Bismillah.
Allah berfirman :
وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ
“Dan sesungguhnya yang Kami perintahkan ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan yang lain; sebab ia akan mencerai-berikan kalian dari jalan-Nya…” (al-An’am : 153)
Ayat yang agung ini berisi perintah untuk bersatu di atas agama Allah dan tidak berpecah-belah. Perpecahan itu adalah dampak dari menyimpang dari jalan yang lurus; akibat tunduk kepada bid’ah dan syubhat-syubhat.
Abdullah bin Abbas radhiyallahu’anhuma menjelaskan :
أمر الله المؤمنين بالجماعة، ونهاهم عن الاختلاف والفرقة, وأخبرهم أنه إنما هلك مَنْ كان قبلهم بالمراء والخصومات في دين الله .
“Allah memerintahkan kepada kaum beriman untuk berpegang-teguh dengan al-jama’ah/persatuan dan melarang mereka dari perselisihan dan perpecahan. Allah pun memberitakan kepada mereka bahwa orang-orang sebelum mereka menjadi binasa/celaka akibat gemar berdebat dan bertikai dalam agama Alah.” (disebutkan oleh Imam Ibnu Jarir ath-Thabari dalam tafsirnya terhadap surat al-An’am [klik])
Oleh sebab itu para ulama memberikan nasihat agar menjaga persatuan di atas Sunnah dan menjauhi pendapat serta pemikiran-pemikiran yang nyleneh/menyimpang. Imam ad-Darimi rahimahullah berkata :
الَّذِي يُرِيدُ الشُّذُوذَ عَنِ الْحَقِّ ، يَتَّبِعُ الشَّاذَّ مِنَ قَوْلِ الْعُلَمَاءِ ، وَيَتَعَلَّقُ بِزَلَّاتِهِمْ ، وَالَّذِي يَؤُمُّ الْحَقَّ فِي نَفْسِهِ يَتَّبِعُ الْمَشْهُورَ مِنْ قَوْلِ جَمَاعَتِهِمْ ، وَيَنْقَلِبُ مَعَ جُمْهُورِهِمْ
“Orang yang menghendaki untuk melenceng dari kebenaran maka dia suka mengikuti pendapat-pendapat yang aneh/ganjil dari perkataan ulama dan bersandar pada ketergelinciran mereka. Sementara orang yang menjadikan kebenaran sebagai pemandu atas dirinya maka dia akan condong mengikuti pendapat yang masyhur dari ucapan jama’ah para ulama dan kembali bersama mayoritasnya.” (dikutip dari Fawa’id Mukhtasharah oleh Syaikh Abdurrazzaq al-Badr dalam situs resmi beliau [klik])
Allah berfirman :
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا
“Dan berpegang-teguhlah kalian dengan tali Allah secara bersama-sama, dan janganlah kalian berpecah-celah.” (Ali ‘Imran : 103)
Para ulama memiliki pendapat yang saling melengkapi dalam memahami maksud ayat tersebut. Diantaranya, Ibnu ‘Abbas menafsirkan ‘Berpegang-teguhlah dengan agama Allah’. Ibnu Mas’ud mengatakan ‘Yang dimaksud tali Allah adalah al-jama’ah/persatuan kaum muslimin’. Mujahid dan ‘Atha’ mengatakan ‘Yang dimaksud adalah perjanjian dengan Allah’. Qatadah dan as-Suddi menafsirkan, ‘Maksudnya adalah al-Qur’an’. Muqatil bin Hayan mengatakan, ‘Yang dimaksud adalah perintah Allah dan ketaatan kepada-Nya’ (lihat Tafsir al-Baghawi, hal. 229)
Imam Abu Bakr bin Abi Dawud rahimahullah (wafat 316 H) dalam Manzhumah-nya berkata, “Berpegang-teguhlah dengan tali Allah dan ikutilah petunjuk. Dan janganlah kamu menjadi pelaku kebid’ahan mudah-mudahan kamu beruntung.” Yang dimaksud ‘tali Allah’ adalah al-Qur’an dan as-Sunnah. Dengan kata lain, tali Allah adalah wahyu yang Allah turunkan kepada rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam (lihat Syarh Manzhumah Haa-iyah, hal. 47 oleh Syaikh Shalih al-Fauzan)
as-Suyuthi rahimahullah menyebutkan penafsiran dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu mengenai ‘tali Allah’ -sebagaimana diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur, Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Jarir, Ibnul Mundzir dan ath-Thabarani- bahwa Ibnu Mas’ud mengatakan, “Tali Allah adalah al-Qur’an.” (lihat ad-Durr al-Mantsur fit Tafsir bil Ma’tsur, 3/709)
Memegang teguh al-Qur’an mewajibkan kita untuk memegang teguh as-Sunnah atau hadits. Karena ia merupakan penjelas dan penegas apa-apa yang telah dijelaskan di dalam al-Qur’an. Bahkan di dalam hadits juga terkandung tambahan keterangan hukum-hukum yang tidak dirinci di dalam al-Qur’an. Dari sinilah kita mengetahui letak keutamaan para ulama ahli hadits pembela sunnah. Imam Sufyan ats-Tsauri rahimahullah mengatakan, “Para malaikat adalah penjaga-penjaga langit sedangkan ashabul hadits adalah penjaga-penjaga bumi.” (lihat dalam Fiqh al-Jama’ah karya Syaikh Dr. Hamd bin Ibrahim al-’Utsman, hal. 195)
Inilah yang diwasiatkan oleh ulama terdahulu semacam Imam Abu Amr al-Auza’i rahimahullah (wafat 157 H) seorang ulama tabi’ut tabi’in. Beliau mengatakan, “Wajib atasmu untuk mengikuti jejak-jejak para ulama terdahulu, meskipun orang-orang menolakmu. Dan hati-hatilah kamu dari pendapat tokoh-tokoh, meskipun mereka menghiasinya dengan ucapan-ucapan yang indah.” Yang dimaksud mengikuti jejak pendahulu di sini adalah mengikuti jalan para sahabat dan pengikut setia mereka; karena jalan mereka itu dibangun di atas al-Kitab dan as-Sunnah (lihat keterangan Syaikh al-Utsaimin dalam Syarh Lum’atil I’tiqad, hal. 44)
Tidak akan terwujud persatuan umat kecuali dengan berpegang-teguh pada akidah yang benar yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam serta meninggalkan akidah yang rusak, bid’ah dan khurafat. Berpegang-teguh dengan al-Kitab dan as-Sunnah (lihat Nashihatun wa Ta’shiilun fi Zamanil Fitan, hal. 11)
Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com
0 Komentar