dzikirnya kepada Allah niscaya akan semakin kuat pula imannya.” (lihat at-Taudhih wa al-Bayan li Syajarat al-Iman, hal. 57)

Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Iman yang sejati adalah keimanan orang yang merasa takut kepada Allah ‘azza wa jalla walaupun dia tidak melihat-Nya. Dia berharap terhadap kebaikan yang ditawarkan oleh Allah dan meninggalkan segala yang membuat murka Allah.” (lihat Aqwal at-Tabi’in fi Masa’il at-Tauhid wa al-Iman, hal. 1161)

Abu Sulaiman ad-Darani rahimahullah berkata, “Apabila seorang hamba telah merasa malu kepada Rabbnya ‘azza wa jalla maka sungguh dia telah menyempurnakan imannya.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliya’, hal. 291)

Hasan al-Bashri rahimahullah menjelaskan tentang sifat orang-orang beriman yang disebutkan dalam firman Allah -Surat al-Mu’minun ayat 60- yang memberikan apa yang bisa mereka berikan dalam keadaan hatinya merasa takut. al-Hasan berkata, “Artinya, mereka melakukan segala bentuk amal kebajikan sementara mereka khawatir apabila hal itu belum bisa menyelamatkan mereka dari azab Rabb mereka ‘azza wa jalla.” (lihat Aqwal at-Tabi’in fi Masa’il at-Tauhid wa al-Iman, hal. 1160)

Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang mempersekutukan Allah lalu meninggal dalam keadaan musyrik maka dia termasuk penghuni neraka secara pasti. Sebagaimana barangsiapa yang beriman kepada Allah (baca: bertauhid) dan meninggal dalam keadaan beriman (baca: tidak melakukan pembatal keislaman) maka dia termasuk penghuni surga, walaupun dia harus disiksa -terlebih dulu- di dalam neraka.” (lihat al-Kaba’ir cet. Dar al-‘Aqidah, hal. 11)

Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata, “Sesungguhnya iman -pokok maupun cabang-cabangnya, batin maupun lahirnya- semuanya adalah keadilan, dan lawannya adalah kezaliman. Keadilan tertinggi dan pokok utamanya adalah pengakuan dan pemurnian tauhid kepada Allah, beriman kepada sifat-sifat Allah dan nama-nama-Nya yang terindah, serta mengikhlaskan agama [ketaatan] dan ibadah kepada-Nya. Adapun kezaliman paling zalim dan paling berat yaitu syirik kepada Allah, sebagaimana firman Allah ta’ala (yang artinya), “Sesungguhnya syirik itu benar-benar kezaliman yang sangat besar.” (Luqman: 13).” (lihat Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 63 cet. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah)

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Bukanlah letak kebaikan seorang insan itu ketika dia mengetahui kebenaran tanpa dibarengi kecintaan kepadanya, keinginan, dan kesetiaan untuk mengikutinya. Sebagaimana kebahagiaan tidaklah terletak pada keadaan dirinya yang mengenal Allah dan mengakui apa-apa yang menjadi hak-Nya [ibadah] apabila dia tidak mencintai Allah, beribadah, dan taat kepada-Nya. Bahkan, orang yang paling keras siksanya pada hari kiamat adalah orang berilmu tetapi tidak beramal. Telah dimaklumi bahwa hakikat iman adalah pengakuan/ikrar, bukan semata-mata pembenaran/tashdiq. Di dalam ikrar/pengakuan terkandung ucapan hati [qaul qalbi] yaitu berupa tashdiq/pembenaran dan amalan hati [‘amalul qalbi] berupa inqiyad/kepatuhan.” (lihat Mawa’izh Syaikhil Islam Ibni Taimiyah, oleh Syaikh Shalih Ahmad asy-Syami, hal. 92)

Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com


Redaksi

Redaksi al-mubarok.com dikelola oleh relawan dan pegiat dakwah Masjid Jami' al-Mubarok (MJM) YAPADI Yogyakarta

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *