Bismillah.
Allah berfirman :
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Orang-orang yang beriman dan hatinya merasa tentram dengan mengingat Allah (berdzikir); ingatlah bahwa dengan mengingat Allah hati itu akan menjadi tentram.” (ar-Ra’d : 28)
Allah juga berfirman :
وَاَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُؤْمِنِيْنَ
“Dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang beriman.” (al-Anfal : 19)
Allah berfirman dalam ayat yang lain :
إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوا وَّالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ
“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang senantiasa berbuat ihsan/kebaikan.” (an-Nahl : 128)
Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan :
أي : معهم بتأييده ونصره ومعونته وهذه معية خاصة
“Artinya; Allah bersama dengan mereka dalam bentuk dukungan, pertolongan dan bantuan-Nya; inilah suatu kebersamaan yang istimewa…” (lihat Tafsir Ibnu Katsir Surat an-Nahl [klik])
Allah berfirman :
هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ
“Dia lah (Allah) yang menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang yang beriman agar semakin bertambah iman mereka setelah iman yang ada sebelumnya…” (al-Fath : 4)
Imam al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan :
السكينة : السكون والطمأنينة
“Yang dimaksud as-sakinah -dalam ayat itu- adalah ketenangan dan ketentraman…” (lihat Tafsir al-Qurthubi Surat al-Fath [klik])
Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan :
وقد استدل بها البخاري وغيره من الأئمة على تفاضل الإيمان في القلوب
“Imam Bukhari dan yang lainnya -dari para ulama- berdalil dengan ayat ini untuk menunjukkan bahwasanya iman di dalam hati itu berbeda-beda tingkat keutamaannya….” (lihat Tafsir Ibnu Katsir Surat al-Fath [klik])
Imam al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan tentang ketenangan hati yang dirasakan oleh orang-orang yang beriman di dalam tafsir surat ar-Ra’d ayat 28 di atas :
وتطمئن قلوبهم بذكر الله أي تسكن وتستأنس بتوحيد الله فتطمئن
“Dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah maksudnya hatinya tenang dan merasa nyaman dengan mentauhidkan Allah sehingga ia pun merasakan ketentraman…” (lihat Tafsir al-Qurthubi [klik])
Di dalam ayat yang lain dalam surat al-Anfal Allah menyatakan bahwa orang beriman apabila disebut nama Allah hatinya merasa takut. Sementara dalam surat ar-Ra’d ini dikatakan bahwa hati orang beriman merasakan ketenangan ketika mengingat Allah. Sebagian ulama menjelaskan bahwa ketika disebutkan ancaman dan hukuman -di dalam ayat al-Qur’an- maka hatinya menjadi takut, sedangkan di saat disebutkan janji dan pahala maka hati orang-orang beriman itu pun merasakan ketenangan (lihat Tafsir al-Baghawi Surat ar-Ra’d [klik])
Tidaklah diragukan bahwa dzikir kepada Allah merupakan sebab kehidupan hati dan ketenangan jiwa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan orang yang mengingat Rabbnya dengan orang yang tidak mengingat Rabbnya seperti perumpamaan orang hidup dengan orang mati.” (HR. Bukhari)
Firman Allah (yang artinya), “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri imannya dengan kezaliman (syirik); mereka itulah yang akan mendapatkan keamanan dan mereka itulah yang diberikan petunjuk.” (al-An’am : 82). Tauhid yang bersih dari syirik merupakan sebab utama untuk meraih keamanan dan hidayah. Yang dimaksud keamanan adalah ketenangan hati dan terbebas dari cekaman rasa takut. Adapun yang dimaksud mendapatkan hidayah artinya mereka itu akan diberi taufik untuk meniti jalan yang lurus dan tegar di atasnya (lihat al-Mulakhash fi Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 24 karya Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah)
Yang dimaksud ‘orang-orang beriman’ di sini adalah mereka yang bertauhid dan memurnikan ibadahnya untuk Allah semata. Selain itu mereka juga membersihkan dirinya dari syirik. Keamanan yang akan diperoleh itu mencakup keamanan secara mutlak; yaitu tidak diazab sama sekali, atau bisa juga bermakna keamanan pada akhirnya; yaitu seandainya mereka diazab maka pada akhirnya mereka akan masuk surga dengan tauhidnya. Hal ini menunjukkan betapa besar keutamaan tauhid dan bahaya syirik; karena pelaku syirik tidak akan mendapatkan keamanan kecuali apabila dia bertaubat dan memurnikan tauhidnya (lihat I’anatul Mustafid, 1/77-80)
Dari sini kita bisa memetik pelajaran bahwa barangsiapa yang tidak menjauhi syirik maka dia tidak akan mendapatkan keamanan dan hidayah secara keseluruhan. Dan barangsiapa yang selamat dari syirik niscaya dia akan memperoleh keamanan dan hidayah sekadar dengan tingkat keimanan dan keislamannya. Keamanan dan hidayah yang sempurna tidak akan diperoleh kecuali bagi orang yang datang kepada Allah dalam keadaan bersih dari dosa besar. Adapun apabila orang yang bertauhid itu masih membawa dosa-dosa sebelum matinya maka dia akan mendapatkan keamanan dan hidayah sekadar dengan tingkatan tauhidnya, dan itu artinya dia juga akan kehilangan sebagian dari keamanan dan hidayah sekadar dengan maksiatnya (lihat Qurratu ‘Uyun al-Muwahidin, hal. 10 karya Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah)
Semakin orang terbebas dari perilaku kezaliman maka semakin sempurna pula keamanan dan hidayah yang akan dia peroleh. Semakin sempurna tauhid dan semakin sedikit kezaliman yang dilakukan seorang hamba maka semakin besar pula keamanan dan hidayah yang akan diberikan kepadanya. Sebaliknya, apabila kezaliman yang dia lakukan semakin besar maka semakin kecil pula kadar keamanan dan hidayah yang akan dia dapatkan (lihat at-Tamhid li Syarhi Kitabit Tauhid, hal. 25 karya Syaikh Shalih alu Syaikh hafizhahullah)
Dari sana lah kita bisa memahami bahwa iman, tauhid, ikhlas, dzikir dan keadilan merupakan sebab-sebab utama untuk meraih ketenangan dan keselamatan hamba. Sebaliknya; kekafiran, syirik, kelalaian/maksiat dan kezaliman adalah sebab datangnya berbagai jenis ancaman dan rasa takut serta kegalauan. Wallahul musta’aan.
Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com
0 Komentar