Bismillah.
Seperti biasanya, hari itu kami ikut serta hadir dalam sholat di masjid di dekat Wisma. Alhamdulillah jarak masjid ini dengan wisma tidak jauh, kalau berjalan kaki mungkin sekitar 5 menit saja.
Kemarin malam setelah sholat Maghrib ada seorang bapak yang sudah sering kami temui di masjid itu menyapa kami lalu terjadi sedikit obrolan. Masya Allah, beliau ternyata cukup perhatian dengan jama’ah yang hadir di masjid ini. Beliau adalah seorang Kepala Dukuh yang sudah pensiun dari kampung sebelah. Alhamdulillah beliau aktif sholat berjama’ah di masjid dan juga sering adzan dan iqomah di situ. Semoga Allah menjaga beliau dan memberkahi umurnya.
Pada saat obrolan singkat itu beliau bertanya kepada kami mengenai kegiatan kami membantu pengelolaan sebuah masjid amanah para donatur di atas bukit yang tidak jauh dari kampung itu. Beliau sangat antusias untuk mengetahui kegiatan kebaikan yang digerakkan oleh teman-teman pengurus masjid tersebut.
Di akhir pertemuan singkat itu pun beliau mendoakan, “Mugo langgeng yo, mas.” artinya kurang lebih, “Semoga Allah berikan keistiqomahan dan abadi ya mas…”
Masya Allah… Doa ringkas yang sarat makna. Doa yang mengalir dari ketulusan insya Allah. Di umur beliau yang sudah tidak lagi muda, beliau masih bersemangat untuk memakmurkan masjid dengan sholat jama’ah. Selain beliau, ada lagi seorang kakek/simbah yang lebih tua dari beliau yang rajin berjama’ah di masjid ini. Beliau sering hadir awal di masjid sebelum jama’ah yang lain hadir. Beliau juga rajin mengerjakan sholat sunnah tahiyatul masjid dan sholat-sholat sunnah rawatib.
Sebagian orang mungkin akan mengatakan bahwa hal semacam itu biasa alias tidak istimewa, karena mereka kan sudah tua jadi wajar saja kalau aktif beribadah dan sholat di masjid. Padahal aktifnya mereka ke masjid tentu bukan sekedar karena sudah faktor usia yang sepuh, sebab pada kenyataannya banyak orang tua lain yang juga jarang atau bahkan tidak pernah hadir sholat di masjid pada sholat 5 waktu padahal tidak ada udzurnya.
Masjid ini sebenarnya tidak jauh dari kampus Islam dan area kos mahasiswa. Meskipun demikian anak-anak muda atau mahasiswa yang rajin sholat berjama’ah di sini relatif sedikit. Bisa jadi mereka sholat di masjid yang lain yang tidak jauh juga jaraknya dari situ. Akan tetapi terkadang kita jumpai ada sebagian mahasiswa yang pada waktu sholat masih saja ngobrol atau nongkrong di warung padahal waktu sholat sudah tiba dan adzan pun sudah berkumandang dari banyak masjid di sekitarnya. Jadi, ini layak untuk kita perbaiki bersama.
Anak muda dan mahasiswa semestinya punya semangat yang lebih besar untuk memakmurkan masjid karena pada umumnya mereka diberikan kesehatan yang lebih prima dan waktu luang yang lebih banyak daripada orang-orang tua yang sudah sibuk dengan pekerjaan dan tugas sebagai kepala rumah tangga.
Peristiwa bersama bapak-bapak dan simbah-simbah di masjid itu kembali mengingatkan kita tentang salah satu diantara golongan yang akan diberi naungan oleh Allah pada hari kiamat, yaitu “Seorang lelaki yang hatinya bergantung di masjid.” (HR. Bukhari dan Muslim). Adapun fenomena yang banyak menimpa anak muda masa kini yang kurang perhatian dengan sholat berjama’ah di masjid akan lebih melecut kita agar bisa mendidik dan membersamai mereka supaya bisa termasuk golongan pemuda yang kelak diberi naungan oleh Allah pada hari kiamat, yaitu “Seorang pemuda yang tumbuh dalam ketaatan beribadah kepada Rabbnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Sudah saatnya kita makmurkan masjid di sekitar kita. Hal itu merupakan bentuk ketaatan kita kepada Allah dan sekaligus ungkapan syukur kepada-Nya atas nikmat masjid dan tempat ibadah yang tersedia.
Penyusun : Redaksi www.al-mubarok.com
0 Komentar