Bismillah.
Para ulama menjelaskan, iman terdiri dari ucapan, perbuatan, dan keyakinan. Iman bertambah dengan ketaatan serta berkurang karena maksiat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Iman itu terdiri dari tujuh puluh lebih cabang, yang paling tinggi adalah ucapan laa ilaha illallah dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu adalah cabang keimanan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Imam Ibnu Abi Zamanin al-Andalusi rahimahullah (wafat 399 H) mengatakan bahwa para ulama ahlus sunnah menyatakan bahwa iman mencakup keikhlasan kepada Allah dari dalam hati, mengucapkan syahadat dengan lisan, dan diamalkan dengan anggota badan disertai niat yang baik dan sesuai dengan sunnah/tuntunan (lihat Ushul as-Sunnah, hal. 143)
Imam Isma’il bin Yahya al-Muzanni rahimahullah (wafat 264 H) dalam risalahnya Syarhus Sunnah menyatakan bahwa iman adalah ucapan dan amalan disertai keyakinan di dalam hati, ucapan dengan lisan dibarengi amalan dengan anggota badan. Kedua hal ini -iman dan amal- adalah dua hal yang berdampingan. Tidak ada iman tanpa amal dan tidak ada amal tanpa iman (lihat Isma’il ibn Yahya al-Muzanni wa Risalatuhu Syarhus Sunnah, hal. 77-78)
Syaikh Abdul Aziz ar-Rajihi hafizhahullah menyimpulkan bahwa iman dalam pandangan ulama Ahlus Sunnah mencakup empat hal; pembenaran hati, ucapan lisan, amalan hati, dan amal anggota badan (lihat As’ilah wa Ajwibah fil Iman wal Kufr, hal. 12-13)
Imam Sufyan ats-Tsauri rahimahullah (wafat 161 H) berkata, “Iman itu adalah ucapan, amalan, dan niat. Ia bertambah dan berkurang. Bertambah karena ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan. Tidak boleh berucap kecuali harus disertai amal. Tidak boleh berucap dan beramal kecuali harus dilandasi niat. Dan tidak boleh berucap, beramal, dan berniat kecuali apabila sesuai dengan sunnah/tuntunan.” (lihat al-Jami’ fi ‘Aqa’id wa Rasa’il, hal. 113)
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa iman mencakup perkataan hati, perkataan lisan, amalan hati dan amalan anggota badan. Perkataan hati adalah pembenaran dan pengakuannya. Amalan hati adalah kehendaknya, tawakalnya dan semacamnya dari gerak-gerik hati. Perkataan lisan yaitu ucapannya. Adapun amalan anggota badan adalah melakukan -perintah- dan meninggalkan -larangan- (lihat Mudzakkirah ‘alal Aqidah al-Wasithiyah, hal. 72)
Syaikh Shalih bin Abdul Aziz alu Syaikh hafizhahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud amal-amal anggota badan adalah melaksanakan perintah dan menjauhi larangan. Dan amal anggota badan yang dimaksud di sini menurut Ahlus Sunnah adalah jenis amalan (lahiriah) bukan semua amalan (lahiriah), artinya orang yang beriman harus ada padanya amalan hati, amalan lisan, dan amal anggota badan (lihat al-La’aali al-Bahiyyah fi Syarh al-’Aqidah al-Wasithiyah, 2/376)
Kalimat iman yaitu laa ilaha illallah mengandung sikap berlepas diri dari segala bentuk sesembahan selain Allah dan menetapkan bahwa ibadah ditujukan kepada Allah semata. Allah berfirman (yang artinya), “Maka barangsiapa yang kufur kepada thaghut dan beriman kepada Allah, sesungguhnya dia telah berpegang-teguh dengan buhul tali yang paling kuat dan tidak akan terputus…” (al-Baqarah : 256). Yang dimaksud ‘urwatul wustqa’/buhul tali yang paling kuat adalah kalimat laa ilaha illallah, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama tafsir (lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim, 1/684)
Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
لا يَسْتَقيمُ إِيمانُ عبدٍ حتَّى يَستَقيمَ قلبُه، ولا يَسْتَقيمُ قلبُه حتَّى يَستَقيمَ لسانُه، ولا يدخُلُ الجنَّةَ رجُلٌ لا يَأْمَنُ جارُه بَوائِقَه
“Tidak akan istiqomah iman seorang hamba sampai istiqomah hatinya, dan tidak akan istiqomah hatinya sampai istiqomah lisannya. Dan tidak akan masuk surga seorang yang tidak bisa merasa aman tetangganya dari gangguannya.” (HR. Ahmad, dinyatakan hasan oleh al-Albani)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إنَّ الرَّجُلَ ليَتكلَّمُ بالكلمة ما يتبيَّنُ ما فيها، يزِلُّ بها في النَّارِ أبعدَ ما بين المشرقِ والمغرب
“Sesungguhnya seorang benar-benar berbicara dengan suatu kalimat yang tidak jelas kandungannya dan ternyata dengan sebab itu dia tergelincir ke dalam jurang neraka lebih jauh daripada jarak timur dan barat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dari Zaid bin Arqam radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa :
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari hati yang tidak khusyu’.” (HR. Muslim)
Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sering berdoa :
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
“Wahai Dzat Yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Tirmidzi, dinyatakan sahih oleh al-Albani)
Seorang ulama tabi’in bernama Hasan al-Bashri rahimahullah berpesan :
داو قلبك فإنَّ حاجة الله عز وجل إلى العباد صلاح قلوبهم
“Obatilah hatimu, karena sesungguhnya ‘kebutuhan’ Allah ‘azza wa jalla terhadap para hamba adalah baiknya hati-hati mereka.” (diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunya dalam at-Tawadhu’ wal Khumul)
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Sebagaimana Allah subhanahu menjadikan hidupnya badan dengan sebab makanan dan minuman, maka kehidupan hati itu akan terwujud dengan terus-menerus berdzikir, selalu inabah/bertaubat dan taat kepada Allah, dan meninggalkan dosa-dosa.” (lihat al-Majmu’ al-Qayyim min Kalam Ibnil Qayyim, 1/118)
Ibnul Qayyim rahimahullah menuturkan, “Terkadang hati itu sakit dan semakin parah penyakitnya sementara pemiliknya tidak sadar, karena dia sibuk dan berpaling dari mengetahui hakikat kesehatan hati dan sebab-sebab yang bisa mewujudkannya. Bahkan, terkadang hati itu mati sedangkan pemiliknya tidak menyadari. Tanda kematian hati itu adalah tatkala berbagai luka akibat dosa/keburukan tidak lagi menyisakan rasa perih dan pedih di dalam hati. Demikian pula, tatkala kebodohan tentang kebenaran dan ketidaktahuan dirinya tentang akidah-akidah yang batil tidak lagi membuatnya merasa kesakitan. Sebab, hati yang hidup akan merasakan perih apabila ada sesuatu yang jelek dan nista yang merasuki jiwanya, dan ia akan merasa kesakitan akibat tidak mengetahui kebenaran; hal ini akan bisa dirasakan berbanding lurus dengan tingkat kehidupan yang ada di dalam hatinya.” (lihat al-Majmu’ al-Qayyim, 1/131)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan orang yang mengingat Rabbnya dengan orang yang tidak mengingat Rabbnya adalah seperti perbandingan antara orang yang hidup dengan orang yang sudah mati.” (HR. Bukhari)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Dzikir bagi hati laksana air bagi seekor ikan. Lantas apakah yang akan menimpa seekor ikan jika dia memisahkan diri dari air?” (lihat al-Wabil ash-Shayyib min al-Kalim ath-Thayyib oleh Imam Ibnul Qayyim, hal. 71)
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Hal itu [dzikir] adalah ruh dalam amal-amal salih. Apabila suatu amal tidak disertai dengan dzikir maka ia hanya akan menjadi ‘tubuh’ yang tidak memiliki ruh. Wallahu a’lam.” (lihat Madarij as-Salikin [2/441])
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata, “Sesungguhnya dzikir kepada Allah akan menanamkan pohon keimanan di dalam hati, memberikan pasokan gizi dan mempercepat pertumbuhannya. Setiap kali seorang hamba semakin menambah dzikirnya kepada Allah niscaya akan semakin kuat pula imannya.” (lihat at-Taudhih wa al-Bayan li Syajarat al-Iman, hal. 57)
Imam Ibnu Katsir rahimahullah di dalam tafsirnya menyebutkan bahwa diantara ciri orang-orang yang celaka -yaitu orang-orang yang berpaling dan tidak mau memetik pelajaran dari kalam Allah (al-Qur’an)- bahwa mereka itu menyukai permainan seruling, lagu-lagu dengan nada yang mendayu-dayu dan disertai iringan alat-alat musik. Allah berfirman (yang artinya), “Dan diantara manusia ada yang membeli perkataan yang sia-sia…” (Luqman : 6). Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata, “Demi Allah, itu adalah nyanyian.” Termasuk di dalam kategori ‘perkataan yang sia-sia’ itu adalah semua perkataan yang membuat manusia berpaling dari ayat-ayat Allah dan meninggalkan jalan-Nya, sebagaimana tafsiran Imam Ibnu Jarir (lihat Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, 6/330-331)
Imam asy-Syaukani rahimahullah di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa yang dimaksud ‘perkataan yang sia-sia’ itu adalah semua perkataan yang membuat manusia lalai dari kebaikan, baik berupa nyanyian, alat-alat musik, cerita-cerita bohong, dan segala ucapan yang mungkar. Beliau juga menyebutkan tafsiran dari Hasan al-Bashri rahimahullah -seorang ulama tabi’in- bahwa yang termasuk perkataan sia-sia itu adalah nyanyian dan alat-alat musik. Diriwayatkan pula darinya bahwa termasuk dalam perkataan sia-sia itu adalah syirik dan kekafiran. Imam al-Qurthubi rahimahullah mengatakan bahwa pendapat paling utama yang menafsirkan ungkapan tersebut adalah ‘nyanyian’ dan ini merupakan pendapat para sahabat dan tabi’in (lihat Fat-hul Qadir, hal. 1140)
Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan di dalam al-Adab al-Mufrad dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma mengenai maksud dari ayat (yang artinya), “Diantara manusia ada orang-orang yang membeli perkataan yang sia-sia.” (Luqman : 6). Beliau berkata, “Itu adalah nyanyian dan yang sejenis dengannya.” (lihat Syarh Shahih al-Adab al-Mufrad, 3/366)
Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Sesungguhnya nyanyian adalah kesia-siaan yang dibenci dan sesuatu yang menyerupai kebatilan dan mengada-ada. Barangsiapa sering-sering mendengarkan/melantunkan nyanyian maka dia adalah orang yang safih/dungu dan ditolak persaksiannya [di sidang pengadilan, pent].” (lihat Ighotsatul Lahfan, 1/413)
Abdullah putra Imam Ahmad bin Hanbal pernah bertanya kepada ayahnya mengenai nyanyian, beliau rahimahullah menjawab, “Nyanyian menyebabkan tumbuhnya kemunafikan di dalam hati. Aku tidak tertarik padanya.” Kemudian beliau mengutip perkataan Imam Malik, “Yang melakukan hal itu diantara kami hanyalah orang-orang fasik.” (lihat al-Ighotsah, 1/418)
Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com
0 Komentar