Doa Seorang Nenek

Bismillah.

Beberapa waktu silam, kalau tidak salah ingat Ramadhan tahun lalu atau dua tahun yang lalu. Seorang nenek tampak rajin sekali mendatangi masjid di kampung kami. Beliau berusaha untuk bisa datang lebih awal sebelum ashar dan pulang setelah tarawih.

Di usianya yang sudah renta, Allah masih berikan taufik kepada beliau untuk hadir ke masjid dan beribadah kepada Allah. Kalimat yang pernah beliau ucapkan dan masih terngiang di telinga, “Simbah iki lagi golek sangu mati…” artinya, “Nenek sekarang ini sedang mencari bekal untuk kematian.”

Allah pun menakdirkan sang nenek meninggal beberapa waktu lalu, innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Semoga Allah mengampuninya dan merahmatinya. Kini giliran kita untuk menunggu jadwal dicabutnya nyawa dari tubuh kita. Apa yang membuat kita lalai dan terlena?!

Mungkin orang menganggap tindakan sang nenek yang begitu semangat ke masjid suatu hal yang terkesan mengganggu alias merepotkan. Akan tetapi kita perlu melihat sisi lain dimana sang nenek ternyata memiliki sebuah amalan yang tidak kami kira bahwa itu merupakan sebuah sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mungkin sudah banyak ditinggalkan orang.

Ya, sempat beberapa kali kami dapati sang nenek beristirahat sementara lisannya berdzikir kepada Allah dan mengulang-ulang sebuah doa yang berbunyi ‘laa ilaha illa anta, subhanaka inni kuntu minazh zhalimin’ yang artinya, “Tidak ada sesembahan yang benar selain Engkau, mahasuci Diri-Mu, sesungguhnya aku termasuk orang yang berbuat zalim.” Aduhai, pada awalnya kami mengira bahwa ini adalah bacaan dzikir biasa yang sering diucapkan sebagian jama’ah.

Akan tetapi seiring berjalannya waktu, Allah berikan taufik kepada kami untuk kembali membuka kitab Minhaj al-Firqah an-Najiyah karya Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu rahmahullah. Ternyata di dalam buku ini disebutkan bahwa bacaan itu adalah doa Nabi Yunus ‘alaihis salam -atau Dzun Nun- ketika beliau berada di dalam perut ikan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Doa Dzun Nun; ketika dia berdoa dengannya di dalam perut ikan ‘laa ilaha illa anta, subhanaka inni kuntu minazh zhalimin’, tidaklah seorang muslim berdoa dengannya pada suatu keadaan kecuali Allah pasti akan kabulkan doanya.” (hadits ini disahikan al-Hakim dan disepakati adz-Dzahabi) (lihat Minhaj al-Firqah an-Najiyah cet ke-18, hlm. 25)

Di dalam kitab Hishnul Muslim juga disebutkan bahwa doa ini termasuk salah satu bacaan yang dianjurkan untuk dibaca ketika seorang tertimpa musibah berat (lihat dalam terjemahnya yang berjudul ‘Doa & Dzikir Siang Malam’, penerbit Maktabah al-Hanif, hlm. 157-158)

Syaikh Sa’id al-Qahthani hafizhahullah dalam ta’liq/catatan kakinya terhadap bacaan doa di atas menyebutkan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Tirmidzi, Ahmad, al-Hakim dan beliau menyatakan ia sahih dan disepakati oleh adz-Dzahabi, dan beberapa ulama hadits yang lain juga meriwayatkannya. Beliau juga menuturkan bahwa hadits ini dinyatakan hasan oleh para pen-tahqiq kitab Musnad Ahmad, al-Albani menyatakan hadits ini sahih dalam Shahih Targhib wa Tarhib dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir (lihat karya beliau It-haf al-Muslim bi Syarh Hishnil Muslim, hlm. 783)

Salah satu rahasia keutamaan doa ini adalah karena di dalamnya disebutkan kalimat laa ilaha illallah; yaitu kalimat tauhid; dzikir yang paling utama. Di dalamnya juga terkandung sikap bersandarnya hati kepada Allah semata dan tawakal kepada-Nya dalam menghadapi segala urusan dan permasalahan. Sehingga seorang insan tidak layak untuk bersandar kepada selain Allah, bahkan meskipun kepada kemampuan dirinya sendiri.

Oleh sebab itu salah satu bacaan doa pagi-sore yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk kita baca ‘Yaa Hayyu Yaa Qayyumu birahmatika astaghitsu, ashlih lii sya’ni kullah wa laa takilnii ila nafsi tharfata ‘ainin’ yang artinya, “Wahai Dzat yang Maha hidup, Wahai Yang mahamenegakkan segala sesuatu, dengan Rahmat-Mu aku memohon pertolongan dan keselamatan, perbaikilah keadaanku semuanya, dan janganlah Engkau sandarkan aku kepada diriku walaupun sekejap mata.” (HR. al-Hakim dan disahihkan olehnya dan disepakati oleh adz-Dzahabi) (lihat dalam ‘Doa & Dzikir Siang Malam’ hlm. 119-120)

Faidah lainnya yang bisa kita ambil dari doa Dzun Nun di atas adalah bahwa setiap kita hendaklah mengakui dan meyakini bahwa kita ini penuh dengan dosa dan kesalahan. Sehingga Nabi Yunus ‘alaihis salam pun diberi taufik oleh Allah ketika terjebak di dalam perut ikan untuk membaca doa ini yang di dalamnya terkandung pengakuan ‘sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berbuat kezaliman’. Sebuah pengakuan yang lahir dari perasaan merendah dan tunduk kepada Allah. Sebuah pengakuan yang muncul dari menelaah aib pada diri dan amalan hamba. Dari situlah muncul salah satu poros ibadah yaitu puncak perendahan diri dan ketundukan.   

Apabila seorang nabi yang mulia seperti Nabi Yunus ‘alaihis salam saja mengakui bahwa dirinya termasuk orang yang melakukan kezaliman, lantas bagaimana lagi dengan orang seperti manusia-manusia zaman now (baca: masa kini) yang kerapkali terjungkal, terseret dan terpelanting dalam jurang dosa dan maksiat dari segala sisi?! Siapakah kita dibandingkan mereka para nabi dan rasul serta pemuka kaum yang beriman dan bertakwa?

Kami pun teringat ucapan Imam Syafi’i dan Ibnul Mubarok rahimahumallah yang mengatakan, “Aku mencintai orang-orang salih, sementara aku bukan termasuk golongan mereka. Dan aku membenci orang-orang jahat sementara aku merasa diriku lebih buruk daripada keadaan mereka.”

Inilah manhaj (cara beragama) kaum salaf (baca : pendahulu yang salih)! Sebagaimana yang dipaparkan oleh Imam Bukhari rahimahullah dalam Sahihnya ketika beliau membuat sebuah bab dalam Kitabul Iman dengan judul ‘rasa takut seorang mukmin akan terhapusnya amalannya sementara dia tidak sadar’.

Sebagaimana ucapan Imam Hasan al-Bashri rahimahullah, “Seorang mukmin memadukan dalam dirinya antara berbuat baik dan merasa khawatir, sedangkan orang kafir memadukan dalam dirinya antara berbuat buruk dengan perasan aman-aman saja.” 

Ibnu Abi Mulaikah rahimahullah -seorang ulama tabi’in- mengatakan, “Aku telah berjumpa dengan tiga puluh sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam; mereka semuanya merasa takut dirinya tertimpa kemunafikan. Tidak ada seorang pun diantara mereka yang mengatakan bahwa imannya sejajar dengan imannya Jibril dan Mika’il.”

Senada dengan hal itu, Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah -dalam ceramahnya- juga memberikan nasihat kepada kita untuk tidak tertipu oleh amal-amal kita. Jangan kita merasa aman dari fitnah. Jangan kita merasa diri pasti aman dari penyimpangan. Betapa banyak orang beriman yang kemudian tergelincir dan jatuh dalam kesesatan dalam keadaan tidak sadar. Jangan seorang merasa aman dari makar Allah, walaupun dia adalah orang yang istiqomah dan paling salih sekalipun!

Inilah sekelumit faidah yang kami petik dari sang nenek melalui untaian doa yang beliau ucapkan di saat-saat yang penuh berkah di bulan Ramadhan itu. Doa Dzun Nun ‘laa ilaha illa anta, subhanaka inni kuntu minazh zhalimin’. Semoga Allah mengampuni sang nenek, merahmatinya, menempatkannya di dalam surga yang penuh kenikmatan, dan memberikan taufik kepada kita, begitu pula anak keturunan dan tetangga-tetangganya untuk menjadi hamba yang bertauhid kepada Allah dan mengikuti sunnah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga ajal tiba.

Laa haula wa laa quwwata illaa billaah…

Yogyakarta, Sya’ban 1439 H

Penyusun : Redaksi al-mubarok.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.